MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin mengungkap temuan baru tentang dampak jangka panjang stunting. Tim peneliti kampus itu menyatakan anak yang pernah mengalami stunting berisiko lebih tinggi terkena diabetes saat dewasa, meski kemudian tumbuh normal.
Temuan itu dipaparkan tim Unhas Fly Research Group dalam riset biomedis yang menggunakan lalat buah sebagai model penelitian.
Pendekatan ini dipakai untuk memodelkan kondisi stunting sekaligus menelusuri efek metaboliknya dalam jangka panjang.
Ketua Unhas Fly Research Group, Prof. Firzan Nainu, mengatakan riset itu menunjukkan stunting bukan hanya berkaitan dengan hambatan pertumbuhan pada masa anak-anak. Ada dampak lain yang dapat muncul setelah individu memasuki usia dewasa.
“Jadi kami mencoba membuat model stunting menggunakan lalat buah, lalu melihat dampaknya dalam jangka panjang. Dan ternyata, individu yang pernah mengalami stunting itu memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terkena diabetes di masa depan,” kata Firzan di Studio Unhas TV, Makassar, 3 Mei 2026.

Ketua Unhas Fly Research Group, Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD. (Dok Unhas TV)
Menurut dia, temuan ini memperlihatkan bahwa pemulihan pertumbuhan tidak serta-merta menghapus seluruh risiko kesehatan. Anak yang pernah mengalami stunting tetap dapat menyimpan kerentanan metabolik yang baru terlihat ketika dewasa.
“Jadi bukan hanya soal pertumbuhan yang terhambat saat kecil, tetapi ada efek metabolik yang bisa muncul ketika dewasa, dan ini yang perlu kita antisipasi sejak dini,” ujar Firzan.
Penelitian ini dinilai relevan di tengah masih tingginya angka stunting di Indonesia. Selama ini, stunting kerap dipahami sebatas persoalan kekurangan gizi dan gangguan pertumbuhan fisik. Riset Unhas menambahkan dimensi baru, yakni potensi penyakit metabolik jangka panjang.
Selain memetakan risiko, tim peneliti juga sedang mengembangkan langkah pencegahan. Mereka menguji sejumlah kandidat obat yang ditujukan untuk menekan kemungkinan munculnya diabetes pada individu dengan riwayat stunting.
Firzan mengatakan penggunaan lalat buah membuat proses riset lebih cepat dan efisien. Dengan model itu, peneliti dapat mempercepat pengujian awal sebelum masuk ke tahapan pengembangan solusi yang lebih lanjut.
Temuan ini diharapkan menjadi pijakan bagi kebijakan kesehatan yang lebih komprehensif. Penanganan stunting, menurut tim peneliti, tidak cukup berhenti pada perbaikan gizi anak, tetapi juga perlu diarahkan pada pencegahan penyakit jangka panjang.
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)
Riset Unhas yang dipimpin Prof Firzan Nainu mengungkap risiko diabetes pada anak yang pernah alami stunting saat dewasa. (Unhas TV/ChatGPT)








