MAKASSAR, UNHAS.TV - Kerontokan rambut merupakan bagian dari siklus alami pertumbuhan rambut. Setiap hari, sebagian rambut akan terlepas dan kemudian digantikan oleh rambut baru.
Namun, ketika jumlah kerontokan meningkat atau disertai perubahan kepadatan dan pola rambut, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Kerontokan rambut pada usia muda dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor genetik, kondisi kesehatan, stres, pola tidur, hingga asupan nutrisi.
Karena penyebabnya beragam, mengenali pola kerontokan menjadi penting agar kondisi rambut tidak hanya ditangani berdasarkan perkiraan atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam program Unhas Health bertema “Batas Normal dan Sinyal Bahaya Rambut Rontok di Usia Muda” yang menghadirkan Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika RSP Unhas, dr Andi Hardianty SpDVE, Jumat (2/10/2026).
Pembahasan dalam program tersebut menyoroti cara membedakan kerontokan yang masih berada dalam batas normal dengan kerontokan yang dapat menjadi tanda adanya gangguan pada rambut atau kondisi kesehatan tertentu.
Pada kondisi normal, rambut mengalami siklus pertumbuhan yang terdiri atas fase pertumbuhan, transisi, dan istirahat. Rambut yang telah menyelesaikan siklusnya kemudian akan terlepas dan digantikan oleh rambut baru.
Dalam pembahasan Unhas Health, kerontokan sekitar 50 hingga 100 helai per hari masih dapat berada dalam batas normal. Sejumlah literatur juga menyebutkan angka hingga sekitar 150 helai per hari.
Namun, jumlah tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan apakah seseorang mengalami kerontokan yang tidak normal. Perubahan pola rambut dan kepadatan rambut justru menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Rambut yang semakin banyak tertinggal di bantal, sisir, atau saat keramas dapat menjadi tanda peningkatan kerontokan. Kondisi tersebut semakin perlu diperhatikan apabila disertai penipisan rambut atau perubahan pada garis rambut.
Pada laki-laki, kerontokan yang berkaitan dengan faktor genetik dapat terlihat dari garis rambut bagian depan yang semakin mundur dan membentuk pola menyerupai huruf M. Sementara itu, penipisan juga dapat terlihat pada bagian tengah kepala.
Pada perempuan, salah satu perubahan yang dapat diamati adalah belahan rambut yang semakin melebar. Rambut yang sebelumnya tampak tebal ketika diikat juga dapat terlihat semakin tipis ketika kepadatannya berkurang.
Perubahan tersebut berbeda dengan rambut yang terlepas sebagai bagian dari siklus normal. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan apakah kerontokan hanya bersifat sementara atau justru terus berkembang dan menyebabkan penipisan rambut.
Faktor Genetik hingga Kondisi Kesehatan
Kerontokan rambut memiliki berbagai kemungkinan penyebab. Salah satunya adalah androgenetic alopecia atau kebotakan yang berkaitan dengan faktor genetik. Kondisi ini dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan dengan pola yang berbeda.
Selain faktor genetik, kerontokan juga dapat muncul setelah seseorang mengalami demam tinggi, operasi, stres fisik, atau perubahan pola makan secara ekstrem. Kondisi tersebut dapat menyebabkan rambut memasuki fase kerontokan dalam jumlah lebih banyak.
Kerontokan juga dapat berkaitan dengan infeksi pada kulit kepala maupun kondisi autoimun. Salah satunya adalah alopecia areata yang dapat menyebabkan kerontokan dalam bentuk bercak atau area tertentu pada kulit kepala.
Dengan banyaknya kemungkinan penyebab tersebut, kerontokan rambut tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu faktor tanpa melihat pola dan kondisi yang menyertainya.
Kelompok usia muda juga perlu memperhatikan gaya hidup karena stres, kurang tidur, serta pola makan yang tidak seimbang dapat memengaruhi kondisi rambut.
Diet yang terlalu ketat, khususnya ketika menyebabkan kekurangan energi dan protein, dapat berdampak terhadap pertumbuhan rambut. Protein merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan keratin sebagai struktur utama rambut.
Selain protein, sejumlah mikronutrien seperti zat besi, zinc, vitamin D, dan vitamin C juga berkaitan dengan proses pertumbuhan rambut. Kekurangan nutrisi tertentu dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dievaluasi ketika seseorang mengalami kerontokan.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami rambut rontok membutuhkan suplemen. Penggunaan suplemen perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing. Jika terdapat kekurangan nutrisi berdasarkan pemeriksaan, pemberian suplemen dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Salah satu hal yang penting dipahami adalah jarak waktu antara faktor pemicu dengan munculnya kerontokan.
Rambut memiliki siklus pertumbuhan yang berlangsung dalam beberapa tahap. Fase anagen merupakan fase pertumbuhan aktif yang dapat berlangsung selama dua hingga tujuh tahun.
Setelah itu, rambut memasuki fase katagen selama sekitar dua hingga tiga minggu dan dilanjutkan dengan fase telogen sebagai masa istirahat selama sekitar dua hingga tiga bulan.
Karena adanya siklus tersebut, kerontokan akibat stres, demam, operasi, atau diet ketat dapat baru terlihat sekitar dua hingga tiga bulan setelah faktor pemicu terjadi.
Artinya, ketika seseorang mengalami kerontokan pada saat tertentu, penyebabnya tidak selalu berasal dari aktivitas atau kondisi yang baru saja dialami. Riwayat kesehatan dan perubahan pola hidup beberapa bulan sebelumnya juga menjadi informasi yang penting untuk diperhatikan.
Tidak Otomatis Menandakan Penyakit Tertentu
Kerontokan rambut terkadang dikaitkan dengan anemia atau gangguan fungsi tiroid. Namun, kerontokan saja tidak cukup untuk memastikan adanya kondisi tersebut.
Untuk mengetahui penyebabnya, diperlukan evaluasi yang dapat mencakup riwayat kerontokan, pola dan durasi kerontokan, pemeriksaan kulit kepala, serta pemeriksaan darah apabila memang diperlukan.
Pendekatan tersebut penting agar penanganan dilakukan berdasarkan penyebab, bukan hanya berdasarkan gejala yang terlihat.
Kebiasaan perawatan rambut juga menjadi salah satu hal yang sering dikaitkan dengan kerontokan. Salah satu anggapan yang banyak berkembang adalah keramas dapat menyebabkan rambut rontok.
Rambut yang terlihat terlepas ketika keramas pada umumnya merupakan rambut yang memang sudah berada pada fase untuk terlepas. Ketika rambut dalam keadaan basah, rambut tersebut menjadi lebih mudah ikut terbawa saat proses keramas.
Meski demikian, cara merawat rambut tetap perlu diperhatikan. Menggosok rambut atau kulit kepala terlalu keras dapat menyebabkan rambut patah, sementara penggunaan produk yang terlalu keras dapat menyebabkan iritasi pada kulit kepala.
Pembahasan Unhas Health menekankan bahwa memahami rambut rontok tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah rambut yang terlepas setiap hari. Perubahan pola, kepadatan rambut, kondisi kulit kepala, gaya hidup, asupan nutrisi, serta riwayat kesehatan perlu dilihat secara menyeluruh.
Kerontokan yang semakin meningkat, penipisan rambut, perubahan garis rambut, atau munculnya kebotakan pada area tertentu menjadi kondisi yang perlu diperhatikan.
Pemahaman terhadap tanda-tanda tersebut dapat membantu masyarakat mengenali perubahan sejak dini dan memperoleh evaluasi yang sesuai apabila diperlukan.
Melalui edukasi kesehatan yang membahas persoalan rambut secara lebih menyeluruh, Unhas Health tidak hanya mengangkat fenomena rambut rontok yang umum dialami masyarakat, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai batas normal, faktor penyebab, serta tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
RAMBUT RONTOK - Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika RSP Unhas, dr Andi Hardianty SpDVE saat hadir dalam program Unhas Health bertema “Batas Normal dan Sinyal Bahaya Rambut Rontok di Usia Muda” di Studio Unhas TV, Kampus Unhas, Makassar, Jumat (2/10/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)
-300x169.webp)







