Makassar

Menata Hati Menembus Batas

Ketua UKM SAR Unhas pertama seorang wanita, Rostika Salenda Paseleng. (Dok Rostika)

ADA yang menarik saat saya diundang acara peluncuran buku berjudul "Rumah Jingga Tamalanrea" 40 tahun SAR Unhas di ruang serba guna Perpustakaan Nasional Jakarta, Senin (21/9/2026).

SAR Unhas adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam kegiatan relawan search and rescue. 

Disela-sela acara itu saya diperkenalkan dengan seorang perempuan belia. Sangat muda. 

"Saya Tika bang," katanya mengulurkan tangan.

Penampilannya sederhana, dengan balutan baju kemeja casual, rok hitam, dan sepatu kets lebih nampak tomboy. Rambutnya sebahu diikat rapi.

"Tika ini perempuan pertama dalam sejarah yang jadi Ketua SAR Unhas, " kata Gener Wakulu perkenalkan.

Pria yang biasa disapa "gegen" ini  merupakan chief editor buku yang baru diluncurkan dan merangkap ketua panitia seminar kebencanaan yang digelar hari itu. 

Saya katakan menarik dan istimewa karena sosok perempuan ditengah dunia atau sistem yang selama ini dominan maskulin. Yang seringkali tentu saja Tika harus menghadapi tantangan, standar ganda, hingga tuntutan membuktikan kapasitas diri. 

Nama lengkapnya Rostika Salenda Paseleng. la lahir dan besar di kampung dekat Makale,ibukota kabupaten Tana Toraja dari ayah-ibu asli Toraja.Tika anak bungsu dari enam bersaudara.

Awal cerita Tika tertarik masuk SAR Unhas itu terjadi pada saat dirinya mengikuti acara penyambutan mahasiswa baru. Dalam rangkaian acaranya ada hari dimana semua UKM di Unhas mengadakan sosialisasi dan expo. 

"Dan salah satu booth yang menarik perhatian saya yaitu SAR karena memamerkan perahu karet dan alat rescue lainnya," ceritanya.

Tika mengaku penasaran dan merasa tertantang. Apalagi baginya peralatan search and rescue itu masih asing dan belum familiar.

Awalnya dalam pikiran Tika, kegiatan SAR itu melulu soal gempa bumi, banjir, gunung meletus dan bencana alam lainnya.

Tapi setelah dirinya masuk SAR Unhas pada 2020 baru ia paham bahwa didalamnya banyak aksi kemanusiaan.

Ada pencarian orang, siaga gunung dan pantai.Ada juga operasi kecil lainnya yang mungkin tidak pernah masuk berita, tapi membuthkan orang-orang yang bersedia hadir. Dan dari sanalah perjalanan Tika bersama SAR Unhas dimulai. 

Tika boleh dibilang merupakan tipe anak yang ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari kehidupannya selama ini.

Pada perjalanannya di tahun 2024 Tika kemudian dipercaya teman-temannya dan sekaligus mencatatkan sejarah perempuan pertama yang menjadi Ketua SAR Unhas. Lembaga UKM yang kini telah berusia empat dekade. 

Salahsatu fase paling berkesan yang dialami Tika terjadi saat menjabat sebagai Dirlat, bertepatan dengan masa KKN.

Di satu sisi ia harus menyelesaikan tanggung jawab akademik. Di sisi lain, diklat SAR menuntut perhatian dan energi yang tidak sedikit.

Ia berusaha menjalankan keduanya sekaligus. Dan bersyukur karena teman-teman KKN-nya memahami situasi tersebut.

“Bagi saya normal kalau salahsatu progresnya lambat,” katanya. “Yang gagal itu kalau salah satunya harus direlakan berakhir.”

Dari semua pengalaman lapangan, ada satu operasi yang tak pernah dilupakannya. Saat ia ikut melakukan pencarian seorang anak kecil yang tenggelam di sungai yang dipenuhi ranting-ranting.

Namun karena panik, temannya kehilangan pegangan dan justru berpegang pada tubuh Tika.Arus langsung menyeret mereka.

Tika terbawa dalam posisi terlentang, sementara tubuh temannya menekan dari belakang. Tubuhnya akhirnya berhenti setelah lehernya tersangkut di batang kayu.Ia tidak bisa bergerak.

Pelampung yang dipakai membuat tubuhnya terus terdorong arus, sementara di depannya ranting-ranting tajam memenuhi sungai.

“Pilihan saya saat itu bilang saya mungkin akan mati,” kenangnya.

Namun anehnya, justru ia tertawa.Bukan karena tidak takut. Tetapi karena ditengah kepanikan itu, muncul satu pikiran lain dalam dirinya:setidaknya jika harus mati, ia sedang berada di tempat yang menurutnya baik membantu orang lain.

Sebagai perempuan di SAR, Tika sadar masih banyak orang yang masih memandang dririnya sosok yang lemah lembut dan terlalu memakai perasaan.Pandangan seperti itu terkadang membatasi ruang geraknya.

Ia ingin menunjukkan dirinya mampu melakukan hal yang sama seperti laki-laki. Ia berharap anggota SAR perempuan kedepan tidak lagi sibuk melawan stigma tapi perempuan perlu terus menghadirkan diri dan menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan, peran, dan tempat yang tidak bisa digantikan begitu saja.

Karena itu kepada yang perempuan ingin bergabung ia berpesan agar tidak takut untuk mencoba. Menurutnya, tdak ada salahnya mengambil langkah pertama, apalagi jika didasari niat baik.

Karena kesempatan itu tidak selalu datang dua kali. Pada tahun lalu 2025 Tika telah merampungkan studinya sebagai sarjana keperawatan. "Selanjutnya akan berkarir sebagai perawat?" tanya saya. 

"Gak bang. Saya rencana mau lanjut studi bidang forensik di Unair Surabaya. Ini lagi persiapan mau ikut seleksi dengan dukungan beasiswa LPDP, doakan lulus," jawabnya tersenyum.*

(Rusman Madjulekka)