MAKASSAR, UNHAS.TV - Kelangkaan LPG 3 kilogram masih menjadi persoalan bagi sejumlah pedagang kecil di Makassar, Sulawesi Selatan.
Keterbatasan pasokan dan harga yang meningkat membuat pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan aktivitas dagang mereka.
Kondisi ini turut dirasakan oleh pedagang warung bakso yang bergantung pada gas bersubsidi tersebut untuk proses produksi setiap hari.
Bagi pelaku usaha makanan kecil, LPG 3 kilogram bukan sekadar bahan pendukung, melainkan kebutuhan utama untuk menjalankan usaha.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, mendapatkan tabung gas tersebut tidak selalu mudah. Pedagang harus mencari ke sejumlah tempat, menghadapi antrean, hingga bersaing dengan pembeli lain saat pasokan tersedia.
Pemilik warung bakso, Yohanes Jony, mengatakan kelangkaan LPG 3 kilogram membuat dirinya harus mengeluarkan waktu dan tenaga lebih untuk mendapatkan gas.
Ia mengaku beberapa penjual menerapkan persyaratan tertentu dalam pembelian, seperti menunjukkan kartu identitas keluarga.
“Ya, kalau untuk gas itu agak susah kami cari. Karena kadang orang jual dengan memakai KTP sama KK. Dan harganya itu bisa sampai 30 ribu. Kalau kita cari, tentu juga kayak berdesakan begitu,” ujar Yohanes.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pedagang harus menunggu ketika pasokan gas tersedia. Keterlambatan mendapatkan LPG dapat menghambat proses memasak, terutama bagi usaha kuliner yang membutuhkan aktivitas produksi setiap hari.
Selain persoalan gas, pedagang juga menghadapi kenaikan harga sejumlah bahan baku. Yohanes menyebut kebutuhan produksi bakso, mulai dari rempah-rempah hingga daging, mengalami perubahan harga yang turut menambah beban biaya usaha.
Kenaikan biaya produksi tersebut terjadi ketika pedagang juga harus berhadapan dengan daya beli masyarakat yang belum stabil. Menurut Yohanes, jumlah pembeli setiap hari tidak selalu sama, sehingga pendapatan yang diperoleh sering berubah-ubah.
“Kalau dengan bahan baku memang pasti ada naik. Seperti yang kami pakai itu banyak macam rempah-rempahnya, terus kemudian daging. Pendapatan sehari itu hanya paling tinggi 100, kalau bisa dapat 100,” katanya.
Di tengah tekanan biaya, pedagang tidak dapat sepenuhnya menaikkan harga jual. Sebab, perubahan harga dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli.
Yohanes mengatakan ketika harga satu porsi bakso ditetapkan Rp15 ribu, sebagian pelanggan masih menganggap harga tersebut terlalu tinggi.
Agar tetap terjangkau, ia memilih menyesuaikan harga menjadi sekitar Rp10 ribu per porsi dengan konsekuensi mengurangi ukuran porsi.
Namun pilihan tersebut juga tidak selalu menyelesaikan persoalan karena pelanggan tetap membandingkan harga dengan jumlah makanan yang diterima.
“Itu pun kalau kita sudah kasih kepastian harga target misalnya sampai 15 ribu per porsi itu mereka bilang mahal sekali. Lalu kemudian kami jual 10 ribu, berapa saja mereka mau dikasih. Dengan baksonya begitu, tentu sedikit,” kata Yohanes.
Bagi pedagang kecil seperti Yohanes, keberlangsungan usaha sangat bergantung pada kestabilan harga bahan pokok dan ketersediaan energi untuk produksi.
Ia berharap distribusi LPG 3 kilogram kembali normal sehingga pelaku usaha tidak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari gas.
Ia juga berharap harga bahan baku dapat lebih terkendali dan daya beli masyarakat meningkat. Sebab, bagi usaha mikro, jumlah pelanggan yang datang setiap hari menjadi faktor penting agar kegiatan ekonomi tetap berjalan.
“Kami bersyukur, mudah-mudahan bisa stabil semua dengan bahan-bahan bakunya. Dan semoga pembeli juga bisa datang membeli. Itu yang kami tunggu-tunggu,” ujar Yohanes.
Kelangkaan LPG 3 kilogram menunjukkan tantangan yang masih dihadapi pedagang kecil dalam mempertahankan usaha di tengah perubahan biaya produksi. Bagi mereka, kestabilan pasokan energi dan harga kebutuhan dasar menjadi penentu agar usaha tetap bertahan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Pemilik warung bakso, Yohanes Jony. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)








