Pendidikan

Mahasiswa Pascasarjana Ditantang Menjadi Produsen Ilmu Pengetahuan

Prof. Sukri Palutturi bersama jajaran pimpinan membuka penerimaan mahasiswa baru Pascasarjana Unhas 2026/2027. (Foto: Dok. Sekolah Pascasarjana Unhas). Prof. Sukri Palutturi bersama jajaran pimpinan membuka penerimaan mahasiswa baru Pascasarjana Unhas 2026/2027. (Foto: Dok. Sekolah Pascasarjana Unhas).

MAKASSAR, UNHAS.TV — Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., mengajak mahasiswa baru program magister dan doktor tahun akademik 2026 menjadikan pendidikan pascasarjana sebagai jalan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan, riset unggulan, dan inovasi berdampak melalui sambutannya pada kegiatan penerimaan mahasiswa baru, Jumat (14/8/2026).

Di hadapan jajaran pimpinan, pengelola program studi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa baru, Prof. Sukri menggambarkan Kampus Merah sebagai panggung para petarung pemikiran sekaligus ruang tempat gagasan besar diuji, dipertajam, dan diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat.

“Selamat datang di Kampus Merah, panggung para petarung pemikiran dan ruang bertumbuhnya gagasan-gagasan besar,” kata Prof. Sukri.

Menurutnya, kedatangan mahasiswa baru tidak sekadar menandai dimulainya jenjang akademik yang lebih tinggi, tetapi juga menjadi komitmen intelektual untuk mengambil bagian dalam perubahan sosial, pembangunan nasional, dan kemajuan peradaban.

Ia menegaskan bahwa Sekolah Pascasarjana harus dikembangkan sebagai “Etalase Unhas”, yakni ruang utama yang memperlihatkan kedalaman intelektual, kualitas riset berstandar global, integritas akademik, serta keunggulan pemikiran universitas.

Prof. Sukri Palutturi mengajak mahasiswa baru Pascasarjana Unhas bertransformasi menjadi produsen ilmu pengetahuan. (Foto: Dok. Sekolah Pascasarjana Unhas)
Prof. Sukri Palutturi mengajak mahasiswa baru Pascasarjana Unhas bertransformasi menjadi produsen ilmu pengetahuan. (Foto: Dok. Sekolah Pascasarjana Unhas).


“Saudara sekalian adalah etalase hidup Unhas, refleksi dari keunggulan akademik yang tidak hanya bertumpu pada teori di dalam kelas, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kemajuan daerah, nasional, dan reputasi internasional,” ujarnya.

Dari Konsumen Pengetahuan Menjadi Produsen Ilmu

Prof. Sukri menjelaskan bahwa pendidikan magister dan doktor berada pada puncak piramida pendidikan tinggi karena mempertemukan guru besar, doktor, peneliti senior, dan mahasiswa pilihan untuk menghasilkan karya ilmiah yang matang, mendalam, serta bermanfaat.

Setiap tesis dan disertasi, lanjutnya, tidak boleh berakhir sebagai dokumen yang tersimpan di perpustakaan atau repositori digital, melainkan harus menjadi sumber pengetahuan, rekomendasi kebijakan, inovasi teknologi, atau solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Memasuki jenjang pascasarjana menuntut pergeseran paradigma, dari sekadar konsumen pengetahuan menjadi produsen ilmu pengetahuan,” tegas Prof. Sukri.

Pergeseran tersebut menuntut mahasiswa memiliki keberanian mempertanyakan pengetahuan yang telah mapan, ketekunan menguji bukti, kecakapan menggunakan metode ilmiah, serta integritas untuk menjaga kejujuran akademik di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital.

Ia mengingatkan bahwa reputasi universitas tidak hanya ditentukan oleh banyaknya mahasiswa, tetapi juga oleh mutu penelitian, kekuatan publikasi ilmiah, jaringan kolaborasi internasional, dan kemampuan mengubah hasil riset menjadi manfaat nyata.

Pesan itu sejalan dengan perkembangan terbaru Unhas yang menempatkan bidang Agriculture and Forestry pada peringkat 251–300 dunia, Politics and International Studies pada peringkat 301–400, serta Medicine pada peringkat 601–650 dalam QS World University Rankings by Subject 2026. Universitas Hasanuddin, 26 Maret 2026

Unhas juga menembus kelompok peringkat 201–300 dunia dalam Times Higher Education Impact Rankings 2026, naik dari kelompok 401–600 pada 2025, yang menunjukkan penguatan kontribusi universitas terhadap pendidikan, penelitian, pengabdian, kemitraan, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Universitas Hasanuddin, 23 Juni 2026

Empat Pilar Membangun Etalase Unhas

Untuk mewujudkan Sekolah Pascasarjana sebagai etalase universitas, Prof. Sukri menawarkan empat pilar utama berupa riset berorientasi solusi, kolaborasi lintas disiplin dan internasional, tata kelola akademik yang berintegritas, serta hilirisasi hasil penelitian.

Mahasiswa baru bersama pimpinan Sekolah Pascasarjana Unhas seusai penerimaan tahun akademik 2026. (Foto: Dok. Sekolah Pascasarjana Unhas)
Mahasiswa baru bersama pimpinan Sekolah Pascasarjana Unhas seusai penerimaan tahun akademik 2026. (Foto: Dok. Sekolah Pascasarjana Unhas).


Riset unggulan, menurutnya, harus berangkat dari persoalan nyata bangsa, dikerjakan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, dan dipublikasikan melalui jurnal bereputasi agar dapat diuji sekaligus dimanfaatkan komunitas ilmiah dunia.

Kolaborasi lintas disiplin diperlukan karena persoalan seperti perubahan iklim, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, kemiskinan, transformasi digital, dan pengelolaan sumber daya maritim tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang ilmu.

Semangat tersebut memperoleh pijakan kuat karena Unhas telah berada dalam kelompok 401–500 dunia bidang sains interdisipliner pada THE Interdisciplinary Science Rankings 2026, dengan penilaian yang menitikberatkan publikasi, dampak sitasi, kolaborasi lintas bidang, pendanaan industri, dan reputasi riset global. Universitas Hasanuddin

Tata kelola yang transparan dan akuntabel, lanjut Prof. Sukri, dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan publik, sedangkan hilirisasi memastikan ilmu yang dikembangkan di ruang kuliah dan laboratorium benar-benar menjangkau masyarakat, pemerintah, dunia usaha, serta pembuat kebijakan.

“Empat pilar inilah yang bersama-sama membentuk wajah Unhas yang dipamerkan kepada dunia,” katanya.

Prof. Sukri kemudian mengajak mahasiswa memanfaatkan dosen, laboratorium, perpustakaan, jejaring mitra, forum akademik, dan seluruh ekosistem Unhas sebagai ruang menguji gagasan dan membangun kerja sama yang melampaui batas program studi.

Ia berharap karya mahasiswa pascasarjana mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar pada kearifan lokal dan karakter Benua Maritim Indonesia yang menjadi kekuatan strategis Universitas Hasanuddin.

“Mari kita jadikan Sekolah Pascasarjana sebagai etalase terdepan Unhas yang membanggakan, inklusif, dan sarat prestasi, serta selamat mengukir jejak dedikasi terbaik bagi bangsa dan kemanusiaan,” tutup Prof. Sukri.(*)