Lingkungan

PSLH Unhas Menata Langkah Menuju Lembaga Profesional 2026

Peserta Rapat Kerja Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) LPPM Universitas Hasanuddin berfoto bersama di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo, Kabupaten Takalar, sebagai penanda komitmen transformasi kelembagaan menuju organisasi yang profesional dan mandiri pada 2026. Peserta Rapat Kerja Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) LPPM Universitas Hasanuddin berfoto bersama di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo, Kabupaten Takalar, sebagai penanda komitmen transformasi kelembagaan menuju organisasi yang profesional dan mandiri pada 2026.

TAKALAR,UNHAS.TV- Angin pesisir Puntondo berembus pelan ketika para peneliti dan pengelola Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Hasanuddin berkumpul di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Takalar. Selama tiga hari, 26–28 Desember 2025, ruang diskusi itu menjadi arena perenungan sekaligus perumusan arah baru: bagaimana membawa PSLH keluar dari zona nyaman menuju lembaga yang profesional, mandiri, dan kompetitif.

Rapat kerja ini bukan sekadar agenda rutin penutup tahun. Ia menjadi titik evaluasi sekaligus momentum transisi. Targetnya jelas—menyelaraskan capaian 2025 dengan peta jalan kelembagaan yang lebih berani pada 2026.

Sepanjang 2025, kinerja PSLH melampaui ekspektasi. Pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) berjalan konsisten, disertai penyusunan dokumen AMDAL dan Environmental Baseline Study (EBS) untuk berbagai proyek. Di balik capaian itu, kerja teknis dan administratif yang rapi menjadi fondasi penting.

Sekretaris PSLH, Dr.Ir. Muhammad Junaid, menyebut tahun 2025 sebagai fase pembuktian kapasitas internal. Sertifikasi ATPA yang kini ia sandang—sebagai Anggota Tim Penyusun AMDAL—bukan sekadar pengakuan personal, melainkan peneguhan kualitas ilmiah dan legalitas dokumen lingkungan yang dihasilkan lembaga.

Namun bagi Kepala PSLH, Prof. Anwar Daud, capaian tersebut belum cukup. Dalam arahannya, ia menekankan satu hal: perubahan. “Lembaga yang ingin bertahan tak boleh terus berada di zona nyaman,” ujarnya. Sebagai lembaga pelatihan AMDAL terakreditasi, PSLH dituntut berani memperluas jangkauan—menembus wilayah Indonesia bagian barat dan bersaing dengan perguruan tinggi papan atas.

Visi itu diterjemahkan ke dalam target konkret. Salah satunya adalah realisasi Laboratorium Lingkungan terakreditasi pada 2026. Laboratorium ini diproyeksikan menjadi tulang punggung kemandirian data lapangan—mengurangi ketergantungan eksternal sekaligus meningkatkan presisi kajian lingkungan.

Langkah ke depan juga ditopang portofolio proyek yang mulai menguat. Studi EBS Blok Kojo serta penyusunan AMDAL pertambangan di Konawe Utara dan Morowali telah masuk dalam agenda kerja. Masuknya Dr. Muhammad Yusuf—dengan pengalaman panjang dalam kemitraan multinasional dan proyek Environmental Baseline Assessment—memberi tambahan energi pada mesin akselerasi PSLH.

Sinergi keahlian internasional, penguatan manajerial, dan ketelitian teknis menjadi kombinasi yang diharapkan mampu mendorong lompatan kelembagaan. Bukan hanya lebih besar, tetapi juga lebih rapi dan tepercaya.

Rapat kerja di Puntondo itu akhirnya menyimpulkan satu benang merah: transformasi tidak bisa setengah-setengah. Ia menuntut pembenahan menyeluruh—dari sumber daya manusia, infrastruktur laboratorium, hingga jejaring mitra strategis. Dengan langkah itu, PSLH LPPM Unhas menegaskan ambisinya: menjadi institusi modern yang relevan dan berperan nyata dalam pembangunan berkelanjutan Indonesia.(*)