Sport

Osimhen Patahkan Mimpi Comeback Si Nyonya Tua di Perpanjangan Waktu

CETAK GOL - Victor Osimhen menolak merayakan gol saat rekan setimnya di Galatasaray mengerumuninya usai membobol Juventus, di leg kedua babak 16 besar Liga Champions di Turin, Kamis (26/2/2026). (the sun)

TURIN, UNHAS.TV - Juventus nyaris menorehkan salah satu comeback terbesar dalam sejarah Liga Champions. Tiga gol tanpa balas di waktu normal, meski bermain dengan 10 orang sejak awal babak kedua, membawa laga kontra Galatasaray ke perpanjangan waktu. Namun satu momen dingin dari Victor Osimhen meruntuhkan segalanya.

Gol Osimhen di extra time, disusul tambahan dari Baris Yilmaz pada menit akhir, memastikan kemenangan 2-3 untuk Galatasaray di Turin dan agregat 5-7. Wakil Turki itu melaju ke babak 16 besar dan akan menghadapi klub Liga Primer Inggris—antara Liverpool atau Tottenham Hotspur.

Sepekan lalu, Juventus hancur 2-5 di kandang lawan. Defisit tiga gol terasa seperti jurang terjal bagi pasukan Luciano Spalletti. Situasi makin berat setelah bek Juan Cabal terkena akumulasi kartu pada leg pertama. Namun di Allianz Stadium, mimpi itu sempat tampak nyata.

Sejak awal laga, Juventus menekan. Intensitas tinggi dipertahankan demi mengejar defisit agregat. Tekanan itu berbuah pada akhir babak pertama.

Lucas Torreira menjatuhkan Khephren Thuram di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih. Manuel Locatelli mengeksekusi dengan tenang. Gol itu menyalakan harapan.

Namun tiga menit setelah jeda, situasi berbalik tegang. Lloyd Kelly melanggar Yilmaz. Awalnya kartu kuning kedua, lalu ditingkatkan menjadi kartu merah langsung setelah wasit Joao Pinheiro meninjau VAR. Juventus harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-48.

Alih-alih runtuh, tuan rumah justru menggandakan determinasi. Dua puluh menit kemudian, serangan cepat di sisi kanan membuka ruang. Pierre Kalulu menusuk dan mengirim umpan tarik. Federico Gatti menyambar dari jarak dekat. Stadion bergemuruh. Agregat menipis.

Galatasaray mulai goyah. Keunggulan nyaman dari leg pertama terkikis. Tekanan Juventus tak berhenti. Situasi bola mati menjadi titik balik berikutnya.

Umpan lambung ke tiang jauh disundul kembali ke tengah kotak penalti. Weston McKennie menyambar bola liar dari jarak dekat. Skor agregat menjadi 5-5. Keajaiban terasa di depan mata.

Juventus tampak lebih mungkin mencetak gol penentu di waktu normal. Galatasaray sesekali mengancam lewat serangan balik, tetapi penyelesaian akhir kurang tajam. Laga pun berlanjut ke perpanjangan waktu.



Statistik Pertandingan Juventus vs Galatasaray. (the sun)


Di extra time, peluang emas justru datang lebih dulu kepada tuan rumah. Umpan tarik Jeremie Boga mengarah sempurna ke McKennie di kotak penalti. Gawang terbuka.

Namun gelandang Amerika Serikat itu memilih mengoper kepada Edon Zhegrova. Sepakan Zhegrova melebar tipis. Kesempatan emas terbuang.

Galatasaray merespons. Leroy Sane mengirim umpan silang berbahaya ke tiang jauh, tetapi tak ada rekan yang menyambut. Pertandingan berjalan di tepi kelelahan. Juventus tetap berlari lebih jauh meski kekurangan satu pemain.

Momentum penentu datang ketika Gatti terpeleset di lini belakang. Osimhen lolos dari kawalan. Penyerang Nigeria itu menenangkan diri sebelum melepaskan sepakan rendah yang menembus kolong kiper Mattia Perin.

Gol itu mematikan Allianz Stadium. Osimhen, yang pernah bersinar di Serie A bersama Napoli dan sempat dikaitkan dengan Juventus, memilih tak merayakan golnya.

Jika masih ada sisa harapan, Yilmaz menghapusnya semenit menjelang bubaran. Ia lolos dari lini belakang yang mulai kehabisan tenaga dan menaklukkan Perin dengan penyelesaian dingin. Skor 2-3 mengunci agregat 5-7.

Peluit panjang dibunyikan. Pemain Juventus terkapar di rumput. Mereka telah berlari lebih jauh dan bertarung lebih keras, bahkan dengan 10 orang. Penonton berdiri memberi tepuk tangan, sebuah penghormatan bagi perjuangan yang nyaris menjadi legenda.

Namun sepak bola tak mengenal kata “nyaris”. Juventus tersingkir. Galatasaray melaju. Dan satu gol Osimhen menjadi pembeda antara dongeng dan kenyataan. (*)