
Presiden FIFA Infantino mengumumkan edisi berikutnya dari Piala Dunia 2030 akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko. (The Sun)
Penolakan paling keras datang dari Uni Sepak Bola Eropa atau UEFA. Presiden UEFA Aleksander Ceferin sejak awal menentang proyek tersebut.
Sebanyak 55 asosiasi anggota UEFA, termasuk Asosiasi Sepak Bola Inggris, bahkan menyepakati ancaman memboikot Piala Dunia apabila FIFA tetap membentuk FFE.
Ancaman itu menghantam kelayakan komersial proyek. Pasar Eropa merupakan salah satu penopang utama pendapatan Piala Dunia melalui hak siar, sponsor, penjualan tiket, dan keterlibatan penggemar. Turnamen tanpa negara-negara Eropa diperkirakan akan kehilangan sebagian besar daya tarik ekonominya.
FIFA sempat berusaha mempertahankan rencana tersebut. Organisasi itu menawarkan pembayaran 30 juta pound sterling atau sekitar Rp729,15 miliar kepada setiap asosiasi anggota apabila proposal disetujui sebelum 19 September. Tawaran itu tak cukup membendung penolakan.
Bagi banyak asosiasi, persoalannya bukan semata-mata besaran pembayaran. Mereka mempertanyakan dampak jangka panjang penjualan saham terhadap kedaulatan FIFA dan hak anggota atas pendapatan Piala Dunia.
Kekhawatiran itu menguat karena investor swasta lazim menuntut pertumbuhan nilai dan pengembalian modal dalam periode tertentu.
Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia atau Concacaf serta Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC juga menyatakan keberatan. Sikap kedua konfederasi tersebut semakin mempersempit dukungan bagi Infantino.
Tekanan bertambah setelah Carlos Cordeiro, salah satu penasihat senior Infantino, mengundurkan diri pada Jumat. Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat itu mengatakan tidak dapat mendukung penjualan saham Piala Dunia.
Cordeiro, yang juga pernah bekerja sebagai bankir, menilai skema tersebut merugikan asosiasi anggota, sepak bola, dan masa depan permainan dalam jangka panjang.
Sebelum pembatalan diumumkan, FIFA masih membela proposal itu melalui pernyataan resmi. FIFA menyatakan proses konsultasi terganggu oleh pemberitaan yang dianggap tidak tepat.
Organisasi tersebut menegaskan FFE dimaksudkan agar 211 asosiasi anggota memperoleh kepemilikan yang berarti atas peluang komersial sepak bola di negara masing-masing.
FIFA juga membantah tudingan bahwa organisasi tersebut hendak “menjual sepak bola”. Menurut FIFA, setiap asosiasi anggota berhak mempelajari proposal dan memberikan suara berdasarkan fakta, tanpa didominasi pendapat satu konfederasi atau kelompok tertentu.
Akan tetapi, penjelasan itu gagal meredakan kemarahan. Ancaman boikot UEFA, penolakan terbuka dari Concacaf dan AFC, mundurnya penasihat senior, serta keraguan investor membuat proyek tersebut kehilangan pijakan politik dan ekonomi.
Pembatalan ini menjadi pukulan bagi kepemimpinan Infantino. Rencana itu memperlihatkan batas penerimaan dunia sepak bola terhadap ekspansi komersial FIFA, terutama ketika aset Piala Dunia akan dikaitkan dengan kepemilikan investor swasta.
Meski proposal telah ditarik, perdebatan mengenai transparansi, tata kelola, dan pembagian pendapatan FIFA diperkirakan belum berakhir. (*)








