MAKASSAR, UNHAS.TV - Di balik meningkatnya tren “nabung emas” di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, tersimpan sejumlah risiko yang kerap luput dari perhatian.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin, Prof Dr Mursalim Nohong SE MSi CRA CRP CWM mengingatkan bahwa investasi emas tetap memerlukan pemahaman yang matang agar tidak berujung pada keputusan yang merugikan.
Menurutnya, pemahaman mendasar terkait tujuan investasi menjadi hal pertama yang harus dimiliki oleh setiap individu sebelum memutuskan menaruh dana pada emas.
Ia menekankan bahwa masyarakat perlu menentukan sejak awal apakah investasi tersebut ditujukan untuk jangka pendek, jangka panjang, atau sekadar mengalokasikan dana menganggur (idle cash).
“Tujuan investasi itu harus jelas. Jangan sampai kita masuk tanpa arah, hanya karena melihat tren yang sedang berkembang,” ujarnya.
Selain itu, faktor personal seperti usia dan jenis pekerjaan juga turut memengaruhi keputusan investasi. Emas memang dikenal sebagai instrumen yang relatif aman, namun tetap memiliki dinamika harga yang dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk kondisi geopolitik dan ekonomi internasional.
“Emas itu bukan lagi komoditas lokal, tapi global. Sehingga faktor seperti political risk dan economic risk akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan harganya,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak seharusnya terjebak pada euforia kenaikan harga emas saat ini. Menurutnya, keputusan investasi yang hanya didasarkan pada tren berpotensi menimbulkan kerugian di kemudian hari.
“Kalau hanya melihat harga sekarang yang tinggi lalu ikut-ikutan, itu berisiko. Bisa jadi bukan untung, tapi buntung,” tegasnya.
Dalam praktiknya, Prof Mursalim menilai bahwa perilaku investor saat ini terbagi menjadi dua kelompok, yakni rasional dan irasional.
Investor rasional umumnya memiliki perencanaan keuangan yang matang dan mengalokasikan dana secara proporsional. Sementara itu, investor irasional cenderung dipengaruhi faktor psikologis seperti lingkungan sosial dan tren.
“Yang irasional ini biasanya tidak punya literasi cukup, hanya ikut arus. Ini yang berbahaya,” tambahnya.
Di tengah ketidakpastian global, ia menyarankan agar masyarakat mengedepankan pendekatan rational decision making dengan mempertimbangkan berbagai variabel, termasuk kondisi geopolitik yang sulit diprediksi. Ia juga menekankan pentingnya fleksibilitas dalam mengelola portofolio investasi.
“Kalau perlu, lakukan penyesuaian portofolio secara berkala. Misalnya bulan ini lebih banyak di emas, bulan berikutnya bisa dialihkan ke instrumen lain,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa emas tidak selalu menjadi pilihan utama bagi semua kalangan, khususnya generasi muda. Alternatif seperti saham dinilai memiliki potensi keuntungan yang lebih beragam, baik dari dividen maupun capital gain, meskipun dengan risiko yang lebih tinggi.
Bahkan, ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya berinvestasi, tetapi juga mulai membangun usaha sendiri sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kesejahteraan finansial.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa investasi emas tetap memiliki prospek yang baik, terutama sebagai instrumen untuk menjaga nilai aset dan menyeimbangkan portofolio. Namun, semua itu harus dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif.
“Jangan menaruh ekspektasi berlebihan. Dalam investasi, semakin tinggi return yang diharapkan, maka semakin besar pula risiko yang harus siap dihadapi,” pungkasnya.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin, Prof Dr Mursalim Nohong SE MSi CRA CRP CWM. (Unhas TV)

 Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Nur Alamzah SE MSi-300x163.webp)






