
MUNDUR - Julian Nagelsmann resmi mengundurkan diri hanya beberapa hari setelah Jerman tersingkir dari Piala Dunia. (Screenshot The Sun)
Sejak tidak lagi melatih Liverpool, ia beberapa kali muncul sebagai komentator televisi, termasuk untuk kanal Jerman Magenta dalam liputan Piala Dunia.
Ia juga menjabat kepala sepak bola global Red Bull, posisi yang membuat namanya tetap berada di pusaran elite sepak bola Eropa.
Ketika diminta menanggapi peluang melatih Jerman, Klopp memilih berhati-hati. Ia mengatakan memahami mengapa namanya disebut, tetapi menilai saat ini bukan waktu yang tepat membicarakan hal tersebut.
Sepanjang turnamen, Klopp tidak sepenuhnya menahan kritik terhadap Jerman. Ia sempat mempertanyakan otoritas Nagelsmann pada awal turnamen, lalu meminta maaf secara langsung dalam siaran televisi.
Setelah kekalahan dari Paraguay, Klopp mengatakan Jerman gagal berfungsi sebagai tim dan tidak cukup menciptakan peluang.
Ia juga menyinggung perlunya perubahan dari akar pembinaan. Menurut Klopp, perbaikan Jerman tidak cukup dimulai dari tim senior. Federasi harus melihat kembali pembinaan usia muda, bahkan sejak level anak-anak.
Kritik itu mempertegas besarnya pekerjaan rumah DFB setelah generasi baru seperti Florian Wirtz dan Jamal Musiala belum mampu mengangkat Jerman di panggung dunia.
Kepergian Nagelsmann menandai babak baru krisis sepak bola Jerman. Setelah bertahun-tahun menjadi kekuatan utama dunia, Jerman kini harus membangun ulang identitasnya.
Untuk DFB, penunjukan berikutnya juga akan menjadi keputusan politik sepak bola. Mereka membutuhkan sosok yang bukan hanya mampu menyusun taktik, tetapi juga menenangkan ruang ganti, media, dan suporter yang mulai kehilangan kesabaran.
Jika Klopp menerima tawaran DFB, tugas pertamanya adalah mengembalikan kepercayaan publik yang terkikis oleh kegagalan beruntun. (*)








