Mahasiswa

Mahasiswa KKN Unhas Hadirkan Dashboard Digital untuk BSU Peduli Pasara, Pengelolaan Data BSU Kini Lebih Informatif

Dashboard digital karya mahasiswa KKN Unhas menyajikan informasi nasabah, transaksi, dan harga sampah terintegrasi. (Foto: Dok.Pribadi). Dashboard digital karya mahasiswa KKN Unhas menyajikan informasi nasabah, transaksi, dan harga sampah terintegrasi. (Foto: Dok.Pribadi).

MAKASSAR,UNHAS.TV — Mahasiswa KKN Tematik Zero Waste Gelombang 116 Universitas Hasanuddin meluncurkan Dashboard Digital BSU Peduli Pasara di RW 12, Kelurahan Laikang, Kota Makassar, Selasa (4/8/2026), untuk membantu pengurus bank sampah mengelola transaksi, harga material, dan data nasabah secara lebih terstruktur, informatif, serta mudah dipantau.

Di balik peluncuran itu terdapat persoalan yang lazim dihadapi bank sampah berbasis masyarakat, yakni banyaknya catatan transaksi yang harus dihimpun agar perkembangan setoran, nilai ekonomi sampah, dan aktivitas nasabah dapat dibaca secara cepat.

Nurul Annisa Yoddang, mahasiswa penggagas inovasi tersebut, kemudian mengubah deretan angka dalam catatan pengelola menjadi tampilan visual yang lebih sederhana melalui tiga bagian utama, yaitu Dashboard Transaksi Nasabah, Dashboard Harga Sampah, dan Dashboard Nasabah.

Pada halaman transaksi, pengurus dapat melihat jumlah transaksi, rata-rata berat sampah, rata-rata nilai transaksi, perkembangan setoran, jenis sampah yang paling banyak diserahkan, serta nasabah dengan aktivitas transaksi tertinggi.

Dashboard harga sampah menyajikan kategori, jenis, kode, serta rentang harga minimum dan maksimum setiap material sehingga pengurus memiliki rujukan yang lebih tertata ketika mencatat nilai jual sampah.

Sementara itu, Dashboard Nasabah menampilkan jumlah nasabah, status keaktifan, wilayah persebaran, jumlah kelurahan yang terhubung, dan kecenderungan pertumbuhan keanggotaan dari tahun ke tahun.

“Saya sangat takjub dan bangga kepada mahasiswa KKN Unhas yang mampu membuat dashboard menarik ini,” kata Ash, salah seorang pengurus BSU Peduli Pasara.

Kehadiran dashboard tersebut membuat data yang sebelumnya tersebar dalam berbagai catatan dapat diringkas menjadi grafik dan indikator yang lebih mudah dibaca oleh pengelola.

Ketika Data Menjadi Kompas Pengelolaan Sampah

Dalam pendekatan ilmiah, dashboard bukan sekadar layar berisi grafik, melainkan perangkat pendukung keputusan yang dapat membantu pengurus mengenali perubahan transaksi, material bernilai tinggi, nasabah aktif, dan periode terjadinya kenaikan atau penurunan setoran.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan jadwal penimbangan, memperbarui harga, menyusun strategi pelayanan, menjaga keterlibatan nasabah, dan mengevaluasi perkembangan bank sampah berdasarkan data.

Inovasi ini sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 yang menempatkan pemilahan, pengumpulan, pencatatan, pengelolaan, dan pelaporan sebagai bagian penting tata kelola bank sampah (BPK RI).

Bank sampah pada dasarnya bekerja dengan prinsip ekonomi sirkular karena material yang semula dipandang sebagai limbah dipilah, dicatat, dan dikembalikan ke rantai produksi sebagai sumber daya bernilai ekonomi.

Karena itu, data transaksi yang tertib tidak hanya diperlukan untuk administrasi, tetapi juga dapat menjadi dasar menghitung kontribusi bank sampah terhadap pengurangan sampah, peningkatan partisipasi warga, dan perputaran nilai ekonomi di tingkat komunitas.

Pengembangan dashboard tersebut juga mencerminkan kebijakan KKN Unhas 2026 yang berbasis pada kebutuhan mitra, dengan Zero Waste, Ekonomi Sirkular, Digitalisasi Desa, dan Persampahan sebagai bagian dari tema pengabdian Gelombang 116 (Universitas Hasanuddin).

Sebagai penerapan keilmuan Teknik Industri, dashboard menggabungkan pengelolaan data, visualisasi informasi, pemantauan kinerja, dan perancangan sistem kerja agar keputusan operasional dapat dibuat secara lebih cepat dan terukur.

Namun, manfaat ilmiah dashboard tetap bergantung pada ketepatan data yang dimasukkan, konsistensi kode material, pembaruan harga, perlindungan informasi pribadi nasabah, pencadangan data, serta kemampuan pengurus mengoperasikan sistem secara mandiri.

Oleh sebab itu, tahap lanjutan yang diperlukan mencakup pelatihan operator, penyusunan prosedur pencatatan, pengujian ketepatan indikator, evaluasi berkala, dan penyerahan panduan penggunaan agar inovasi tetap berjalan setelah masa KKN berakhir.

Jika dipelihara dan dikembangkan secara konsisten, Dashboard BSU Peduli Pasara berpotensi menjadi laboratorium data lingkungan tingkat komunitas yang membantu warga memahami bahwa setiap kilogram sampah terpilah memiliki jejak ekologis, nilai ekonomi, dan informasi penting bagi masa depan kota.

Dari RW 12 Kelurahan Laikang, mahasiswa KKN Unhas menunjukkan bahwa perjuangan mengurangi sampah tidak selalu dimulai dengan mesin besar, tetapi dapat berawal dari data yang rapi, mudah dibaca, dan digunakan bersama.(*)