MAKASSAR, UNHAS.TV - Dua alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) meraih gelar sarjana tanpa menyusun skripsi konvensional melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Pengalaman pengabdian masyarakat di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, menjadi bagian dari tugas akhir yang mereka tempuh sebelum diwisuda pada Periode Oktober 2026, Selasa (27/10/2026).
Keduanya adalah Nur Halisya SKep, alumni Fakultas Keperawatan Unhas dan Andi Alif Raihan Analta, SIPol, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas.
Keduanya terlibat dalam program pengabdian yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik sekaligus menghasilkan kajian berdasarkan persoalan nyata di masyarakat.
Program tersebut dijalankan melalui tim UKM KPI Unhas dengan nama SIPATOKKONG. Kegiatan ini berfokus pada pemulihan desa wisata di Kabupaten Soppeng yang terdampak bencana pada akhir 2024.
Pelaksanaannya melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, sehingga membutuhkan koordinasi lintas disiplin serta pendekatan langsung kepada masyarakat.
Bagi Nur Halisya, pengabdian tersebut menjadi pengalaman akademik yang menuntut waktu, tenaga, dan kemampuan bekerja sama. Persiapan program dimulai sejak awal 2025, termasuk observasi lapangan untuk memahami kondisi masyarakat dan kebutuhan wilayah sasaran.
“Tantangan pasti ada mengingat ini adalah program pengabdian yang mana kami laksanakan jika diakumulasi kurang lebih satu tahun,” kata Nur Halisya.
Ia menilai pengalaman tersebut layak dikonversi menjadi tugas akhir karena prosesnya mencakup kegiatan yang tidak kalah kompleks dibandingkan penyusunan skripsi.
Mahasiswa harus mengaplikasikan ilmu, membangun hubungan dengan masyarakat, serta bekerja bersama anggota tim yang memiliki latar belakang keilmuan berbeda.
Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kekompakan tim. Proses membangun kedekatan antarmahasiswa lintas fakultas menjadi salah satu tantangan yang harus diselesaikan selama kegiatan berlangsung.
Desa Menjadi Laboratorium Penelitian
Pengalaman serupa dialami Andi Alif Raihan Analta melalui keterlibatannya di Desa Mattabulu. Alumni Ilmu Politik tersebut menjadikan dinamika pemerintahan desa dan kolaborasi antarpemangku kepentingan sebagai bahan kajian untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
Ia meneliti proses collaborative governance, yakni tata kelola kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program.
Pengalaman lapangan memberinya kesempatan mengamati langsung bagaimana kolaborasi terbentuk, dijalankan, dan dipengaruhi oleh desain kelembagaan desa.
“Dinamika dari collaborative governance di Desa Mattabulu menjadi laboratorium sosial saya yang bisa mengantarkan saya untuk menyelesaikan tugas akhir,” ujar Andi Alif.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut kemudian didiseminasikan melalui PPK Ormawa. Pengamatan terhadap tahapan pembentukan kolaborasi, proses kerja bersama, dan desain kelembagaan menjadi bahan penting untuk mengembangkan tulisan ilmiahnya.
Andi Alif menerangkan, pengalaman lapangan memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas.
Ia dapat menghubungkan konsep akademik dengan praktik tata kelola pemerintahan desa, sekaligus memahami persoalan yang muncul ketika berbagai pihak berupaya mencapai tujuan bersama.
Kedua alumni tersebut memperlihatkan bagaimana pengabdian masyarakat dapat menjadi jalur pembelajaran dan penyelesaian tugas akhir, sepanjang memenuhi ketentuan akademik yang berlaku.
Melalui skema konversi, aktivitas kemahasiswaan tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi juga menghasilkan pengalaman dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Bagi Unhas, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa menerapkan ilmu pengetahuan di luar kampus.
Pengalaman Nur Halisya dan Andi Alif menunjukkan bahwa keterlibatan langsung dalam persoalan masyarakat dapat memperkaya proses akademik sekaligus membuka alternatif penyelesaian studi.
Namun, keberhasilan skema ini tetap bergantung pada mutu pelaksanaan program, kedalaman analisis, serta kesesuaian hasil kegiatan dengan persyaratan akademik.
Dengan demikian, pengabdian masyarakat tidak sekadar menjadi pengganti skripsi, melainkan proses pembelajaran yang menghasilkan kontribusi nyata dan karya ilmiah berbasis pengalaman lapangan.
(Amina Rahma Ahmad / Unhas TV)
Dua alumni Unhas yang diwisuda tanpa lewat jalur skripsi, Nur Halisya SKep (FKep Unhas) dan Andi Alif Raihan Analta (Ilmu Politik Unhas). (Unhas TV / Amina Rahma Ahmad)








