Pendidikan
Sosial

Menuju Kampus Inklusif, Pusdis Unhas Bekali 351 Calon Relawan Teman Difabel

MENTORING - Sebanyak 351 mahasiswa mengikuti mentoring calon Relawan Teman Difabel Batch 4 di Aula LPPM Unhas, Makassar, Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan ini membekali peserta tentang disabilitas dan etika pendampingan guna mendorong kampus yang semakin inklusif. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin membekali 351 mahasiswa yang mengikuti mentoring calon relawan Teman Difabel Batch 4, Sabtu (3/10/2026).

Pembekalan di Aula LPPM Unhas itu menjadi tahap awal sebelum peserta mengikuti pelatihan pendampingan mahasiswa disabilitas.

Para calon relawan berasal dari berbagai fakultas di Universitas Hasanuddin. Mereka sebelumnya mengikuti pendaftaran dan seleksi administrasi dalam rangkaian Open Recruitment Relawan Pusat Disabilitas Unhas Batch 4.

Kepala Pusat Disabilitas Unhas, Dr Ishak Salim SIP MA, mengatakan sebanyak 351 peserta dinyatakan lolos ke tahap mentoring.

Pada tahap ini, peserta mendapatkan pengenalan mengenai Pusat Disabilitas, perspektif disabilitas, ragam disabilitas, serta etika dalam menjalankan tugas sebagai relawan.

“Hari ini adalah bagian dari Open Recruitment Relawan Pusat Disabilitas Unhas batch keempat. Setelah pendaftaran untuk menjadi relawan, ada proses seleksi administrasi dan terjaring 351 calon relawan,” kata Ishak.



Kepala Pusat Disabilitas Unhas, Dr Ishak Salim SIP MA. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)


Menurut Ishak, relawan Pusat Disabilitas tidak terbatas pada mahasiswa non-disabilitas. Mahasiswa disabilitas juga dapat bergabung sepanjang masih berstatus sebagai mahasiswa Unhas.

Ia menyebut keberadaan relawan sebagai salah satu unsur penting dalam mendorong Unhas menjadi kampus yang semakin inklusif. Relawan menjadi penghubung dalam membantu mahasiswa disabilitas memperoleh akses yang setara terhadap berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.

“Relawan itu mahasiswa Unhas, baik disabilitas maupun non-disabilitas. Mereka bisa dikatakan sebagai bahan bakar dari Pusat Disabilitas, amunisi yang sangat penting untuk menopang proses Unhas menjadi kampus inklusif,” ujar Ishak.

Karena itu, mentoring dirancang sebagai fondasi sebelum relawan berinteraksi langsung dengan mahasiswa disabilitas.

Peserta tidak hanya dikenalkan dengan jenis-jenis disabilitas, tetapi juga cara memandang disabilitas secara tepat agar pendampingan tidak didasarkan pada rasa iba, melainkan pada pemenuhan hak dan kesetaraan akses.

Ishak menggambarkan Pusat Disabilitas sebagai “rumah dengan halaman yang luas” yang terbuka bagi seluruh mahasiswa. Dari ruang tersebut, calon relawan diharapkan memahami bahwa inklusivitas bukan hanya persoalan penyediaan fasilitas fisik.

Pusat Disabilitas juga mendorong kampus memperbaiki akses pada layanan digital, perangkat pembelajaran, laboratorium, serta berbagai fasilitas pendidikan dan penelitian.

Menurut Ishak, kebutuhan aksesibilitas ke depan akan semakin luas. Mahasiswa disabilitas harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti kegiatan di laboratorium, hutan pendidikan, rumah sakit, peternakan, kedokteran hewan, hingga kapal riset Unhas.

“Harapannya masih sangat besar. Relawan menemani mahasiswa disabilitas untuk mengakses fasilitas pendidikan, pembelajaran, maupun pengabdian masyarakat,” kata Ishak.



Ketua Panitia Open Recruitment Relawan Pusdis Unhas Batch 4, Wafiq Sarah Azizah. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)


Ketua Panitia Open Recruitment Relawan Pusdis Unhas Batch 4, Wafiq Sarah Azizah, mengatakan mentoring merupakan salah satu tahapan wajib sebelum peserta mengikuti training.

Pada tahap berikutnya, peserta akan mendapat pembekalan yang lebih praktis tentang cara mendampingi mahasiswa disabilitas dalam berbagai aktivitas di kampus.

“Tahap setelah mentoring ini akan diadakan training untuk memberikan pemahaman langsung kepada mereka bagaimana pendampingan kepada teman difabel,” kata Wafiq.

Tahun ini, Open Recruitment Relawan Pusdis Unhas mengangkat tema Volunteering in Action: Color Outside the Lines. Tema itu dipilih untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai nilai inklusivitas dan mendorong mereka melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan kampus.

Wafiq mengatakan peserta mentoring berasal dari berbagai fakultas, termasuk mahasiswa dari rumpun teknik. Keragaman latar belakang tersebut diharapkan memperluas jangkauan isu disabilitas di lingkungan universitas.

“Tujuan tema ini adalah memberikan pemahaman lebih mendalam terkait nilai-nilai inklusivitas kepada calon relawan Batch 4,” ujarnya.

Ia berharap peserta tidak berhenti pada pemahaman konseptual. Setelah mengikuti mentoring dan training, mereka diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut ketika mendampingi mahasiswa disabilitas.

Relawan juga diharapkan menjadi bagian dari upaya menyuarakan pentingnya lingkungan pendidikan yang inklusif kepada mahasiswa lain.

“Semoga teman-teman peserta mendapatkan bekal untuk mendampingi teman-teman disabilitas sehingga dapat menyuarakan inklusivitas di kampus kita,” kata Wafiq.

Bagi Pusat Disabilitas Unhas, pembangunan kampus inklusif tidak cukup hanya dengan menghadirkan relawan. Pembenahan juga perlu dilakukan secara bertahap pada sistem, layanan, dan fasilitas universitas.

Melalui program Teman Difabel Batch 4, Pusdis Unhas berupaya membangun dukungan dari tingkat mahasiswa sekaligus memperluas kesadaran bahwa akses pendidikan yang setara menjadi tanggung jawab seluruh warga kampus.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)