BANTAENG, UNHAS.TV - Suasana Kantor Desa Rappoa, Kecamatan Pa'jukukang, Kabupaten Bantaeng mendadak riuh oleh antusiasme warga. Puluhan pasang mata —mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga pelaku UMKM setempat— tampak fokus menyimak pemaparan ide-ide segar dari para pemuda yang siap mengabdi di desa mereka.
Hari itu, 9 Juli 2026, mahasiswa KKN Tematik 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) dan KKN 77 Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar Seminar Program Kerja yang menandai babak baru kolaborasi pembangunan di Desa Rappoa. Bukan sekadar program normatif, rangkaian rancangan yang ditawarkan membawa misi besar: modernisasi desa berbasis digital dan kemandirian potensi lokal.
Salah satu terobosan yang paling memantik perhatian adalah program pendampingan ekonomi digital oleh Arief Hidayat (Ilmu Pemerintahan Unhas). Para pelaku UMKM pesisir akan dituntun untuk menerapkan sistem pembayaran nontunai menggunakan QRIS serta mendaftarkan titik usaha mereka di Google Maps. Langkah taktis ini disambut gembira oleh warga.
"Jujur saja, selama ini kami berjualan secara konvensional. Lewat program QRIS dan Google Maps dari adik-adik mahasiswa, kami merasa seperti dituntun naik kelas. Dagangan kami nanti tidak hanya dicari oleh warga sini, tapi juga bisa ditemukan oleh orang dari luar Bantaeng," ujar salah satu perwakilan pelaku UMKM Desa Rappoa yang hadir.
Dari sudut tata kelola administrasi, masalah data yang kerap menjadi kendala di tingkat desa dijawab oleh Fadhl Khair Al Hakim R (Statistika Unhas) melalui program pembaruan database master "Sapa Warga" dan papan rekapitulasi data modern.
Pemerintah Desa Rappoa pun memberikan apresiasi luar biasa terhadap program ini. Kepala Desa Rappoa dalam sambutannya menegaskan betapa pentingnya akurasi data untuk penyaluran bantuan dan kebijakan ke depan.
"Pemerintah desa sangat terbantu. Keputusan yang baik itu lahir dari data yang akurat. Apa yang dirancang oleh mahasiswa KKN ini adalah fondasi penting agar pelayanan publik di Rappoa bisa berjalan lebih transparan, cepat, dan modern," ungkap Kepala Desa Rappoa di tengah-tengah sesi diskusi.
Sebagai desa yang memiliki garis pantai dan komoditas unggulan, sektor maritim disentuh lewat edukasi budidaya rumput laut ramah lingkungan oleh Rani Putri Ayu Ningsih (Budidaya Perairan), pembuatan peta wilayah digital berbasis SIG oleh Rosita Queen Yones (Ilmu Kelautan), serta gerakan "Pesisir Tanpa Sampah" di SD Negeri 41 Rappoa oleh Anniza Fitri Lailatul Shaleha (Ilmu Kelautan).
Sementara untuk para peternak yang sering kali pusing saat musim kemarau tiba, Ainur Aizura (Peternakan) menawarkan solusi konkret lewat pembuatan silase pakan fermentasi yang tahan lama dan bernutrisi tinggi.
Sinergi ini semakin lengkap dengan hadirnya 20 mahasiswa KKN Tematik UMI yang mengambil peran penting dalam penguatan sosial-keagamaan masyarakat. Mulai dari mengajar mengaji di TPA, menginisiasi lomba keagamaan untuk anak-anak, hingga pembuatan video profil desa untuk mempromosikan pesona Rappoa ke jagat maya.
Koordinator KKN UMI Desa Rappoa menyampaikan komitmen penuh mereka untuk berbaur dan membawa manfaat nyata selama masa pengabdian. "Kami datang bukan untuk menggurui, melainkan untuk berjalan beriringan bersama masyarakat Desa Rappoa. Kami ingin memadukan antara kemajuan teknologi digital dengan kekuatan spiritualitas dan gotong royong yang sudah mengakar kuat di desa ini," tegasnya disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Seminar yang berlangsung dinamis dengan sesi diskusi dua arah ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk menyukseskan seluruh program kerja. Selama beberapa pekan ke depan, wajah Desa Rappoa dipastikan akan dipenuhi oleh aktivitas produktif para mahasiswa dan warga yang siap bergerak bersama menuju desa yang cerdas, mandiri, dan berkelanjutan.(*)
KKN - Mahasiswa KKN Unhas dan UMI bekerja sama dalam program modernisasi desa berbasis digital di Desa Rappoa, Kabupaten Bantaeng. Foto: KKN Unhas








