Mahasiswa

Mahasiswa Kehutanan Unhas Paparkan Proposal Magang MKPK di TN Bantimurung-Bulusaraung

mahasiswa Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin memaparkan proposal magang di Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, April 2026 lalu.

MAKASSAR, UNHAS.TV - Enam mahasiswa Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin memaparkan proposal magang di Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, April 2026 lalu.

Presentasi ini menjadi bagian dari Mata Kuliah Penguatan Kompetensi atau MKPK yang akan dikonversi ke dalam 20 satuan kredit semester.

Tim mahasiswa tersebut diketuai oleh Amira Mufidah. Presentasi dilakukan untuk menjelaskan rencana kerja selama magang, memperoleh arahan dari dosen pembimbing, serta mematangkan kesiapan pelaksanaan kegiatan di kawasan konservasi tersebut.

Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan sejumlah program kerja utama. Salah satunya pembuatan peta transect walk wisata melalui survei dan pemetaan lokasi.

Program ini disiapkan untuk membantu penyediaan informasi lapangan dan mendukung pengelolaan jalur wisata di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Mahasiswa juga akan terlibat dalam pengelolaan tiket dan data pengunjung. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung pencatatan jumlah kunjungan, pola kedatangan wisatawan, serta penyediaan bahan evaluasi bagi pengelola kawasan.

Selain itu, tim magang merancang kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan melalui penanaman serta pendataan vegetasi. Program ini diarahkan untuk memperkuat fungsi ekologis kawasan dan memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam praktik pemulihan ekosistem.

Program lain yang disampaikan meliputi monitoring aktivitas kawasan, pelayanan informasi ekowisata, serta pendataan fasilitas dan jumlah pengunjung. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi pengelolaan kawasan wisata alam.

Di luar kegiatan utama, mahasiswa juga merancang edukasi pemasaran bagi pelaku usaha di sekitar kawasan. Mereka akan melakukan inventarisasi hutan, hasil hutan bukan kayu atau HHBK, cadangan karbon, serta monitoring keanekaragaman hayati.

Kegiatan pendukung turut masuk dalam rencana kerja. Di antaranya administrasi perkantoran, pembuatan media edukasi berupa poster, konten kreatif, dan kartu lingkungan, serta pelatihan lapangan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi.

Ketua tim, Amira Mufidah, mengatakan kegiatan magang ini menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik lapangan.

“Kami akan berusaha memberikan yang terbaik dalam melaksanakan seluruh program kerja yang telah direncanakan selama kegiatan magang berlangsung, serta memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan berkontribusi secara nyata di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung,” kata Amira.

Melalui presentasi tersebut, mahasiswa memperoleh sejumlah masukan untuk penyempurnaan program kerja.

Masukan ini diharapkan membuat pelaksanaan magang berjalan lebih optimal, sekaligus meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang kehutanan, baik secara teoritis maupun praktis. (*)