MAKASSAR, UNHAS.TV - Presiden Donald Trump mengancam Iran akan menghancurkan pembangkit listrik dan sumur-sumur minyak milik Iran jika tidak tercapai kesepakan gencatan senjata dan Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Sekretaris Pers Gedung Putih menegaskan, ancaman itu akan disertai dengan operasi militer, namun sejumlah pakar menyebutkan jika serangan terhadap infrastruktur sipil itu terjadi makan Donald Trump masuk dalam jebakan penjahat perang.
Peneliti Senior untuk Keamanan Air di Pusat Kajian Internasional dan Strategis (CSIS) David Michel menyebutkan, jika As menyerang pusat penyaringan air bersih Iran maka akan terjadi dua hal yakni tindakan ini dapat disebut sebagai eskalasi provokatif dan kedua, adalah ini adalah kejahatan oerang.
Seorang pakar kebijakan publik di Doha Institute, Laurent Lambert, menyebutkan, serangan terhadap fasillitas air bersih akan mengakibatkan Iran akan kesulitan karena hanya bisa bertahan dalam beberapa pekan.
Pihak Amnesty Intrnational juga mewanti-wanti Donald Trump untuk tidak melaksanakan ancamannya karena ini akan memperburuk situasi rakyat sipil. Serangan terhadap infrastruktur energi akan membawa risiko pelanggaran terhadap hukum humanitarian internasional.(*)





-300x200.webp)


