PYONGYANG, UNHAS.TV - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan negaranya siap menghadapi konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS) sekaligus memperkuat program senjata nuklir, di tengah diadakannya parade militer besar-besaran di ibukota Pyongyang.
Pernyataan itu, dikutip dari Reuters, disampaikan saat menutup Kongres Kesembilan Partai Buruh Korea yang berlangsung pekan ini, Jumat (27/2/2026), sekaligus menjadi sinyal kuat kebijakan pertahanan Pyongyang selama lima tahun ke depan.
Parade yang digelar pada Rabu malam di alun-alun Kim Il-sung Square menampilkan sekitar 14.000 tentara dan atraksi udara dari jet tempur.
Namun berbeda dari parade besar sebelumnya, tidak ada pameran sistem persenjataan strategis seperti rudal balistik antarbenua (ICBM) yang biasa dipajang dalam parade besar Negeri itu.
Analisis militer mengatakan tampilan yang relatif minimal itu mungkin merupakan upaya mengirim pesan kuat kepada komunitas internasional tanpa secara eksplisit memprovokasi Washington.
Dalam pidatonya, Kim menegaskan bahwa Pyongyang akan terus melanjutkan ekspansi nuklir dan pengembangan alat operasional senjata strategis.
Dia menyebutkan negara itu akan meningkatkan jumlah senjata nuklir serta kapabilitas operasionalnya, termasuk pengembangan sistem peluncuran bawah laut dan rudal jarak jauh lainnya.
Pernyataan itu sekaligus mengukuhkan posisi Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir di panggung internasional.
“Hubungan masa depan dengan AS sepenuhnya tergantung pada sikap Washington,” kata Kim, menurut laporan media pemerintah Korea Utara KCNA.

Presiden Korea Utara Kim Jong-un saat berbicara di Sidang Pleno dari Komite Sentral ke-9 Partai Buruh. (the sun/afp)
Ia menuntut agar AS menghormati status nuklir negaranya dan menghentikan kebijakan yang dianggap permusuhan terhadap Pyongyang sebelum dialog lebih lanjut dapat terjadi.
Pernyataan keras itu muncul di tengah sorotan global atas kebijakan keamanan di Semenanjung Korea.
Korea Utara sengaja menegaskan tidak akan memperbaiki hubungan dengan Korea Selatan, yang disebutnya sebagai “entitas paling bermusuhan,” sekaligus menolak tuntutan denuklirisasi yang selama ini menjadi syarat dialog dengan AS.
Pakar keamanan regional menilai langkah Kim itu sebagai strategi untuk menciptakan “deterrence” alias pencegah serangan eksternal terhadap Pyongyang.
Dengan menunjukkan kesiapan menghadapi konfrontasi dan memperkuat persenjataan, termasuk alat nuklir, rezim Korea Utara berharap pihak luar, terutama AS, tidak mengambil langkah serupa yang pernah dilakukan terhadap rezim lain yang bersikap tidak kooperatif.
Hadir Putrinya Kim Ju Ae
Parade tersebut juga menjadi momen langka dalam keterlibatan publik keluarga pemimpin Korea Utara. Kim Ju Ae, putri Kim Jong Un yang diyakini berusia sekitar 13–14 tahun, tampil bersama ayahnya di sejumlah sesi acara.
Kemunculan Ju Ae selama beberapa pekan terakhir telah memicu spekulasi bahwa dia sedang diproyeksikan untuk memegang posisi penting di masa depan rezim.
Panggung militer ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. AS dan Korea Selatan telah mengumumkan latihan militer bersama berjadwal pada awal Maret 2026 mendatang.

Kim Ju Ae dan ayahnya Presiden Korea Utara Kim Jong Un. (the sun/afp)
Latihan militer itu, disebut kedua negara sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman potensial dari Korut. Namun Pyongyang mengecam latihan ini sebagai bentuk provokasi dan ancaman terhadap kedaulatannya.
Sementara itu, Gedung Putih di AS menyatakan tetap membuka peluang dialog tanpa prasyarat dengan Korea Utara. Pernyataan itu muncul setelah sinyal dari Pyongyang yang menunjukkan kemungkinan pembicaraan baru, meski dengan syarat pengakuan atas posisi nuklir negara itu.
Ketegangan ini menegaskan kembali dinamika geopolitik yang kompleks di Semenanjung Korea, di mana upaya diplomasi sering dibayangi oleh perhitungan militer dan ambisi strategis negara-negara besar.
Bagi Pyongyang, parade militer dan pidato Kim Jong Un bukan sekadar ritual simbolik, melainkan pesan tegas bahwa rezim tersebut siap mempertahankan statusnya, baik lewat konfrontasi maupun dialog bersyarat. (*)
UNJUK KEKUATAN - Parade besar-besaran dari tentara Korea Utara di ibu kota Pyongyang sebagai unjuk kekuatan. (the sun/reuters)


-300x197.webp)




-300x196.webp)
