Mahasiswa
Pendidikan

Mahasiswa KKNT Unhas Ubah Buku Menjadi “Lawan Main” Anak-anak di Lampa

ULAS BUKU - Mahasiswa KKNT 116 Unhas mendampingi murid SD Lampa setempat mengulas buku secara interaktif melalui program REKATA di Kelurahan Lampa, Pinrang, 15–25 Juli 2026. (Dok KKN-T Unhas)

PINRANG, UNHAS.TV - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menghadirkan program literasi bertajuk REKATA di Kelurahan Lampa, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, selama 10 hari di bulan Juli 2026.

Program tersebut mengajak anak-anak sekolah dasar membaca, menafsirkan, dan mengulas isi buku secara interaktif.

REKATA merupakan singkatan dari Ruang Eksplorasi Kelas Asyik Tafsir Buku. Kegiatan ini berlangsung dalam empat pertemuan pada 15, 18, 22, dan 25 Juli 2026 dengan menyasar puluhan murid kelas I hingga III sekolah dasar.

Berbeda dengan kegiatan membaca yang hanya menekankan kemampuan mengeja, mahasiswa mengajak peserta memahami jalan cerita, mengenali tokoh, menyampaikan pendapat, dan menceritakan kembali buku yang telah dibaca.

Metode tersebut dirancang untuk menumbuhkan minat baca sekaligus melatih keberanian, kreativitas, dan daya kritis anak.



ULAS BUKU - Mahasiswa KKNT 116 Unhas mendampingi murid SD setempat mengulas buku secara interaktif melalui program REKATA di Kelurahan Lampa, Kabupaten Pinrang, 15–25 Juli 2026. (Dok KKN-T Unhas)


Koordinator program REKATA, Servin, mengatakan kegiatan itu bertujuan menciptakan ruang belajar yang membuat anak tidak hanya menjadi pembaca pasif.

“Melalui REKATA, kami melatih mereka untuk cerdas mengulas buku sejak dini. Kami ingin menumbuhkan daya kritis, kreativitas, dan kecintaan membaca yang dapat terus berkembang hingga dewasa,” kata Servin.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka berebut menjawab pertanyaan dan maju ke depan kelas untuk menceritakan kembali kisah yang baru dibaca. Orang tua dan pemerintah Kelurahan Lampa juga menyambut baik pelaksanaan program tersebut.

Salah seorang wali murid, Nur Sita, menilai REKATA menjadi alternatif kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak di tengah meningkatnya penggunaan telepon pintar.

“Daripada di rumah hanya bermain gim, lebih baik mereka datang ke sekolah dan belajar bersama mahasiswa KKN Unhas,” ujarnya.

Mahasiswa berharap kegiatan itu tidak berhenti setelah empat pertemuan. Kebiasaan membaca dan mengulas buku diharapkan terus diterapkan oleh anak-anak, orang tua, dan sekolah agar literasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melalui REKATA, buku tidak lagi diposisikan sebagai bahan bacaan yang kaku, melainkan sebagai “lawan main” yang mengajak anak bertanya, berpikir, dan berimajinasi. (*)