MAKASSAR, UNHAS.TV - Uni Eropa telah mengeluarkan satu rencana tindakan darurat untuk mengatasi krisis biaya ekonomi akibat perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pihak Uni Eropa menyebut, krisis energi yang dialami saat ini lebih hebat dampaknya dibanding saat Rusia menyerang Ukraina pada 2022.
Sejumlah industri di Uni Eropa mengalami perlambatan pertumbuhan dan kemungkinan terburuk yakni menghentikan seluruh operasi mereka. "Untuk kedua kalinya dalam lima tahun terakhir, Eropa harus menanggung biaya energi yang sangat besar karena ketergantungannya pada energi fosil," demikian pernyataan dari Komisi Eropa yang merupakan salah satu bagian dari Uni Eropa.
Akibat penutupan Selat Hormuz, Eropa mengeluarkan tambahan biaya sebesar $28 miliar dari impor energi atau sekitar $587 juta per hari, dihitung sejak hari pertama perang.
Dampak yang paling terasa ada pada industri manufaktur dan ektor penerbangan. Pihak Uni Eropa mengimpor hampir 70 persen kebutuhan energinya dari wilayah teluk.
Jika perang masih berlanjut, maka rencana paling sesuai yakni mengurangi jadwal penerbangan dan menggunakan cadangan energi yang tersisa. Selain itu, Uni Eropa juga merencanakan untuk menunda pemberlakukan pajak penerbangan demi menjaga lalu lintas penerbangan tetap ada.
Olivier Jankovec, Direktur Jenderal ACI Eropa menyebutkan, pengurangan jumlah penerbangan akan memdawa dampak paling menyakitkan untuk ekonomi Eropa utamanya yang mengandalkan sektor pariwisata. Makanya, perlu ada penerapan tarif penerbangan yang jelas, begitu pula dengan pajak penerbangan. Ia paham bahwa situasi memang tidak mengenakkan, namun lalu lintas penerbangan tetap harus ada.
Maskapai penerbangan asal Jerman, Lufthansa menyatakan telah menghentikan 20 ribu jadwal penerbangan demi menghemat penggunaan bahan bakar. Jumlah itu masih berpeluang bertambah jika harga bahan bakar terus meninggi.
Pada sektor perikanan, sejumlah kapal penangkap ikan di Eropa telah menghentikn kegiatan mereka karena keuntungan yang diperoleh sudah tergerus oleh kenaikan harga bahan bakar.
Industri manufaktur Eropa juga menjerit karena harga plastik dan deterjen yang bahan utamanya adalah minyak Bumi, ikut naik. BASF, perusahaan kimia asal Jerman, telah menaikkan harga produknya sebesar 30 persen, khususnya untuk bahan-bahan yang menggunakan bahan baku minyak Bumi.(*)








