Karir
Mahasiswa
Pendidikan

Kuliah S3 Hanya 2 Tahun, Heryanto Jadi Lulusan Terbaik Doktoral Unhas dengan 48 Publikasi Ilmiah

LULUSAN TERBAIK - Dr Heryanto SSi MSi terpilih sebagai Wisudawan Terbaik Universitas Tingkat Doktoral dengan lama studi 2 tahun dan menghasilkan 48 artikel ilmiah. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Nama Dr Heryanto SSi MSi mencuri perhatian dalam wisuda Universitas Hasanuddin periode April 2026 hari Kedua, Kamis (2/4/2026).

Dosen muda Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unhas itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik tingkat universitas untuk jenjang doktoral setelah menuntaskan studi S3 hanya dalam waktu 2 tahun 1 bulan.

Bukan itu saja. Selama menempuh pendidikan doktor, Heryanto terlibat dalam 48 publikasi ilmiah, sebagian di antaranya terbit di jurnal bereputasi internasional.

Capaian Heryanto menonjol karena datang dari kombinasi yang tidak ringan. Di satu sisi, ia menempuh studi doktoral dengan tempo yang sangat cepat. Di sisi lain, ia tetap menjalankan peran sebagai dosen yang aktif mengajar dan membimbing mahasiswa.

Dalam iklim akademik yang kerap tersendat oleh beban administratif dan ritme riset yang tidak selalu stabil, capaian itu menempatkannya sebagai salah satu figur akademik muda yang patut diperhitungkan.

Bidang yang ia tekuni adalah fisika dengan fokus pada komputasi material. Ini bukan bidang yang memberi ruang besar untuk kerja serampangan.

Risetnya menuntut konsistensi, presisi, serta kemampuan membaca perkembangan ilmu yang cepat berubah. Namun Heryanto mengatakan tantangan terbesar bukan terletak pada materi keilmuan, melainkan pada pengelolaan waktu.

“Kalau pengalaman saya memang suka fisika jadi kalau tantangan tidak ada, cuma dalam hal ini karena saya juga mengajar, ada membimbing mahasiswa, itu yang perlu punya manajemen waktu saja,” kata Heryanto di sela wisuda di Baruga A.P. Pettarani Unhas.

Desain Akademik dari Promotor 

Kecepatan studinya, menurut dia, juga bukan hasil perencanaan pribadi yang disusun sejak awal. Ia justru menyebut keberhasilan itu merupakan desain akademik dari promotornya, Prof. Dahlang Tahir, yang memberi target ketat dan pendampingan intensif selama proses riset dan publikasi.

Dalam sepekan, kata dia, sang promotor bisa beberapa kali mengingatkan tenggat penyelesaian artikel ilmiah dan jadwal submit artikel.

“Saya menjalani studi doktoral selama 2 tahun 1 bulan, tidak direncanakan sama sekali tapi ini didesain oleh promotor saya sendiri, Prof Dahlang Tahir,” ujar Heryanto.

Menurut dia, pola pendampingan dari promotor yang disiplin itu menjadi faktor utama yang menjaga ritme kerjanya tetap tinggi.

Selama studi, Heryanto bersama tim menghasilkan total 48 artikel ilmiah. Dari jumlah itu, enam artikel ditulis sebagai first author dan menjadi syarat utama penyelesaian studi doktoral.

Selebihnya terbit dalam berbagai peran akademik, termasuk sebagai corresponding author yang ia jalankan sebagai bagian dari tanggung jawab pembimbingan.

Sebagian publikasi lain lahir dari kolaborasi internasional dengan peneliti dari Maroko, Arab Saudi, dan Yordania.

Bagi Heryanto, produktivitas publikasi tidak cukup dibaca sebagai soal angka. Ia melihat menulis artikel ilmiah sebagai bagian dari budaya akademik yang harus diperkuat, terutama di kalangan dosen muda.

Menurut dia, publikasi bukan sekadar kewajiban administratif untuk naik jenjang atau menyelesaikan studi, melainkan proses belajar yang menentukan arah kemajuan ilmu dan teknologi.

“Terkait dengan artikel atau tulisan yang terbit di jurnal, kami memang menargetkan itu lebih dari 40 paper bersama tim,” katanya.

Ia berharap Unhas makin serius menguatkan budaya publikasi internasional agar dosen-dosen muda memiliki sejarah penelitian yang jelas dan terarah.

Heryanto baru empat tahun mengabdi sebagai dosen di FMIPA Unhas. Dua tahun pertama ia jalani untuk mengajar, sementara dua tahun berikutnya dipakai untuk menyelesaikan studi doktoral.

Jejak itu membuat prestasinya terasa lebih padat dengan usia pengabdian yang relatif singkat, masa studi yang cepat, dan produktivitas riset yang tinggi. Kombinasi yang sempurna.

Di tengah wisuda yang biasanya dipenuhi angka lulusan dan seremoni akademik, capaian Heryanto memberi narasi lain. Bahkan bisa disebut mengejutkan.

Ia menunjukkan bahwa percepatan studi tidak identik dengan penurunan mutu, selama dibangun dengan disiplin riset, desain pembimbingan yang kuat, dan budaya menulis yang serius.

Bagi Unhas, sosok seperti ini jelas lebih dari sekadar wisudawan terbaik. Ia adalah etalase tentang seperti apa standar akademik yang ingin dituju kampus itu ke depan.

(Venny Septiani Semuel/ Unhas TV)