News
Sosial

Relawan Dorong Kepedulian pada Lansia: Datangi, Dengarkan, dan Libatkan Mereka

Relawan Peduli Lansia, Muliadi SKep. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)

GOWA, UNHAS.TV - Memasuki usia lanjut membawa berbagai perubahan dalam kehidupan seseorang, mulai dari kondisi fisik hingga aktivitas sosial.

Dalam situasi tersebut, lansia tidak hanya membutuhkan perhatian terhadap kesehatan, tetapi juga ruang untuk berinteraksi, bercerita, dan tetap terlibat dalam kegiatan bersama.

Hal tersebut disampaikan Muliadi atau Kak Mull, relawan pemeriksaan kesehatan dalam kegiatan peringatan Alzheimer yang melibatkan para lansia di Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui di Desa Pallangga, Kabupaten Gowa.

Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui berdiri pada Juli 2025 di Kecamatan Pallangga, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa.

Dalam kegiatan tersebut, ia terlibat dalam pemeriksaan kesehatan sekaligus sejumlah aktivitas bersama peserta.

Menurut Muliadi, perhatian terhadap lansia perlu dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemeriksaan fisik. Interaksi langsung juga menjadi bagian penting dari kegiatan yang dilakukan bersama lansia.

“Saya sebagai volunteer di sini di kegiatan peringatan hari Alzheimer. Jadi, kita beradaptasi dengan lansia. Salah satu kegiatan yang kami lakukan di sini adalah pemeriksaan kesehatan,” ujar Muliadi.

Dalam kegiatan pemeriksaan, Muliadi mengatakan sejumlah keluhan kesehatan ditemukan pada peserta lansia. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukannya, hipertensi menjadi salah satu keluhan yang cukup sering ditemukan, selain kolesterol.

“Keluhan lansia itu rata-rata adalah hipertensi, kolesterol, tapi yang rata-rata sih hipertensi. Jadi hipertensi hal ini sering muncul pada lansia,” jelasnya.

Selain pemeriksaan kesehatan, para lansia juga mengikuti aktivitas berupa senam otak. Muliadi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut digunakan sebagai bentuk ice breaking dan aktivitas penyegaran bersama peserta.

“Jadi, kami juga arahkan selain daripada pemeriksaan fisik itu, kita ada senam otak dengan tujuan bagaimana ice breaking, untuk penyegaran otak bagi lansia,” katanya.

Dalam wawancara, Muliadi mengaitkan kegiatan tersebut dengan kondisi lansia yang menurutnya mengalami berbagai perubahan fungsi seiring bertambahnya usia.

Karena itu, kegiatan dibuat tidak hanya berupa pemeriksaan, tetapi juga aktivitas yang melibatkan peserta secara langsung.

Lansia Butuh Ruang untuk Didengar

Bagi Muliadi, perhatian kepada lansia tidak berhenti pada kegiatan kesehatan. Ia menyoroti kebutuhan lansia untuk memiliki ruang berkomunikasi dan menyampaikan cerita.

Menurutnya, salah satu hal sederhana yang dapat dilakukan ketika berinteraksi dengan lansia adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara dan didengarkan.

“Berikan cerita kepada mereka dan dengarkan cerita mereka. Karena lansia itu kebanyakan dia mau didengar bercerita,” ujarnya.

Muliadi mengaku dirinya lebih memilih mendengarkan ketika bertemu dengan lansia.

“Kalau saya sih biasa kalau bertemu dengan lansia, saya lebih senang mendengarkan ceritanya dibanding saya yang bercerita,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengalaman Muliadi sebagai relawan. Baginya, aktivitas bersama lansia dapat menjadi ruang untuk membangun komunikasi, bukan sekadar memberikan pelayanan satu arah.

Muliadi juga berharap kegiatan yang melibatkan lansia tidak hanya dilakukan pada momentum tertentu. Ia mendorong berbagai komunitas untuk ikut menghadirkan kegiatan yang dapat melibatkan kelompok lanjut usia.

“Harapan saya tentu sangat semangat ketika kegiatan-kegiatan seperti ini selalu berkelanjutan. Terus ada komunitas-komunitas apa pun itu bisa melakukan hal ini. Karena, bagaimanapun lansia itu merupakan salah satu kelompok yang sering terlupakan,” katanya.

Ia menilai keterlibatan komunitas dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, tidak terbatas pada organisasi yang secara khusus bergerak di bidang kesehatan atau lansia.

“Jadi harapannya adalah bagaimana kegiatan seperti ini terus berkelanjutan, terus ada komunitas-komunitas apa pun itu, silakan mau komunitas sepeda, komunitas bola, komunitas apa pun, sentuh mereka, datangi mereka,” ujar Muliadi.

Menurutnya, perhatian kepada lansia dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti berkunjung, melakukan kegiatan bersama, maupun menyediakan waktu untuk berkomunikasi.

Di akhir wawancara, Muliadi menekankan bahwa usia lanjut merupakan fase kehidupan yang dapat dialami setiap orang apabila diberikan umur panjang.

“Kita akan menjadi lansia bila diberi umur panjang dan kita akan mengalami hal-hal yang sama dengan yang dialami mereka sekarang. Jadi, olehnya itu lansia adalah kelompok yang terkadang terlupakan, mari kita sentuh mereka,” tuturnya.

Melalui keterlibatannya sebagai relawan, Muliadi menggambarkan bentuk pendampingan lansia yang mencakup pemeriksaan kesehatan, aktivitas bersama, hingga komunikasi langsung.

Ia berharap keterlibatan masyarakat dan komunitas terhadap lansia dapat terus berlanjut, termasuk dengan memberikan ruang bagi mereka untuk tetap beraktivitas dan didengarkan.

(Kautsar Ardiansyah R./ Unhas TV)