JAKARTA, UNHAS.TV— Dalam pertemuan yang berlangsung hangat namun sarat agenda masa depan, Prof. Dr. dr. Idrus Andi Paturusi, Sp.B, Sp.OT(K), Rektor Unhas periode 2006–2014, bertemu dengan Duta Besar Republik Islam Iran, Dr. H.E. Mohammad Boroujerdi, di Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Prof. Idrus menyampaikan kepada redaksi Unhas TV melalui WhatsApp bahwa dialog keduanya berfokus pada peluang kerja sama produk kesehatan serta peranan teknologi nuklir di bidang kesehatan, pertanian, dan berbagai sektor strategis lain yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan umat manusia.
Bagi kedua pihak, pembahasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana diplomatik semata, melainkan dipandang sebagai pintu masuk menuju kolaborasi konkret yang menghubungkan sains, layanan publik, dan diplomasi pengetahuan di tingkat internasional.
Nuklir sebagai Teknologi Kehidupan
Dalam perbincangan itu, teknologi nuklir ditempatkan sebagai “teknologi kehidupan” yang bekerja senyap namun menentukan, terutama ketika hadir dalam layanan kesehatan modern.
Di dunia medis, teknologi nuklir terwujud melalui kedokteran nuklir, mulai dari diagnostik berbasis radioisotop, pemindaian fungsi organ, hingga dukungan terapi kanker melalui radioterapi dan pengembangan radiopharmaceutical.
Di sektor pertanian dan pangan, pemanfaatan radiasi berperan dalam peningkatan mutu benih, pengendalian hama tertentu, riset ketahanan tanaman, serta pengawetan pangan melalui proses iradiasi untuk memperpanjang masa simpan dan menekan kontaminasi mikroba.
Dalam lanskap ilmu pengetahuan global, arah pembicaraan ini menegaskan bahwa riset nuklir berorientasi damai semakin penting karena menyentuh kebutuhan universal: kesehatan, keamanan pangan, dan kualitas hidup manusia.

Peresmian Iranian Corner Universitas Hasanuddin oleh Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Dr. Behrooz Kamalvandi, didampingi Rektor Unhas Prof. Dr. dr. Idrus Andi Paturusi, Sp.B, Sp.OT(K), pada 28 November 2007 di Lantai Dasar Perpustakaan Universitas Hasanuddin.
Jejak Kerja Sama yang Telah Lama Terbangun
Pertemuan Prof. Idrus dengan Kedutaan Iran bukanlah bab pertama dalam hubungan akademik kedua pihak.
Pada 28 November 2007, saat menjabat sebagai Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Idrus mendirikan Iranian Corner Unhas yang diresmikan oleh Duta Besar Iran saat itu, Dr. Behrooz Kamalvandi.
Langkah tersebut menjadi penanda awal bahwa kerja sama Unhas–Iran dibangun melalui jalur pendidikan, kebudayaan, dan penguatan jejaring akademik, jauh sebelum percakapan teknologi nuklir kembali mengemuka dalam format yang lebih aplikatif.
Tahun 2004: Misi Kemanusiaan ke Iran
Keterhubungan Prof. Idrus dengan Iran juga tercatat dalam buku Idrus Andi Paturusi: Dokter di Medan Lara (Sili Suli & Hurri Hasan, 2020), yang merekam peristiwa gempa dahsyat di Bam, Provinsi Kerman, pada 26 Desember 2003.
Gempa tersebut menewaskan sedikitnya 20 ribu orang dan melukai sekitar 50 ribu orang, mengubah kota Bam menjadi ruang darurat kemanusiaan yang menyita perhatian dunia.
Di Indonesia, pemerintah menyampaikan belasungkawa resmi, sementara umat Islam melaksanakan salat gaib untuk para korban, namun dorongan untuk membantu secara langsung segera menguat.
Gagasan pengiriman bantuan medis muncul ketika dr. Farid Husain—alumnus Fakultas Kedokteran Unhas yang saat itu menjabat Deputi Menko Kesra—mengusulkan langkah cepat kepada Menko Kesra Jusuf Kalla.
Usulan tersebut disambut positif, dan Prof. Idrus dihubungi untuk menyiapkan tim medis dari Makassar yang akan bertugas ke Iran.
Tim Bantuan Kemanusiaan Indonesia kemudian dibentuk dari unsur sipil dan militer, melibatkan dokter dari Unhas, UI, Unair, serta dokter TNI dari Batalyon Kesehatan Kostrad dan TNI AL.
Keberangkatan tim dilepas pada 2 Januari 2004 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, didampingi jajaran pejabat negara, dengan total personel 57 orang dan dukungan peralatan medis untuk rumah sakit lapangan berkapasitas 15 tempat tidur.
Rombongan menempuh perjalanan udara lebih dari 30 jam menuju Iran, sempat transit di Islamabad, lalu bergerak menuju Jiroft sebelum akhirnya ke Bam.
Dalam perjalanan, insiden berhentinya salah satu baling-baling pesawat Hercules di atas wilayah Yazd menjadi ujian yang memaksa seluruh tim bersandar pada ketenangan pilot dan doa bersama.
Di Jiroft, atas permintaan pemerintah Iran, tim Indonesia terlebih dahulu membuka layanan bagi ribuan pengungsi yang belum banyak tersentuh bantuan medis.
Mereka menghadapi iklim gurun yang ekstrem—siang membakar dan malam membeku—namun layanan tetap berjalan, dengan penanganan dominan pada patah tulang, trauma, infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, dan diare.
Catatan dalam buku menyebut sekitar 2.573 pasien tertangani selama penugasan di Jiroft sebelum misi berlanjut ke Bam dan akhirnya kembali ke Teheran untuk kepulangan bertahap.

Dokumentasi kepemimpinan Prof. Dr. dr. Idrus Andi Paturusi dalam Misi Bantuan Kemanusiaan Indonesia di Iran pascagempa Bam, 2004. (Sumber: buku Idrus Andi Paturusi: Dokter di Medan Lara karya Sili Suli & Hurri Hasan (2020).
Didoakan Ayatullah
Dalam fase penugasan di Iran, tim Indonesia mendapat dukungan logistik dan pendampingan dari Duta Besar Indonesia untuk Iran saat itu, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, yang juga pernah menjabat Rektor Universitas Hasanuddin periode 1988–1996.
Pada sebuah kesempatan, rombongan diajak menghadiri ceramah seorang Ayatullah di Qum, dan di akhir sesi sang ulama memberikan doa khusus untuk keselamatan Tim Bantuan Kemanusiaan Indonesia.
Dua tahun setelah didoakan oleh ayatollah, Prof Idrus terpilih sebagai rektor Unhas.
Prof. Idrus kembali ke Iran dalam kunjungan kerja sebagai Rektor Unhas atas undangan Menteri Kesehatan Republik Islam Iran, Prof. Kamran Bagheri-Lankarani, MD, dan kembali menceritakan pengalaman misi kemanusiaannya di hadapan tuan rumah.
Respons yang diterimanya digambarkan penuh penghormatan, termasuk ungkapan terima kasih atas kehadiran tim Indonesia pada masa krisis kemanusiaan.
Undangan untuk Rektor Unhas
Pada pertemuan 29 Januari 2026 itu pula, Dubes Iran Dr. H.E. Mohammad Boroujerdi mengundang Rektor Universitas Hasanuddin untuk menghadiri peringatan Hari Kemenangan Revolusi Islam Iran ke-47 di Jakarta pada 10 April 2026.
Undangan tersebut memberi sinyal bahwa hubungan yang dibangun tidak berhenti pada seremoni diplomatik, melainkan berpotensi berkembang menjadi kerja sama riset, pertukaran pengetahuan, dan dialog strategis tentang pemanfaatan sains—termasuk teknologi nuklir—untuk kepentingan kesehatan manusia dan kemaslahatan global.(*)
Pertemuan Prof. Dr. dr. Idrus Andi Paturusi, Sp.B, Sp.OT(K) dengan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Dr. H.E. Mohammad Boroujerdi, Kamis, 29 Januari 2026, di Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Jakarta.








