MAKASSAR, UNHAS.TV - Penggunaan layanan pinjaman daring dan pay later di kalangan Generasi Z semakin mendapat perhatian.
Kemudahan mengakses dana dalam waktu singkat dinilai dapat membantu kebutuhan mendesak, tetapi berpotensi menjerat penggunanya dalam masalah keuangan jika tidak disertai perhitungan matang.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan sekitar 58 persen Generasi Z menggunakan pinjaman daring dan pay later untuk memenuhi kebutuhan konsumtif serta gaya hidup.
Fenomena takut tertinggal tren atau fear of missing out alias FOMO menjadi salah satu faktor yang mendorong anak muda memanfaatkan fasilitas keuangan digital tersebut.
Akses yang mudah melalui telepon seluler membuat pengguna dapat mengajukan pinjaman atau membeli barang dengan sistem pembayaran tertunda dalam hitungan menit.
Namun, kemudahan itu tidak selalu diikuti pemahaman mengenai bunga, denda keterlambatan, tenor pembayaran, dan kemampuan melunasi tagihan.
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin angkatan 2023, Ferdi Apriliawan, mengatakan pay later merupakan fasilitas keuangan yang memiliki dua sisi.
Layanan ini dapat menjadi jalan keluar ketika mahasiswa menghadapi kebutuhan mendesak, tetapi bisa berubah menjadi sumber masalah apabila digunakan tanpa kendali.
“Bisa dikatakan seperti pisau bermata dua. Di satu sisi menjadi opsi cepat bagi mahasiswa untuk mendapatkan uang, walaupun nanti tetap harus digantikan,” kata Ferdi saat ditemui di Warkop Azzahra, Makassar, Kamis (16/7/2026).
Menurut dia, risiko muncul ketika pengguna dapat memperoleh pinjaman dalam jumlah besar tanpa terlebih dahulu menentukan tujuan penggunaannya. Dana yang mudah didapat berpotensi digunakan untuk kegiatan konsumtif, permainan daring, hingga perjudian daring.
Ferdi mengatakan terdapat perbedaan antara penggunaan pinjaman untuk kebutuhan primer dan kebutuhan tersier.
Penggunaan untuk membayar biaya tempat tinggal, membeli makanan, atau memenuhi keperluan kuliah masih dapat dipertimbangkan apabila peminjam memiliki sumber pendapatan dan rencana pembayaran yang jelas.
Sebaliknya, penggunaan untuk mengikuti gaya hidup, membeli barang yang tidak mendesak, bermain gim, atau berjudi berisiko memperburuk kondisi keuangan.
Kebiasaan mengandalkan dana instan juga dapat membuat seseorang terus menambah pinjaman ketika tagihan sebelumnya belum selesai dibayar.
“Kalau digunakan untuk kebutuhan kos, makan, atau urusan kuliah, itu sebenarnya bisa berdampak positif,” ujar Ferdi.
“Namun, kalau digunakan untuk gaya-gayaan, bermain gim, atau berjudi, justru akan menjadi masalah yang signifikan ke depan,” lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa dana yang diperoleh melalui pay later bukanlah tambahan pendapatan. Seluruh jumlah yang digunakan tetap tercatat sebagai utang dan harus dikembalikan sesuai ketentuan penyedia layanan.
Kesalahan memahami dana pinjaman sebagai uang milik sendiri dapat membuat pengguna mengabaikan konsekuensi jangka panjang. Selain tagihan pokok, pengguna juga harus memperhitungkan biaya layanan, bunga, dan denda apabila terlambat membayar.
Ferdi menilai kesadaran pribadi menjadi langkah utama untuk mencegah penggunaan pay later secara berlebihan. Sebelum menggunakan layanan tersebut, pengguna perlu menilai tingkat kebutuhan, kemampuan membayar, serta risiko apabila sumber pendapatan terganggu.
“Walaupun bisa dikatakan sebagai uang instan, itu tetap bukan milik kita,” tuturnya. “Kita mengambil seratus ribu atau bahkan sampai sepuluh juta rupiah, semuanya tetap menjadi pinjaman yang sewaktu-waktu dapat menjadi bumerang.”
Menurut Ferdi, pinjaman dalam jumlah kecil sekalipun perlu dipikirkan secara hati-hati. Semakin besar nilai pinjaman, semakin besar pula beban yang harus ditanggung pada masa mendatang.
Ia berharap generasi muda meningkatkan literasi keuangan sebelum menggunakan fasilitas kredit digital. Anak muda juga perlu membedakan kebutuhan dan keinginan agar kemudahan teknologi tidak mendorong perilaku konsumtif.
Penggunaan pay later, kata Ferdi, semestinya ditempatkan sebagai pilihan terakhir untuk kebutuhan yang benar-benar penting, bukan sebagai sumber dana rutin.
Tanpa disiplin dan perencanaan, fasilitas yang awalnya menawarkan kemudahan dapat berubah menjadi lingkaran utang yang sulit dihentikan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Mahasiswa Hubungan Internasional Unhas angkatan 2023, Ferdi Apriliawan. (Unhas TV / Venny Septiani)
-300x149.webp)





-300x169.webp)

