Pendidikan

LPPM Unhas Raih Penghargaan Nasional Pengelolaan Administrasi Terbaik

LEMBAGA TERBAIK - Dosen Fakultas Pertanian Unhas, Dr. Ifayanti, menerima penghargaan Lembaga dengan Pengelolaan Administrasi Terbaik dari Badan Pengelola Dana Perkebunan dalam PERISAI 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, 20-21 Juli 2026. (Dok LPPM Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin atau LPPM Unhas meraih penghargaan nasional sebagai lembaga dengan pengelolaan administrasi terbaik.

Penghargaan itu diberikan Badan Pengelola Dana Perkebunan dalam rangkaian Pekan Riset Sawit Indonesia atau PERISAI 2026 di Jakarta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyerahkan penghargaan tersebut bersama Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan, Eddy Abdurrachman. Acara berlangsung di Ballroom Flores, Hotel Borobudur, Jakarta, pada Senin-Selasa, 20-21 Juli 2026.

Dosen Fakultas Pertanian Unhas, Dr. Ifayanti, menerima penghargaan itu mewakili universitas. Pengakuan tersebut menempatkan tata kelola administrasi penelitian Unhas sebagai salah satu yang terbaik di antara lembaga penerima dan pengelola pendanaan riset perkebunan di Indonesia.

Ketua LPPM Unhas, Prof dr Muhammad Nasrum Massi PhD SpMK (K), mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil penguatan sistem pengelolaan riset yang dijalankan secara bertahap selama beberapa tahun terakhir.

Pembenahan dilakukan mulai dari pencarian sumber pendanaan, penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, hingga pelaporan penggunaan anggaran.

Menurut Nasrum, LPPM secara aktif memetakan berbagai peluang pendanaan, termasuk Program Grant Riset Sawit yang dikelola BPDP. Lembaganya juga pernah mengundang BPDP ke kampus Unhas untuk menjelaskan arah, prioritas, dan kebutuhan riset sektor kelapa sawit.

“Setelah itu kami melakukan sosialisasi, coaching, dan pendampingan proposal agar peneliti lebih siap bersaing,” kata Nasrum dalam keterangannya.

Pendampingan tersebut, menurut dia, tidak berhenti ketika proposal memperoleh pendanaan. LPPM membentuk tim administrasi yang membantu peneliti mengelola anggaran, menyiapkan laporan kemajuan, serta menyusun laporan akhir sesuai dengan ketentuan lembaga pendana.

Sistem itu diterapkan untuk menjaga akuntabilitas sekaligus memperkuat kepercayaan pemberi dana terhadap kapasitas institusi.

Nasrum menilai administrasi penelitian tidak dapat dipisahkan dari mutu riset karena ketertiban pengelolaan anggaran dan pelaporan menentukan keberlanjutan kerja sama.

“Administrasi penelitian bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari kualitas pengelolaan riset. Ketika tata kelolanya baik, peneliti dapat lebih fokus menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. 

Grant Riset Sawit BPDP merupakan salah satu skema pendanaan penelitian yang kompetitif. Proposal dinilai berdasarkan mutu ilmiah, relevansi terhadap persoalan sektor kelapa sawit, kebaruan inovasi, serta kemungkinan penerapan hasil penelitian.

Rutin Berpartisipasi 3 Tahun

Selama tiga tahun terakhir, Unhas rutin berpartisipasi dalam program tersebut. Pada tahun pertama, dua proposal dari kampus itu memperoleh pendanaan. Setahun kemudian, dua proposal kembali lolos dari 67 usulan yang diajukan.

Pada 2026, Unhas mengirimkan 40 proposal. Hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada Desember 2026.

Penurunan jumlah usulan, menurut LPPM, bukan disebabkan berkurangnya minat peneliti, melainkan penyesuaian terhadap proses seleksi yang semakin ketat dan lebih menekankan kualitas serta peluang implementasi riset.

PERISAI merupakan forum nasional yang digunakan untuk menyebarluaskan hasil penelitian strategis sekaligus mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.

Mengusung tema “Shaping the Palm Oil Industry Ecosystems for a Sustainable Future”, PERISAI 2026 mendorong integrasi ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi dalam pembangunan industri kelapa sawit berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada 2015, Program Grant Riset Sawit telah mendukung 466 kontrak penelitian. Program tersebut melibatkan 109 lembaga penelitian dan pengembangan, 1.873 peneliti, serta 383 mahasiswa. Rangkaian penelitian itu menghasilkan 395 publikasi ilmiah dan 84 paten. (*)