.webp)
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang juga Ketua Umum IKA Fakultas Hukum Unhas memberikan Kuliah Umum di Aula Prof Bahauddin Lopa, FH Unhas, Kamis (21/5/2026). Munafri berbagi kisah perjuangan dari penyiar radio hingga menjadi wali kota Makassar. (Dok Humas Pemkot)
Dalam kesempatan tersebut, Munafri juga menceritakan perjalanan politiknya yang penuh kegagalan sebelum akhirnya memenangkan Pilkada Makassar 2024.
Ia mengaku menjadi salah satu figur yang tiga kali mengikuti pilkada hanya dalam rentang enam tahun.
"Tahun 2018 saya maju sebagai calon Wali Kota Makassar. Lawannya kotak kosong, dan saya kalah oleh kotak kosong," ungkapnya disambut riuh peserta kuliah umum.
"Selama tujuh bulan saya tidak pernah ke warung kopi. Bukan karena kalahnya, tapi malunya. Setiap ada orang berbisik saya merasa dibicarakan sebagai orang yang kalah dari kotak kosong," kenangnya.
Namun Appi memilih bangkit dan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran. Pada Pilkada 2020, ia kembali maju bersama Rahman Bando di tengah pandemi COVID-19.
Saat itu kampanye dibatasi dan sebagian besar dilakukan secara virtual. "Tahun 2020 saya kalah lagi," ujarnya.
Meski kembali gagal, Appi tidak berhenti. Ia kembali maju pada Pilkada 2024 bersama Aliyah Mustika Ilham dan akhirnya memenangkan kontestasi dengan perolehan sekitar 54 persen suara.
"Tidak ada perjuangan yang dilakukan sampai tuntas yang berakhir sia-sia. Berjuanglah sampai tuntas untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan," pesannya kepada mahasiswa.
Dia mengatakan, keberhasilan meraih jabatan Wali Kota Makassar merupakan bagian dari mimpi yang diperjuangkannya selama bertahun-tahun.
"Kalau kita mendapatkan mimpi kita, kita tidak akan pernah lelah menjalaninya karena yang kita dapat adalah mimpi terbaik kita," ucap Appi.
Selain membahas politik, Appi juga menceritakan masa mudanya yang penuh keterbatasan ekonomi. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana yang sangat disiplin.
Ia masuk Fakultas Hukum, orang tua cuma membayar satu semester. Setelah itu sampai selesai saya bayar sendiri sambil bekerja sebagai penyiar radio.
Alumni FH Unhas itu, juga mengaku sempat kesulitan berbahasa Inggris saat bekerja di dunia sepak bola profesional.
Pengalaman itu kemudian membawanya dipercaya menjadi pimpinan perusahaan hingga perwakilan kehormatan Republik Kroasia di Indonesia.
"Kita harus punya tujuan hidup atau goals dan tahu bagaimana cara mencapainya. Kalau malas, kesempatan itu akan hilang," jelasnya.
"Tapi kalau mau belajar dan bekerja keras, kesempatan akan datang," sambung Ketua Golkar Makassar itu.
Dalam kuliah umum itu, Appi juga mengingatkan pentingnya membangun relasi selama masa kuliah. Dia turut membagikan pengalamannya saat dipercaya memimpin PSM Makassar pada 2016 di tengah kondisi klub yang terpuruk dan terkena dampak sanksi FIFA.
Appi mengaku melakukan perubahan besar-besaran mulai dari struktur manajemen, pelatih, hingga pemain asing.
Perubahan itu perlahan membuahkan hasil. PSM mulai bangkit hingga mencatat rekor tanpa kekalahan dan akhirnya meraih prestasi nasional. "Tahun 2019 setelah 19 tahun tanpa trofi, PSM akhirnya juara Piala Indonesia," bebernya.
Menutup kuliah umumnya, Appi mengajak mahasiswa Fakultas Hukum Unhas menjadi motor penggerak lahirnya kebijakan publik yang cerdas, berkeadilan, dan berpihak kepada masyarakat.
"Mari jadikan Fakultas Hukum Unhas sebagai motor penggerak lahirnya kebijakan publik yang cerdas, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat," pungkasnya. (*)
 Kota Mak (1)-300x175.webp)







