VATIKAN, UNHAS.TV- Paus Leo XIV kembali melontarkan kritik tidak langsung terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seiring meningkatnya intervensi Washington di Venezuela dan menguatnya ketegangan geopolitik global.
Sejak terpilih sebagai paus pada Mei tahun lalu, Leo XIV secara konsisten menyuarakan kritik, baik tersirat maupun terbuka, terhadap kebijakan Trump terkait imigrasi dan politik luar negeri, sebagaimana dilaporkan AXIOS (10/1/ 2026).
Dalam pidato tahunan kepada korps diplomatik di Vatikan pada Jumat, yang menjadi pernyataan menyeluruh arah kebijakan luar negeri Takhta Suci, Paus Leo XIV mengecam “diplomasi berbasis kekuatan” serta apa yang ia sebut sebagai “gairah terhadap perang.”
Meski tidak menyebut nama pemimpin dunia secara langsung, Paus menyinggung serangan militer Amerika Serikat di kawasan Karibia dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, sambil memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Laut Karibia dan sepanjang pesisir Pasifik Amerika merupakan sumber keprihatinan serius.
Dalam konteks Venezuela, Paus Leo XIV menyerukan solusi politik damai yang mengutamakan kepentingan umum rakyat, bukan kepentingan partisan, serta menegaskan perlunya menghormati kehendak rakyat dan melindungi hak asasi manusia serta hak-hak sipil.
Ia juga menegaskan bahwa Venezuela harus tetap menjadi negara yang merdeka dan berdaulat, sembari mengaku mengikuti perkembangan situasi di negara itu dengan keprihatinan mendalam setelah operasi militer Amerika Serikat dan penangkapan Maduro.
Bulan sebelumnya, Paus bahkan memperingatkan kemungkinan aktivitas Amerika Serikat yang dapat mengarah pada invasi wilayah Venezuela, seraya menekankan bahwa dialog merupakan jalan yang jauh lebih bijaksana untuk ditempuh.
Di antara baris pernyataannya, Leo XIV menegaskan kekhawatiran banyak pengamat internasional bahwa langkah-langkah Trump di Venezuela berpotensi menjurus pada kontrol Amerika Serikat atas negara tersebut, terutama di tengah melimpahnya cadangan minyak AS yang memperkuat posisi tawar Washington.
Dalam isu hubungan trans-Atlantik, Paus Leo XIV bulan lalu juga memperingatkan pemerintahan Trump atas apa yang ia sebut sebagai upaya “memecah” aliansi strategis antara Amerika Serikat dan Eropa.
Menanggapi rencana perdamaian yang diusulkan Washington untuk konflik Rusia–Ukraina, Paus menyatakan bahwa apa yang ia lihat mencerminkan perubahan besar dari hubungan yang selama puluhan tahun menjadi aliansi sejati antara Eropa dan Amerika Serikat.
Ia menyinggung pernyataan Trump yang menggambarkan sekutu Eropa sebagai pihak yang “melemah,” sebuah narasi yang menurut Paus berpotensi merusak aliansi penting bagi masa kini dan masa depan.
Menurut keterangan Vatikan, Leo XIV juga menekankan bahwa peran Eropa sangat krusial dalam setiap upaya perundingan damai dan menilai tidak realistis mencapai kesepakatan tanpa keterlibatan benua tersebut.
Dalam isu imigrasi, pada November lalu Paus Leo XIV mendukung pernyataan para uskup Katolik Amerika Serikat yang mengkritik kebijakan imigrasi dan deportasi massal pemerintahan Trump.
Ia menegaskan bahwa persoalan imigrasi harus ditangani secara manusiawi dan bermartabat melalui sistem hukum, tanpa harus membuka perbatasan secara bebas.
Paus mengingatkan bahwa memperlakukan para migran yang telah hidup bertahun-tahun di Amerika Serikat dengan cara yang tidak manusiawi, bahkan disertai kekerasan, merupakan pelanggaran serius terhadap martabat manusia.
Mengakhiri pidatonya, Paus Leo XIV mengajak masyarakat Amerika Serikat untuk mendengarkan suara para pemimpin gereja yang menyerukan keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia di tengah mengerasnya kebijakan politik. (*)
Paus Leo XIV menyampaikan pidato kepada para duta besar dan perwakilan diplomatik lainnya yang terakreditasi pada Takhta Suci di Istana Apostolik, Vatikan, pada 9 Januari 2026. Kredit: Vatican Media







-300x169.webp)
