Internasional
Polhum

Peneliti CSIS Indonesia Sebut ASEAN Centrality Tergerus Perubahan Struktur Global

ANDREW MANTONG – Peneliti Senior Departemen HI CSIS Indonesia. (Unhas TV/Rahmatia)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Peneliti senior Departemen Hubungan Internasional CSIS Indonesia, Andrew Mantong, menilai prinsip ASEAN Centrality atau posisi ASEAN sebagai poros dan penentu agenda di Asia Tenggara kini menghadapi tekanan besar.

Hal ini disampaikan dalam diskusi publik di Makassar, Selasa (19/5/2026). Mantong menekankan perubahan struktur sistem internasional sebagai penyebab utama memudarnya peran ASEAN di kancah regional.

Menurut Mantong, dukungan diplomatik terhadap ASEAN secara simbolik masih ada, tetapi kemampuan dan keinginan Amerika Serikat untuk hadir di kawasan kini berubah. Kehadiran AS tidak lagi mendikte arah kawasan seperti sebelumnya.

Sebaliknya, China semakin kuat dan memiliki kapabilitas power projection, yang membuat Beijing lebih percaya diri menentukan tatanan kawasan sesuai kepentingannya.

“ASEAN centrality jelas sudah terkikis dengan sistem internasional yang berubah. Terkikisnya terutama dari faktor struktural. Dukungan diplomatik secara simbolik masih ada, tapi kemampuan dan keinginan AS untuk hadir, tapi kehadirannya tidak mendikte di kawasan, itu berubah," ujar Andrew.

"Faktanya China semakin kuat dan memiliki kapabilitas untuk membina power projection melawan AS, sehingga bisa lebih confident untuk menentukan tatanan kawasan seperti apa yang dia inginkan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Andrew Mantong menjelaskan, kondisi ini berbeda dari situasi awal berdirinya ASEAN. Saat itu, PBB relatif stabil, dan hegemon Amerika Serikat masih kuat baik dari sisi militer maupun nilai-nilai seperti demokrasi dan bantuan luar negeri.

"Melemahnya tatanan yang pernah ada berdampak langsung pada posisi ASEAN sebagai penentu agenda regional," kata Andrew.

Tantangan terbesar muncul ketika negara-negara anggota ASEAN memiliki interaksi dan intensitas hubungan berbeda dengan kekuatan besar. Beberapa negara lebih dekat dengan China, sementara negara lain cenderung menjadi aliansi AS di kawasan.

“Ini sebetulnya membawa kita lagi kepada recheck karena efeknya terhadap sentralitas adalah menekankan sentralitas di tengah fakta bahwa kita punya interaksi dan intensitas yang berbeda-beda di antara negara-negara ASEAN dalam hal bagaimana mereka berhubungan dengan kekuatan besar seperti China.

"Bukan rahasia lagi bahwa beberapa negara lebih dekat ke China dan beberapa negara lain bahkan bisa digolongkan sebagai aliansi AS di kawasan ini. Tentunya ini adalah tantangan besar untuk sentralitas ASEAN,” lanjut Andrew Mantong.

Menurutnya, perbedaan sikap negara anggota terhadap AS dan China menjadi ujian sesungguhnya bagi prinsip sentralitas.

Ketika setiap negara memiliki prioritas dan kedalaman hubungan berbeda dengan kekuatan besar, peran ASEAN sebagai satu suara dan penentu agenda kawasan menjadi sulit dijaga.

Mantong menegaskan, ASEAN harus segera melakukan evaluasi ulang agar prinsip sentralitas tidak hanya menjadi jargon diplomatik, tetapi tetap relevan dalam menghadapi perubahan geopolitik global yang semakin kompleks.

Upaya ini mencakup penguatan koordinasi internal, harmonisasi kebijakan luar negeri, dan strategi diplomasi yang adaptif terhadap dinamika kekuatan besar.

Diskusi publik ini diharapkan menjadi ruang analisis bagi akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk merumuskan rekomendasi kebijakan luar negeri ASEAN yang relevan, responsif, dan berkelanjutan.

(Rahmatia Ardi / Andrea Ririn Karina / Unhas TV)