MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjadi mahasiswa berprestasi tidak selalu berarti memiliki IPK 4,00, mengikuti sebanyak mungkin organisasi, atau mengoleksi sederet penghargaan.
Bagi Azzahra Aurelya Shodan Razak, setiap mahasiswa justru perlu menemukan jalannya sendiri: mengenali apa yang disukai, berani mencoba, lalu konsisten mengembangkan potensi yang dimiliki.
Pesan itu disampaikan Azzahra, yang akrab disapa Aurel, saat berbagi pengalaman di hadapan mahasiswa baru dalam rangkaian Penerimaan dan Pengembangan Karakter Mahasiswa Baru (P2KMB) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas), Rabu (12/8).
Sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FK Unhas, Aurel datang bukan untuk menawarkan resep kesuksesan. Sebaliknya, ia mengingatkan mahasiswa baru bahwa perjalanan di perguruan tinggi sangat personal. Setiap mahasiswa memiliki karakter, minat, kemampuan, bahkan definisi keberhasilan yang berbeda.
“Tidak ada rumus baku untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Setiap orang memiliki cara dan perjalanan masing-masing dalam berkembang serta mencapai tujuannya,” kata Aurel.
Ia bahkan mengakui dirinya bukan mahasiswa dengan nilai akademik sempurna. Ia juga tidak merasa perlu mengikuti semua organisasi atau aktivitas kemahasiswaan yang tersedia.
Sejak awal, Aurel memilih memusatkan energi pada bidang yang benar-benar menarik perhatiannya, terutama akademik, penelitian, pengembangan diri, dan kegiatan yang membuka kesempatan baginya untuk belajar lebih jauh.
“Saya bukan mahasiswa dengan IPK 4,00, dan saya juga bukan orang yang mengikuti semua organisasi. Saya hanya berusaha fokus pada hal-hal yang saya sukai dan ingin saya capai,” ujarnya.

Bagi Aurel, ukuran keberhasilan mahasiswa karena itu tidak bisa semata-mata diletakkan pada angka akademik atau seberapa panjang daftar organisasi di curriculum vitae. Prestasi justru tumbuh ketika seseorang mengenali dirinya, mengetahui apa yang ingin dikembangkan, lalu bersedia menjalani proses tersebut secara konsisten.
Dari PIMNAS hingga Harvard
Pilihan Aurel untuk menekuni bidang yang diminatinya membawanya pada sejumlah pengalaman penting. Salah satunya terjadi pada 2024 ketika ia menjadi bagian dari Tim DETEC Universitas Hasanuddin yang berlaga pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37 di Universitas Airlangga, Surabaya.
Tim tersebut mengembangkan riset bertajuk “Dissolving Microneedle Patch Terinkorporasi ESAT6-CFP10: Strategi Baru Diagnostik Infeksi Laten Tuberkulosis.”
Penelitian itu menawarkan pendekatan inovatif dalam diagnosis infeksi laten tuberkulosis menggunakan teknologi dissolving microneedle patch, yang berpotensi menghadirkan prosedur diagnostik yang lebih praktis dan efektif.
Kerja panjang tim itu berbuah manis. Mereka membawa pulang dua medali emas sekaligus, masing-masing pada kategori Presentasi dan Poster. Capaian tersebut menjadi salah satu prestasi penting kontingen Universitas Hasanuddin dalam ajang ilmiah mahasiswa tingkat nasional itu.
Setahun kemudian, kiprah Aurel mendapat apresiasi lain. Pada Malam Puncak Anugerah Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin 2025, ia dinobatkan sebagai Golden Student of the Year Angkatan 2023.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap perjalanan akademik, aktivitas penelitian, kepemimpinan, serta kontribusi sosial yang dijalaninya sebagai mahasiswa FK Unhas.
Prestasinya berlanjut pada 2026. Setelah melalui tahapan seleksi yang menguji capaian unggulan, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, gagasan kreatif, presentasi, hingga kemampuan berbahasa Inggris, Aurel meraih Juara II Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Universitas Hasanuddin Kategori Utama Jenjang Sarjana.
Namun ruang belajar Aurel tidak berhenti di lingkungan kampus maupun kompetisi nasional. Ia juga mendapat kesempatan membawa nama Fakultas Kedokteran Unhas ke forum internasional melalui World Pre-Health Conference (WPC) 2026 di Harvard University, Boston, Amerika Serikat.
Di sana, Aurel bergabung dengan peserta dari berbagai negara dalam Global Health Case Challenge. Mereka ditantang menyusun solusi berbasis bukti ilmiah untuk menjawab persoalan kesehatan global.
Bagi Aurel, pengalaman semacam itu bukan sekadar menambah daftar prestasi, tetapi memperluas perspektif tentang bagaimana ilmu yang dipelajari di kampus dapat berhadapan langsung dengan persoalan nyata masyarakat.
Di luar berbagai pencapaian tersebut, Aurel tetap aktif dalam penelitian, kegiatan kemahasiswaan, pengabdian masyarakat, serta pengembangan jejaring internasional.
Semua aktivitas itu dijalaninya bukan karena ingin mengejar sebanyak mungkin sertifikat, melainkan karena sejalan dengan minat dan tujuan yang ingin dicapainya.
Tidak Harus Menjadi Orang Lain
Itulah pesan yang ingin ia titipkan kepada mahasiswa baru FK Unhas. Memasuki perguruan tinggi, menurut Aurel, sering kali mahasiswa berhadapan dengan begitu banyak pilihan sekaligus tekanan.
Ada dorongan untuk memperoleh nilai sempurna, menjadi aktivis, mengikuti berbagai kompetisi, masuk organisasi, melakukan penelitian, hingga membangun jejaring internasional.
Semua peluang itu penting. Tetapi tidak semuanya harus dijalani oleh setiap orang.
Aurel mengajak mahasiswa baru untuk memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk mencoba berbagai pengalaman, tetapi pada saat yang sama belajar mengenali mana yang benar-benar membuat mereka bertumbuh. Produktif, menurutnya, tidak harus memiliki bentuk yang sama bagi semua mahasiswa.
“Nikmati proses perkuliahan di Fakultas Kedokteran Unhas. Cobalah banyak hal, temukan apa yang benar-benar kalian sukai, dan berkembanglah dengan cara yang paling sesuai dengan diri kalian. Produktif itu tidak harus sama untuk semua orang,” pesannya.
Pesan itu sekaligus menawarkan cara pandang lain tentang makna mahasiswa berprestasi. Prestasi bukan perlombaan untuk menjadi manusia sempurna, apalagi perlombaan meniru keberhasilan orang lain. Seorang mahasiswa bisa memiliki jalan yang berbeda, kecepatan yang berbeda, bahkan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Pada akhirnya, perjalanan Aurel memperlihatkan bahwa pencapaian besar justru dapat bermula dari sesuatu yang sederhana: mengenali diri sendiri, menemukan bidang yang disukai, berani mengambil kesempatan, dan tekun menjalaninya.
Di hadapan mahasiswa baru FK Unhas, ia seperti hendak mengatakan bahwa kampus menyediakan begitu banyak pintu. Tidak semua pintu harus dibuka. Tidak semua jalan harus ditempuh.
Yang jauh lebih penting adalah menemukan pintu yang tepat, lalu memiliki keberanian untuk melangkah masuk dan bertumbuh di dalamnya.
Azzahra Aurelya saat berada di Taiwan


-300x169.webp)




