MAKASSAR, UNHAS.TV - Krisis air bersih masih membayangi sejumlah wilayah di Kota Makassar. Di kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Kecamatan Tamalanrea, warga harus menghadapi keterbatasan pasokan air yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 26 September 2026, fenomena El Niño masih berlangsung dan berdampak terhadap pola curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026-2027 mengalami kemunduran pada 529 zona musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia dibandingkan rata-rata klimatologinya.
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara sebagian besar wilayah Sulawesi diperkirakan memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Di tengah kondisi tersebut, warga BTP harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Thamo, salah seorang warga BTP Makassar, mengatakan aliran air dari Perusahaan Air Minum (PAM) tidak lagi berjalan normal selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Thamo, warga BTP mengaku kekurangan air dan mengandalkan air galon. (Unhas TV / Venny Septiani)
“Sudah sangat memprihatinkan. PAM mengalir mulai April itu pada jam tiga subuh. Kami harus menunggu kalau masih sempat mendapatkan air. Akhir-akhir ini sejak dua bulan terakhir sudah tidak ada air sama sekali,” ujar Thamo.
Menurut dia, keluhan warga kepada pihak PAM juga belum memberikan solusi karena keterbatasan sumber air. Sumur rumah yang sebelumnya menjadi cadangan air pun kini ikut mengering.
“Kurang lebih dua bulan ini sumur saya di rumah sudah tidak ada airnya. Ini otomatis menambah biaya pengeluaran karena harus membeli air galon,” katanya.
Krisis air tersebut membuat aktivitas rumah tangga warga ikut terganggu. Kebutuhan dasar seperti mandi, memasak, hingga mencuci pakaian kini harus disesuaikan dengan jumlah air yang tersedia.
Thamo mengatakan, sebelumnya satu galon air hanya digunakan untuk kebutuhan memasak dan minum. Namun, sejak pasokan air berkurang, kebutuhan meningkat hingga tiga sampai lima galon setiap hari untuk berbagai aktivitas rumah tangga.
“Galon biasanya satu hari itu untuk masak dan minum. Tapi setelah sumber air sangat berkurang, bisa tiga sampai lima galon per hari untuk mandi. Belum untuk cuci pakaian,” ujarnya.
Keterbatasan air juga membuat warga tidak dapat menggunakan mesin cuci seperti biasanya. Penggunaan air galon untuk mencuci pakaian dinilai tidak efisien karena membutuhkan jumlah air yang lebih besar dan tenaga tambahan.
Untuk menghemat penggunaan air, warga mulai mengurangi aktivitas yang membutuhkan banyak air. Salah satunya dengan membatasi frekuensi mandi.
“Hanya penghematan saja yang kami lakukan. Kadang mandinya satu kali sehari,” kata Thamo.
Warga khawatir kondisi ini akan semakin memburuk apabila musim hujan belum segera datang. Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menghadirkan solusi sementara, seperti distribusi air bersih menggunakan tangki ke kawasan terdampak.
Menurut Thamo, kebutuhan air bersih tidak hanya dirasakan satu rumah, tetapi hampir seluruh kawasan perumahan di BTP.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah. Misalnya bantuan air dari PAM yang disalurkan melalui tangki-tangki air ke rumah-rumah. Ini bukan hanya rumah saya, tetapi hampir satu kompleks perumahan di BTP,” ujarnya.
Hingga kini, warga masih mengandalkan pembelian air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil menunggu perubahan kondisi cuaca dan langkah penanganan dari pihak terkait.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
AIR BERSIH - Petugas BPBD Makassar tengah menyalurkan air bersih di area krisis di wilayah Perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar, September 2026. Warga mengaku saat ini mengandalkan air galon untuk memenuhi kebutuhan air bersih. (Dok BPBD Makassar)

-300x169.webp)






