SETAHUN silam, seorang profesor geopolitik asal Tiongkok, Prof. Jiang Suin, melalui kanal Youtube Predicttive History, telah memperingatkan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan bergerak menuju konfrontasi terbuka dengan Iran.
Kini, ketika kapal induk Amerika kembali berlayar ke Timur Tengah dan retorika perang semakin keras, analisis itu terasa semakin relevan.
Namun yang paling mencuri perhatian bukan sekadar prediksinya tentang serangan Amerika, melainkan kesimpulannya yang jauh lebih berani: jika perang benar-benar terjadi, Amerika justru akan masuk ke dalam apa yang ia sebut sebagai “Iran’s Trap” atau jebakan Iran, dan mengalami kekalahan strategis.
***
KAPAL induk USS Gerald Ford bergerak menuju Timur Tengah, menyusul USS Abraham Lincoln. Pesan yang dikirim Washington sangat jelas. Dalam doktrin militer Amerika, kapal induk adalah simbol supremasi—panggung terapung yang membawa kekuatan udara ke mana saja di dunia. Ia tidak sekadar alat tempur, melainkan alat psikologis.
“Kapal induk adalah simbol klasik kekuasaan Amerika, platform besi raksasa yang dimaksudkan untuk menanamkan rasa gentar bahkan sebelum satu misil dilepaskan,” ujar Prof. Jiang Suin.
Dalam bahasa strategis Washington, kehadiran kapal induk selalu berarti satu hal: kesiapan untuk menyerang. Tetapi, menurut Jiang, Iran tidak membaca sinyal itu sebagai ancaman yang mematikan. Justru sebaliknya.
“Bagi Teheran, kemunculan kapal induk menandai momen ketika Amerika mulai melangkah masuk ke wilayah paling berbahaya dalam sejarah imperialnya sendiri.”
Jika serangan udara presisi benar-benar terjadi, pola operasinya dapat ditebak. Serangan dilakukan cepat, target-target tertentu dihantam, dan narasi kemenangan segera diproduksi untuk konsumsi publik global. Washington akan menyebutnya sebagai bukti efektivitas intelijen dan superioritas militer.
Namun Jiang menekankan bahwa di situlah letak perbedaan mendasar antara kemenangan citra dan kemenangan nyata. “Serangan semacam itu tidak dirancang untuk memenangkan perang. Ia dirancang untuk menciptakan ilusi kemenangan. Iran memahami perbedaan ini, dan justru memanfaatkannya.”
Simulasi Perang
Yang jarang diketahui publik, menurut Jiang, adalah bahwa Amerika Serikat telah berulang kali melakukan simulasi perang melawan Iran. Dalam berbagai war games internal Pentagon maupun lembaga think tank strategis seperti RAND, skenario konflik dengan Iran telah diuji dalam beragam model.
Hasilnya cenderung konsisten. Serangan awal Amerika memang menunjukkan kekuatan besar dan kemampuan teknologi tinggi. Namun setelah fase pertama berlalu, konflik hampir selalu berubah menjadi perang regional berkepanjangan.
Dalam skenario tersebut, pangkalan Amerika di kawasan Teluk menjadi target balasan misil Iran. Armada laut menghadapi ancaman asimetris berupa ranjau, drone, dan kapal cepat. Biaya logistik melonjak drastis, sementara tekanan politik internasional meningkat.
“Tidak ada jalur kemenangan cepat tanpa eskalasi besar,” kata Jiang. “Dan eskalasi besar berarti biaya politik dan militer yang tidak dapat diterima Amerika.”
Artinya, perang melawan Iran mungkin dapat dimulai oleh Washington. Tetapi begitu perang itu berkembang, kendali atas eskalasi tidak lagi sepenuhnya berada di tangan Amerika.
Strategi Kesabaran Iran
Menurut Prof. Jiang Suin, kekuatan Iran tidak terletak pada superioritas teknologi atau anggaran militer, melainkan pada strategi jangka panjang dan kesabaran.
Iran tidak akan membalas dengan satu serangan besar yang dramatis. Justru dengan membiarkan Amerika menyerang lebih dulu, Teheran memperoleh posisi moral sebagai pihak yang diserang.
Dalam konteks politik global, posisi ini penting. Narasi defensif memudahkan Iran mendapatkan simpati dari negara-negara non-Barat dan memperkuat legitimasi domestik.
“Serangan asing selalu menjadi perekat nasional paling efektif,” ujarnya. “Ketika ancaman eksternal muncul, perbedaan internal mengecil.”
Balasan Iran, menurut Jiang, akan muncul dalam bentuk tekanan berlapis. Gangguan terbatas terhadap jalur maritim vital seperti Selat Hormuz cukup untuk mengguncang pasar energi dunia tanpa harus menutupnya sepenuhnya.
Operasi proksi di kawasan dapat membuka banyak front kecil sekaligus, memaksa Amerika menyebarkan sumber daya militernya. Serangan siber dan perang informasi mampu mengganggu logistik serta memengaruhi opini publik tanpa konfrontasi langsung.
Semua ini telah dipelajari Iran selama bertahun-tahun. Bahkan, kata Jiang, Iran memahami kelemahan Amerika dari hasil simulasi perang yang dilakukan Washington sendiri.
Mengapa Iran “Menang”?
Dalam analisis akhir Prof. Jiang Suin, kemenangan Iran tidak berarti menghancurkan militer Amerika secara total. Kemenangan itu berarti memaksa Amerika kalah menurut definisi kemenangan yang diciptakannya sendiri.
.webp)
Amerika menginginkan perang singkat, murah, dan menentukan. Iran justru menawarkan perang panjang, mahal, dan penuh ambiguitas. Dalam perang seperti ini, keunggulan teknologi tidak selalu menentukan. Yang menentukan adalah daya tahan.
“Amerika mengandalkan bom, dolar, dan propaganda,” kata Jiang. “Iran mengandalkan waktu, ketahanan, medan, dan kesabaran strategis.”
Dalam perspektif game theory, jika konflik dapat diperpanjang hingga melampaui batas toleransi politik dan ekonomi lawan, maka pihak yang tampak lebih lemah secara konvensional justru bisa unggul.
Ketika dukungan publik Amerika mulai melemah dan biaya perang terus meningkat, tekanan untuk mundur akan datang dari dalam negeri sendiri.
Dengan demikian, menurut Jiang, kemenangan Iran bukanlah kemenangan dalam arti klasik militer. Ia adalah kemenangan dalam mengubah medan permainan—dari perang cepat yang diinginkan Amerika menjadi perang panjang yang melelahkan.
Dunia kini berada dalam fase yang rawan, ketika kekuatan besar yang merasa reputasinya terancam cenderung bertindak agresif untuk memulihkannya.
Namun seperti yang telah diperingatkan Prof. Jiang Suin setahun lalu, justru dalam upaya mempertahankan supremasi itulah sebuah imperium bisa terperosok lebih dalam ke dalam jebakan yang ia abaikan.
undefined








