Kesehatan
Unhas Sehat

Puasa Bukan Penghalang untuk Tetap Berolahraga, Ini Penjelasan Medisnya?




Pada saat itu, kadar glukosa dalam darah mulai menurun, sehingga tubuh akan merangsang proses glukoneogenesis—yakni produksi glukosa dari lemak yang tersimpan di hati. 

Secara ilmiah, olahraga yang dilakukan dalam kondisi perut kosong, seperti saat berpuasa, dapat meningkatkan respons hormon pertumbuhan (growth hormone).

Hormon ini berperan dalam regenerasi sel dan pembakaran lemak, yang pada akhirnya mendukung peningkatan massa otot dan metabolisme tubuh.

Penelitian dalam bidang olahraga juga menunjukkan bahwa latihan intensitas rendah hingga sedang selama puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu menjaga keseimbangan energi dalam tubuh.

Namun, dehidrasi menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai. Ketika tubuh kehilangan cairan tanpa adanya asupan air selama berjam-jam, risiko kelelahan dan ketidakseimbangan elektrolit meningkat.

Oleh karena itu, dokter Ilhamjaya menyarankan agar olahraga dilakukan menjelang waktu berbuka, sehingga kebutuhan cairan dapat segera terpenuhi setelahnya.

"Selain itu, pemilihan jenis olahraga juga penting. Aktivitas ringan hingga sedang seperti jalan kaki, yoga, atau stretching lebih disarankan dibandingkan olahraga berat yang bisa menyebabkan kelelahan berlebihan," jelasnya.

Dengan pemahaman yang tepat, olahraga di bulan Ramadan tidak hanya dapat menjaga kebugaran, tetapi juga mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Yang terpenting adalah mendengarkan tubuh dan menyesuaikan intensitas latihan agar tetap bugar tanpa mengorbankan keseimbangan energi selama berpuasa. (*)


(Zulkarnaen / Unhas.TV)