
GAGAL PENALTI - Gabriel gagal mengeksekusi penalti penentu setelah tendangannya melambung di atas mistar gawang. Kegagalan itu membuat PSG juara Liga Champions 2025-2026 setelah mengalahkan Arsenal lewat adu penalti 4-3 (1-1) di Budapest, Minggu (31/5/2026) dini hari. (Tangkapan layar The Sun)
Gol tersebut mengubah arah pertandingan. Arsenal mulai kehilangan pegangan. Arteta memasukkan Viktor Gyokeres dan Jurrien Timber untuk menambah tenaga serta opsi serangan. Martin Odegaard dan Mosquera ditarik keluar. Namun PSG tetap lebih dominan dalam penguasaan bola.
Kvaratskhelia hampir membawa PSG berbalik unggul ketika tendangannya membentur tiang setelah memanfaatkan kesalahan Timber di garis tengah.
Raya kemudian menggagalkan peluang Bradley Barcola. Vitinha juga sempat mengancam lewat tembakan yang melewati mistar. Hingga waktu normal berakhir, skor tidak berubah.
Pada babak tambahan, pola pertandingan tetap sama. PSG terus menekan, sedangkan Arsenal bertahan dalam blok rendah.
Noni Madueke sempat meminta penalti setelah terjatuh dalam duel dengan Nuno Mendes, tetapi wasit tidak mengabulkan. Arteta mendapat kartu karena memprotes keputusan tersebut.
Adu penalti akhirnya menjadi penentu. Ketegangan meningkat ketika Ebere Eze gagal mengeksekusi penalti untuk Arsenal.
Harapan sempat kembali setelah Raya menggagalkan tendangan Nuno Mendes. Namun kesempatan itu tidak bisa dimanfaatkan.

DIHIBUR MARQUINHOS - Gabriel dihibur oleh rekan setimnya di timnas Brasil, Marquinhos, usai gagal mengeksekusi penalti. Kegagalan itu membuat PSG juara Liga Champions 2025-2026 setelah mengalahkan Arsenal lewat adu penalti 4-3 (1-1) di Budapest, Minggu (31/5/2026) dini hari. (Tangkapan layar The Sun)
Gabriel, yang harus mencetak gol agar Arsenal tetap hidup, gagal. PSG pun merayakan gelar, sementara Arsenal menutup malam dengan kehancuran.
Kekalahan ini mengingatkan Arsenal pada final Liga Champions 2006, ketika mereka sempat unggul atas Barcelona sebelum kalah pada akhir pertandingan.
Dua puluh tahun kemudian, luka serupa kembali muncul. Kali ini, bukan karena gol telat, melainkan kegagalan dari titik penalti.
Bagi Arteta, hasil ini menyisakan pertanyaan tentang pendekatan permainan. Arsenal hanya memiliki sedikit penguasaan bola dan lebih banyak bertahan.
Namun, hingga penalti Mosquera, strategi itu hampir berhasil membawa mereka ke puncak Eropa. PSG dibuat frustrasi selama lebih dari satu jam, sementara Arsenal hanya berjarak beberapa eksekusi dari sejarah.
Tetapi final tidak memberi ruang bagi “hampir”. Arsenal pulang tanpa trofi Liga Champions. PSG berpesta.
Gabriel, pemain terbaik Arsenal sepanjang laga, harus menerima kenyataan paling kejam: satu tendangan yang melambung menghapus dua jam penampilan heroik. (*)






_1-300x169.webp)

