Pendidikan

Unhas Diproyeksikan Jadi Episentrum Transformasi Layanan Kesehatan Primer Indonesia Timur

Peserta seminar berkomitmen memperkuat layanan kesehatan primer berbasis bukti demi Indonesia Timur lebih sehat. (Foto: Dok. Pribadi) Peserta seminar berkomitmen memperkuat layanan kesehatan primer berbasis bukti demi Indonesia Timur lebih sehat. (Foto: Dok. Pribadi)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Transformasi pelayanan kesehatan primer Indonesia memasuki babak baru ketika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin menjadi panggung strategis bagi pertemuan pemerintah, akademisi, dan praktisi kesehatan untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis bukti yang diproyeksikan menjadi fondasi pembangunan kesehatan nasional melalui Seminar dan Diseminasi Praktik Baik Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) yang digelar di Makassar, Rabu (25/6).

Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, Elvieda Sariwati, menegaskan bahwa percepatan transformasi layanan primer merupakan salah satu prioritas utama dalam enam pilar Transformasi Kesehatan Indonesia yang sedang dijalankan pemerintah.

Ia menjelaskan bahwa Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) dirancang untuk menghadirkan pelayanan yang terkoordinasi, terintegrasi, dan berkesinambungan sepanjang siklus kehidupan masyarakat, mulai dari individu, keluarga, hingga komunitas.

FKM Unhas dan Kementerian Kesehatan memperkuat transformasi layanan primer berbasis bukti menuju Indonesia Timur lebih sehat. (Foto: Dok. Pribadi)
FKM Unhas dan Kementerian Kesehatan memperkuat transformasi layanan primer berbasis bukti menuju Indonesia Timur lebih sehat. (Foto: Dok. Pribadi).


Dalam kerangka transformasi tersebut, Puskesmas ditempatkan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan primer yang menjalankan fungsi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Menurut Elvieda, pendekatan tersebut selaras dengan semangat Bandung Plan yang diwariskan Prof. Johannes Leimena, yang sejak awal menempatkan pelayanan kesehatan dasar sebagai fondasi pembangunan kesehatan nasional sekaligus melahirkan konsep Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan Indonesia.

Ia menilai keberhasilan implementasi ILP tidak cukup hanya bergantung pada kebijakan pemerintah pusat, melainkan juga membutuhkan ekosistem daerah yang kuat melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

"Universitas Hasanuddin memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi mitra utama Kementerian Kesehatan dalam implementasi, riset, dan evaluasi ILP, tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi juga bagi kawasan timur Indonesia," tegas Elvieda.

Unhas Menjadi Motor Penggerak Transformasi Kesehatan Berbasis Bukti

Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan Universitas Hasanuddin sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi, riset, serta praktik terbaik dalam memperkuat pelayanan kesehatan primer berbasis bukti di Indonesia Timur.

Prof. Sukri Palutturi menyerahkan cenderamata memperkuat kolaborasi transformasi layanan kesehatan primer berbasis bukti nasional. (Foto: Dok. Pribadi)
Prof. Sukri Palutturi menyerahkan cenderamata memperkuat kolaborasi transformasi layanan kesehatan primer berbasis bukti nasional. (Foto: Dok. Pribadi).


Dekan sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, Ph.D. (L), menilai transformasi pelayanan kesehatan primer tidak mungkin berhasil apabila hanya dibebankan kepada sektor kesehatan semata.

Ia menegaskan bahwa perilaku masyarakat, kondisi lingkungan, serta faktor sosial dan ekonomi merupakan determinan kesehatan yang mengharuskan lahirnya kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.

"Orientasi layanan primer harus dekat dengan masyarakat dan berkolaborasi lintas sektor, sehingga kita dapat membuktikan bahwa kehadiran layanan primer mampu menekan dan menurunkan berbagai permasalahan kesehatan di masyarakat," ujar Prof. Sukri.

Semangat kolaborasi tersebut kemudian diperkuat melalui peran PHC Consortium yang mempertemukan pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, dan para pakar dalam satu ekosistem kerja bersama untuk mendukung transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

Seminar FKM Unhas membahas penguatan layanan kesehatan primer berbasis bukti untuk Indonesia Timur. (Foto: Dok. Pribadi).
Seminar FKM Unhas membahas penguatan layanan kesehatan primer berbasis bukti untuk Indonesia Timur. (Foto: Dok. Pribadi).


Koordinator Sekretariat PHC Consortium, Wahyu Manggala Putra, mengungkapkan bahwa selama ini banyak lembaga bekerja pada isu yang serupa, tetapi belum memiliki ruang kolaborasi yang efektif untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat dampak program.

"Di sinilah fokus PHC Consortium, yaitu menghadirkan ruang kolaborasi agar berbagai pihak dapat bekerja bersama untuk memperkuat transformasi pelayanan kesehatan primer," jelas Wahyu.

Leimena Conference 2026 Disiapkan Menjadi Panggung Inovasi Kesehatan Nasional

Momentum seminar tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan Leimena Conference 2026 sebagai forum ilmiah nasional pertama yang secara khusus berfokus pada pelayanan kesehatan primer berbasis bukti.

Konferensi tersebut dirancang sebagai wadah diseminasi hasil riset, praktik baik, inovasi pelayanan, serta penguatan jejaring akademik dan profesional yang diharapkan mampu mempercepat transformasi sistem kesehatan Indonesia.

Seminar memperkuat layanan kesehatan primer berbasis bukti menuju transformasi kesehatan Indonesia Timur lebih tangguh. (Ilustrasi: ChatGPT)
Seminar memperkuat layanan kesehatan primer berbasis bukti menuju transformasi kesehatan Indonesia Timur lebih tangguh. (Ilustrasi: ChatGPT).


Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kapasitas akademik, Sekretariat PHC Consortium juga menyediakan tiga beasiswa bagi dosen, mahasiswa aktif, tenaga kesehatan, dan alumni Universitas Hasanuddin yang berhasil mengirimkan abstrak terbaik untuk dipresentasikan pada Leimena Conference 2026.

Seminar ini diikuti jajaran Wakil Dekan, Dewan Guru Besar, akademisi, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, serta lebih dari 200 peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan kabupaten dan kota serta Puskesmas di berbagai wilayah Sulawesi Selatan yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan sejumlah pakar nasional, di antaranya Trihono selaku Koordinator PHC Consortium, Samkani dari Tim Kerja Integrasi Layanan Primer Kementerian Kesehatan, perwakilan Puskesmas Maros Baru, serta Guru Besar Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Deni Kurniadi Sunjaya, yang memberikan pemaparan secara daring.(*)