MAKASSAR, UNHAS.TV — Dalam sebuah momentum akademik yang nyaris menyerupai “deklarasi perang ilmiah” terhadap krisis gizi global, The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH 3) yang digelar pada 8–9 April 2026 di UNHAS Hotel and Convention tampil sebagai panggung strategis yang mempertemukan intelektual dunia untuk membongkar secara radikal kompleksitas “triple burden of malnutrition” yang kini mengancam masa depan generasi manusia.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) bersama Indonesian Center for Nutrition Studies (ICONS) ini bukan sekadar forum ilmiah biasa, melainkan episentrum pertarungan ide, data, dan solusi berbasis sains untuk menjawab paradoks global di mana kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien terjadi secara simultan dalam satu populasi.

Mahasiswa FKM Unhas tampil memukau di ICNPH 3, mengukuhkan peran generasi muda sebagai garda depan perang ilmiah melawan krisis gizi global. (Dok.Pribadi).
Dalam pidato pembukaannya, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, Ph.D, Dekan FKM Unhas, menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi krisis yang tidak lagi bisa diselesaikan dengan pendekatan sektoral sempit, melainkan membutuhkan revolusi paradigma melalui integrasi ilmu kesehatan masyarakat, kebijakan publik, hingga inovasi teknologi berbasis data.
Sementara itu, keynote speech yang disampaikan oleh Mamadou Ndiaye dari UNICEF memaparkan lanskap global yang mencengangkan, di mana menurut laporan terbaru lembaga tersebut lebih dari 2,3 miliar orang di dunia mengalami kondisi malnutrisi dalam berbagai bentuk, sehingga menuntut intervensi lintas negara yang berbasis bukti ilmiah dan keadilan sosial.
Forum ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai penjuru, mulai dari mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi gizi, hingga tenaga kesehatan internasional, yang menjadikan Makassar sebagai simpul intelektual global dalam diskursus kesehatan masyarakat yang semakin kompleks dan multidimensional.
.webp)
Prestasi gemilang mahasiswa FKM Unhas menembus panggung global, A. Rania Adlia raih Best Oral Student Presenter di ICNPH 3. (Dok.Pribadi).
Yang paling mencuri perhatian dalam forum bergengsi ini adalah keterlibatan aktif mahasiswa Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas yang tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi tampil sebagai produsen pengetahuan melalui presentasi ilmiah yang kompetitif di tingkat internasional.
Di bawah bimbingan Suci Ramadani, mahasiswa bernama A. Rania Adlia tampil memukau dalam sesi oral presentation dengan riset yang tidak hanya tajam secara metodologis tetapi juga relevan terhadap problem kebijakan kesehatan kontemporer, sementara A. Nurhusna memperkuat kontribusi ilmiah melalui presentasi poster yang dipajang sepanjang konferensi berlangsung.
Prestasi monumental pun diraih ketika A. Rania Adlia dinobatkan sebagai Best Oral Student Presenter, sebuah capaian yang bukan hanya simbol kemenangan individu, tetapi juga legitimasi kualitas akademik Universitas Hasanuddin dalam peta persaingan global ilmu kesehatan masyarakat.
Lebih dari sekadar seremoni akademik, konferensi ini juga menghasilkan rekomendasi ilmiah strategis yang menekankan pentingnya pendekatan holistik berbasis intervensi komunitas, penguatan sistem pangan berkelanjutan, serta pemanfaatan big data dan artificial intelligence dalam pemetaan risiko gizi di masa depan.

Mahasiswa FKM Unhas tampil percaya diri mempresentasikan riset ilmiah, memperkuat kontribusi akademik dalam perang global melawan malnutrisi. (Dok.Pribadi).
Dalam konteks Indonesia, isu triple burden of malnutrition menjadi semakin relevan mengingat data menunjukkan bahwa prevalensi stunting masih berada pada kisaran signifikan, sementara obesitas dan penyakit tidak menular terus meningkat secara eksponensial, menciptakan tekanan ganda terhadap sistem kesehatan nasional.
ICNPH 3 dengan demikian tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga manifestasi nyata dari diplomasi ilmiah Indonesia dalam membangun jejaring global untuk menyelamatkan generasi masa depan dari krisis gizi yang kian kompleks.
Penutupan konferensi pada 9 April 2026 ditandai dengan pembacaan rekomendasi ilmiah yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi diarahkan sebagai blueprint kebijakan berbasis riset yang diharapkan mampu menginspirasi transformasi sistem kesehatan, baik di tingkat nasional maupun global.(*)
FKM Unhas memimpin perang ilmiah global melawan triple burden of malnutrition melalui riset, data, dan inovasi. (Ilustrasi dibuat oleh AI).







-300x174.webp)
