Lingkungan
Travel

Liburan Murah tapi Mewah di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Puntondo

Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo di Takalar, menawarkan sebuah pengalaman liburan yang murah, tenang, dan sarat makna ekologis. (dok pemkab takalar)

TAKALAR, UNHAS.TV - Di pesisir selatan Kabupaten Takalar, angin laut berembus tanpa pendingin ruangan. Rumah-rumah panggung berdiri berderet menghadap laut, kayunya dibiarkan bernapas bersama alam.

Di tempat inilah Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo menawarkan sebuah pengalaman liburan yang tak lazim: murah, tenang, dan sarat makna ekologis.

Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Hanya dengan Rp25 ribu, pengunjung bisa menikmati seharian berwisata di kawasan pesisir sekaligus ikut menjaga lingkungan.

Tiket itu sudah termasuk kontribusi kebersihan, pemeliharaan ekosistem laut, air bersih, serta suguhan sederhana berupa snack rumput laut dan teh.

PPLH Puntondo buka setiap hari, termasuk tanggal merah. Senin hingga Jumat, kawasan ini menerima pengunjung dari pukul delapan pagi hingga empat sore. Akhir pekan, waktu berkunjung diperpanjang hingga pukul lima sore.

PPLH Puntondo terletak di Dusun Puntondo, Kecamatan Laikang, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Makassar. Begitu memasuki kawasan, suasana riuh wisata populer seketika menghilang.

Tak ada musik keras, tak ada bangunan beton menjulang. Yang terdengar hanya debur ombak dan desir angin. Tempat ini memang dirancang sebagai ruang belajar, bukan sekadar lokasi rekreasi.

Konsep bangunannya menjadi daya tarik utama. Semua fasilitas—mulai dari aula hingga kantin—dibangun dengan arsitektur rumah panggung tradisional Makassar.

Pendingin udara ditiadakan. Ventilasi alami dan posisi bangunan dirancang untuk menangkap angin laut. “Kami mengandalkan angin sepoi-sepoi, angin sejuk,” ujar Aeknatio Savier Simanjuntak, Manajer Program PPLH Puntondo.

Menurut Aeknatio, pilihan arsitektur itu bukan sekadar estetika. “Tipe bangunan rumah panggung ini untuk mempertahankan nilai budaya orang Makassar sendiri, sekaligus tetap ekologis,” katanya.

Dengan konsep tersebut, PPLH Puntondo ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bisa berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

PPLH sendiri bukan lembaga tunggal. Di Indonesia terdapat empat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup, masing-masing berada di Puntondo, Medan, Bali, dan Jawa Timur.

Seluruhnya mengusung visi yang sama: membangun keharmonisan antara manusia dan lingkungannya. “Lingkungan hidup itu sangat luas. Semua orang harus tahu betapa luasnya pengetahuan tentang lingkungan,” ujar Aeknatio.

Di Puntondo, pendidikan lingkungan dikemas ringan dan membumi. Pengunjung diajak memahami ekosistem pesisir, pentingnya menjaga kebersihan laut, serta peran masyarakat dalam pelestarian alam.

Belajar tidak berlangsung di ruang tertutup, melainkan di bawah kolong rumah panggung, di tepi pantai, atau sambil menyusuri kawasan pesisir.

Bagi sebagian orang, liburan identik dengan destinasi mahal dan foto-foto media sosial. PPLH Puntondo menawarkan alternatif: rekreasi yang memberi jeda, sekaligus kesadaran.

Tempat ini membuktikan bahwa wisata tak selalu soal kemewahan fasilitas, melainkan kualitas pengalaman.

Seharian di Puntondo, waktu berjalan lebih lambat. Pulang dari sana, pengunjung tak hanya membawa foto, tetapi juga pemahaman baru tentang hubungan manusia dan alam. Liburan murah, tapi nilainya terasa jauh lebih mahal.

(Amina Rahma Ahmad / Unhas TV)