GOWA, UNHAS.TV - Pengembangan teknologi konstruksi jembatan terus menjadi perhatian mahasiswa dalam menghadirkan rancangan infrastruktur yang kuat, efisien, dan memperhatikan aspek keberlanjutan.
Berbagai gagasan tersebut ditampilkan dalam Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI Tingkat Nasional 2026 yang diselenggarakan di Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa.
Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mengembangkan rancangan jembatan dengan pendekatan berbeda, mulai dari inovasi sistem struktur, penggunaan material ramah lingkungan, hingga penerapan energi terbarukan dan unsur budaya lokal.
Salah satu inovasi dihadirkan oleh tim Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang mengikuti kategori Jembatan Model Pelengkung.
Tim tersebut mengembangkan mekanisme pengencangan hanger atau batang penggantung yang dapat dilakukan dari dua arah, yakni bagian atas dan bawah struktur jembatan.
Peserta dari mahasiswa PNJ, Muhammad Aviv Dwifebbrian menjelaskan bahwa mekanisme tersebut dirancang untuk menjaga ketinggian struktur jembatan agar tetap berada dalam batas toleransi dimensi yang ditetapkan dalam perlombaan.

Muhammad Aviv Dwifebbrian - Politeknik Negeri Jakarta tampil dalam Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI Tingkat Nasional 2026 di Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa, 18–22 Oktober 2026.(Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
“Inovasi yang kami tawarkan adalah mekanisme pengencangan hanger dari atas dan bawah secara dua arah. Tujuannya untuk menjaga ketinggian struktur agar tetap sesuai dengan batas toleransi dimensi yang ditetapkan dalam perlombaan,” jelas Aviv.
Melalui mekanisme tersebut, penyesuaian struktur dapat dilakukan dari dua arah. Aviv menyebutkan bahwa dalam pemeriksaan dimensi, ketinggian struktur jembatan timnya berada pada angka 50 sentimeter dan masih memenuhi ketentuan perlombaan.
Selain memperhatikan ketepatan dimensi, tim PNJ juga melakukan pengujian terhadap lendutan, yakni perubahan posisi atau bentuk struktur ketika menerima beban. Aviv mengungkapkan bahwa hasil pengujian lendutan timnya tidak jauh berbeda dengan sejumlah peserta lainnya.
Ia berharap tim PNJ dapat memperoleh hasil terbaik dalam kompetisi tersebut. Aviv juga berharap penyelenggaraan KJI pada masa mendatang dapat mendorong lahirnya lebih banyak inovasi dan pengembangan desain jembatan dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi.
Pendekatan berbeda ditawarkan oleh tim Universitas Sebelas Maret (UNS) yang turut mengikuti kategori Jembatan Model Pelengkung.
Tim ini menitikberatkan pengembangan rancangannya pada aspek keberlanjutan lingkungan dan efisiensi pemeliharaan infrastruktur.
Salah satu inovasi yang diusung adalah penggunaan cat ramah lingkungan yang dirancang memiliki kemampuan memperbaiki lapisannya secara mandiri.
Pengembangan tersebut ditujukan untuk mengurangi kebutuhan perawatan berulang yang berpotensi meningkatkan biaya pemeliharaan jembatan.
Inovasi Papan Pelapis
Peserta mahasiswa UNS, Muhammad Athariq, menjelaskan bahwa inovasi bahan pelapis tersebut merupakan bagian dari upaya timnya menghadirkan rancangan jembatan yang dapat digunakan dalam jangka panjang dengan kebutuhan pemeliharaan yang lebih efisien.

Muhammad Athariq Universitas Sebelas Maret tampil dalam Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI Tingkat Nasional 2026 di Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa, 18–22 Oktober 2026.(Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
“Inovasi kami antara lain penggunaan cat ramah lingkungan yang dapat beregenerasi secara mandiri tanpa memerlukan pemeliharaan berkelanjutan yang membutuhkan biaya besar,” ujarnya.
Menurut Athariq, pengembangan konstruksi jembatan tidak hanya perlu memperhatikan kekuatan struktur, tetapi juga mempertimbangkan umur penggunaan dan manfaat infrastruktur bagi masyarakat.
Ia menilai bahwa rancangan jembatan yang memperhatikan keberlanjutan dapat mendukung kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Athariq pun berharap inovasi yang dihasilkan mahasiswa melalui KJI 2026 dapat dikembangkan lebih lanjut dan dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Selain inovasi struktur dan material, unsur budaya lokal turut menjadi perhatian dalam rancangan jembatan yang dikembangkan tim Universitas Hasanuddin.
Berkompetisi pada kategori Jembatan Model Pelengkung, tim Unhas menghadirkan desain yang mengadopsi ornamen khas Toraja dan Luwu sebagai elemen estetika konstruksi.
Rancangan tersebut juga dilengkapi panel surya untuk mendukung kebutuhan penerangan serta mengusung penggunaan material rendah karbon.

Andi Taufiqurrahman Rusydi Anshari-Teknik Universitas Hasanuddin. (Unhas TV/Mustika)
Peserta dari mahasiswa Teknik Unhas, Andi Taufiqurrahman Rusydi Anshari, menjelaskan bahwa pemanfaatan panel surya merupakan salah satu pendekatan timnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan listrik konvensional.
Sementara itu, penerapan ornamen budaya lokal dimaksudkan untuk menghadirkan identitas khas Sulawesi Selatan pada desain jembatan.
Tim Unhas juga berupaya mengoptimalkan penggunaan material agar konstruksi yang dikembangkan lebih efisien tanpa mengabaikan kebutuhan struktur.
Di balik pengembangan rancangan tersebut, tim Unhas menghadapi tantangan pada tahap fabrikasi atau pembuatan komponen jembatan. Keterbatasan akses terhadap fasilitas produksi menjadi salah satu kendala dalam merealisasikan desain yang telah disiapkan.
Andi mengungkapkan bahwa peserta yang berada di Pulau Jawa dinilainya memiliki akses terhadap fasilitas fabrikasi yang lebih lengkap. Sementara itu, tim Unhas harus mencari tempat produksi di sejumlah lokasi hingga mendatangkan komponen tertentu dari Pulau Jawa.
“Tantangan terbesar kami dalam kompetisi ini adalah proses fabrikasi. Peserta di Pulau Jawa mungkin memiliki akses terhadap fasilitas yang lebih lengkap, sedangkan kami di Sulawesi harus mendatangkan beberapa komponen dari Pulau Jawa atau mencari tempat fabrikasi di berbagai lokasi,” ungkapnya.
Meski menghadapi kendala tersebut, Andi berharap tim Universitas Hasanuddin mampu meraih juara umum dalam KJI 2026. Ia juga berharap mahasiswa angkatan berikutnya dapat melanjutkan keikutsertaan dalam kompetisi serupa dan kembali mengukir prestasi bagi universitas.
Melalui KJI XXI 2026, berbagai rancangan yang ditampilkan mahasiswa memperlihatkan pengembangan konstruksi jembatan dari sejumlah aspek, mulai dari ketepatan struktur, efisiensi pemeliharaan, hingga pemanfaatan energi terbarukan dan identitas budaya lokal.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya peserta menghadirkan pendekatan baru dalam perancangan infrastruktur jembatan.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI Tingkat Nasional 2026 dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) ke-17 yang diselenggarakan di Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa, 18–22 Oktober 2026. Ajang nasional ini mempertemukan 34 tim finalis dari 18 perguruan tinggi di Fakultas Teknik Unhas Gowa. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)








