UNHAS.TV - Menjelang petang, Jalan Perintis Kemerdekaan VII, Makassar, pelan-pelan berubah wajah. Orang-orang menepi, melambat, lalu berhenti di depan lapak-lapak takjil. Mereka mencari satu hal yang sama, minuman segar untuk membatalkan puasa.
Di antara deretan penjual itu, lapak Aneka Jus Buah milik Harto tampak sibuk sejak pukul 16.00 Wita. Gelas-gelas plastik berjajar di meja. Buah-buahan, sirup, santan, cincau, dan es batu tersusun dalam wadah-wadah bening.
Dari tangan Harto, satu demi satu pesanan bergerak cepat. Ada es buah, jus buah, es dawet, es teler, hingga es pisang ijo yang disajikan selama Ramadan.
“Ini ada es buah, jus buah, pisang ijo, jeruk, cendol, es teler,” kata Harto, menyebut menu dagangannya dengan singkat, seolah daftar itu sudah akrab di telinga para pelanggan tetapnya.
Nama kedainya sederhana, sama seperti jualannya, Aneka Jus Buah. Namun justru dari kesederhanaan itu lapak ini bertahan.
Harto mengatakan ia sudah berjualan selama lima tahun terakhir. Di luar Ramadan pun lapaknya tetap buka. Hanya, suasananya tak seramai sekarang. Ramadan bagi Harto adalah berkah.
Selama bulan puasa, denyut jualan terasa berbeda. Orang-orang yang melintas bukan sekadar mampir, melainkan datang dengan tujuan yang pasti.
Yakni membawa pulang pelepas dahaga untuk berbuka. Harto mengakui ada perubahan pendapatan pada bulan ini. “Lebih ramai Ramadan,” ujarnya.

Harto pemilik Lapak Aneka Jus Buah. (Unhas TV/Achmad Ghiffary)
Keramaian itu tidak datang tanpa alasan. Selain pilihan minuman yang beragam, harga di lapak ini terbilang ramah di kantong. Es dawet dan es pisang ijo dijual Rp 5 ribu per porsi.
Es buah dibanderol Rp 6 ribu, sedangkan es teler Rp 10 ribu. Di tengah harga kebutuhan yang terus menekan, angka-angka itu menjadi semacam kabar baik bagi pemburu takjil.
Di luar Ramadan, Harto biasanya hanya menjual es buah, jus buah, dan manisan. Ada satu menu yang absen ketika bulan puasa berlalu: es pisang ijo.
Minuman dan kudapan khas itu justru menjadi salah satu andalan selama Ramadan, ketika orang cenderung mencari takjil yang tak hanya manis, tapi juga mengenyangkan.
Lapak kecil ini, dengan meja sederhana dan pilihan menu yang tak muluk-muluk, diam-diam memainkan peran penting di sore hari warga sekitar.
Ia bukan sekadar tempat membeli minuman. Ia menjadi bagian dari kebiasaan Ramadan, singgah sebentar, memilih yang dingin dan manis, lalu pulang untuk menunggu azan.
Di kota Makassar yang semua bergerak cepat, suasana seperti ini selalu punya tempat. Ketika matahari turun pelan dan haus ditahan sejak pagi, segelas es buah atau semangkuk es pisang ijo bukan lagi cuma dagangan.
(Venny Septiani Semuel / Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
LAPAK HARTO - Lapak Aneka Jus Buah milik Harto menjadi salah satu tempat favorit pemburu takjil Ramadan di Jl Perintis Kemerdekaan VII, Makassar, Jumat (13/3/2026). (Unhas TV/Venny Septiani)



-300x240.webp)




