Internasional

Penculikan Maduro dan Pesan Trump kepada Negara-Negara Asia Barat:Iran

"Sinyal Global di Balik Tekanan Terhadap Maduro." Bagi banyak analis, tindakan Washington terhadap Nicolás Maduro bukan sekadar persoalan Amerika Latin, melainkan laboratorium kebijakan 'Maximum Pressure' yang juga ditujukan untuk menekan pengaruh Iran di Asia Barat.

NEW YORK, UNHAS.TV- Media Amerika Axios, Sabtu (3/1/2026), melaporkan bahwa Nicolás Maduro, Presiden Venezuela, bersama istrinya disebut akan dipindahkan ke Pusat Penahanan Metropolitan (Metropolitan Detention Center/MDC) di Brooklyn, New York.

Dalam laporan Axios menyebut bahwa penjara yang dikenal luas dengan sebutan MDC itu memiliki reputasi buruk dan kerap menjadi sorotan karena menangani banyak perkara besar serta menahan tahanan-tahanan terkenal dan kontroversial.

Menurut laporan tersebut, MDC dikenal memiliki kondisi penahanan yang tidak layak, fasilitas yang menua, standar kebersihan yang rendah, serta persoalan keamanan. Lembaga ini berulang kali menuai kritik dari organisasi-organisasi hak asasi manusia di Amerika Serikat.

Axios mengutip pernyataan Jody Garrett, mantan pejabat Biro Penjara Federal Amerika Serikat, yang menyebut bahwa MDC memiliki pengalaman panjang dalam menangani tahanan berprofil tinggi. Ia mengatakan Maduro kemungkinan akan ditempatkan terlebih dahulu di unit penahanan khusus, sebelum kemudian dipindahkan ke bagian yang diperuntukkan bagi tahanan berpengaruh.

Mengapa Trump Menculik Maduro?

Donald Trump menculik Nicolás Maduro tidak berdiri sendiri sebagai persoalan Amerika Latin, melainkan dipahami banyak analis sebagai bagian dari pesan strategis yang lebih luas kepada negara-negara yang menantang dominasi Washington—terutama di kawasan Asia Barat, dengan Iran sebagai sasaran utama.

Sejumlah pengamat kebijakan luar negeri menilai bahwa cara Amerika Serikat memperlakukan Venezuela di era Donald Trump mencerminkan model tekanan maksimal yang juga diterapkan terhadap Iran: sanksi ekonomi ekstrem, delegitimasi pemimpin, isolasi diplomatik, dan ancaman personal terhadap elite kekuasaan.

“Venezuela dan Iran diperlakukan sebagai laboratorium tekanan maksimum—bukan untuk dijatuhkan semata, tetapi untuk dijadikan peringatan bagi negara lain,” tulis The Guardian dalam analisisnya tentang kebijakan sanksi AS (22 Januari 2024).

Dalam kerangka ini, narasi tentang “pembidikkan” terhadap Maduro dibaca sebagai pesan simbolik kepada negara-negara Asia Barat yang berada di luar orbit Amerika Serikat—mulai dari Iran, Yaman,Lebanon, Irak hingga kelompok-kelompok sekutu Teheran di kawasan. Pesannya jelas: Washington ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan nasional pun tidak kebal ketika dianggap mengancam kepentingan Amerika.

Iran berada di pusat pesan tersebut. Sejak keluar dari kesepakatan nuklir 2015, pemerintahan Trump menjadikan Teheran sasaran kebijakan maximum pressure paling agresif dalam sejarah modern. The New York Times mencatat bahwa sanksi terhadap Iran dirancang bukan hanya untuk menekan ekonomi, tetapi untuk mengubah perilaku regional dan jaringan aliansinya (12 Oktober 2023).

Pola yang sama, menurut sejumlah analis Eropa, tampak dalam cara Amerika menghadapi Venezuela. Tuduhan narkotika terhadap Maduro, penawaran hadiah penangkapan, hingga upaya membekukan aset negara dibaca sebagai alat hukum dan ekonomi untuk menekan rezim, serupa dengan tuduhan terorisme dan pelanggaran HAM yang dialamatkan kepada Iran dan sekutunya.

“Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan konflik, melainkan untuk menciptakan efek jera lintas kawasan,” tulis Foreign Affairs dalam ulasan tentang kegagalan strategi sanksi personal (November 2023).

Hubungan Venezuela dengan Iran turut memperkuat pembacaan ini. Dalam satu dekade terakhir, Caracas dan Teheran memperdalam kerja sama energi, transportasi, dan logistik—sebuah kemitraan yang oleh Washington dipandang sebagai tantangan langsung terhadap rezim sanksi global. Reuters mencatat bahwa kerja sama Iran–Venezuela berperan penting dalam membantu kedua negara bertahan di bawah tekanan ekonomi AS (laporan berkala 2023–2024).

Di Asia Barat sendiri, pesan ini diterima dengan kacamata berbeda. Banyak analis regional menilai bahwa pengalaman Iran justru menunjukkan batas efektivitas tekanan Amerika. Meski dikenai sanksi paling keras, Iran tetap bertahan secara politik, memperluas jejaring regional, dan mengembangkan mekanisme untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.

“The lesson Washington refuses to learn is that pressure does not erase political identity,” tulis The Economist dalam analisis tentang ketahanan negara-negara yang disanksi (15 April 2024).

Itulah sebabnya, menurut sejumlah pengamat, tekanan terhadap Maduro tidak dimaksudkan semata untuk menjatuhkan satu rezim di Amerika Latin, melainkan untuk mengirim sinyal ke Teheran dan sekutunya: bahwa Amerika Serikat masih mengklaim hak untuk menentukan batas legitimasi kepemimpinan nasional di berbagai kawasan.

Namun realitas di lapangan kerap berlawanan dengan tujuan tersebut. Seperti Iran, Venezuela menunjukkan bahwa tekanan eksternal sering kali memperdalam resistensi internal, bukan mempercepat perubahan politik. Financial Times bahkan menilai bahwa pendekatan ini berisiko mendorong terbentuknya blok negara-negara yang semakin terlepas dari sistem ekonomi Barat (18 Juni 2024).

Dari Caracas hingga Teheran, satu benang merah tampak jelas: Amerika Serikat berhadapan bukan hanya dengan individu seperti Maduro, tetapi dengan negara-negara yang menolak tunduk pada arsitektur kekuasaan global yang ada. Dan selama pendekatan yang sama terus diulang, pesan yang diterima di Asia Barat bukanlah ketakutan—melainkan konfirmasi bahwa perlawanan kolektif dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang tersisa.(*)