
Menu kyushoku dirancang dengan sangat detail oleh ahli gizi. Setiap hari, siswa mendapatkan nasi, protein (seperti ayam atau ikan), sup, sayuran, dan susu. “Orang tua bisa memantau menu harian melalui website sekolah. Ini membuat mereka merasa aman karena tahu anak-anak mereka makan makanan sehat,” kata Meta.
Bisakah Kyushoku Diterapkan di Indonesia?
Indonesia mulai mengadopsi konsep makan siang gratis di beberapa sekolah. Namun, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Meta menekankan bahwa Indonesia perlu menyesuaikan program ini dengan kondisi lokal.
“Indonesia sangat luas dan beragam. Setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda. Misalnya, di daerah dengan angka stunting tinggi, program ini bisa difokuskan pada peningkatan gizi,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pemanfaatan sumber daya lokal. “Kita punya banyak bahan pangan bergizi, seperti kelor, yang bisa diolah menjadi makanan sehat. Ini juga bisa memberdayakan petani dan nelayan lokal,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah anggaran. Di Jepang, program kyushoku tidak sepenuhnya gratis. Orang tua berkontribusi sekitar 5.000 yen (Rp500.000) per bulan, tetapi ada bantuan pemerintah bagi keluarga yang kurang mampu. “Di Indonesia, kita perlu memastikan program ini berkelanjutan dengan dukungan anggaran yang memadai,” kata Meta.
Meski demikian, Meta optimistis. “Jepang juga pernah jatuh bangun. Mereka bangkit dari keterpurukan pascaperang dengan fokus pada pendidikan. Indonesia pun bisa, asalkan ada niat dan komitmen yang kuat,” ujarnya.
Program makan siang gratis ala Jepang menawarkan lebih dari sekadar makanan bergizi. Ini adalah investasi untuk masa depan, membentuk generasi yang sehat, disiplin, dan bertanggung jawab. Seperti kata pepatah Jepang, "nana korobi ya oki" (tujuh kali jatuh, delapan kali bangkit), Meta yakin bahwa dengan niat tulus dan kerja keras, Indonesia bisa mewujudkan program serupa yang bermanfaat bagi generasi muda.
“Makan siang gratis bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang membangun karakter dan masa depan bangsa,” pungkasnya.