Laporan EKA SASTRA dari Swiss*
Udara dingin langsung menyergap, tajam, bersih, dan hening, saat saya melangkah keluar dari Bandara Zurich. Dingin yang tidak gaduh dan tidak pula memusuhi.
Namun hampir bersamaan dengan itu, hadir kehangatan yang tak terduga, bukan dari cuaca, melainkan dari cara kota ini bekerja dan cara warganya saling hadir.
Tanpa basa-basi, tanpa keramahan yang dipaksakan, Zurich menyambut dengan ketertiban yang membuat orang merasa aman sejak langkah pertama.
Kedatangan saya ke kota ini merupakan bagian dari persiapan menuju World Economic Forum di Davos. Namun bahkan sebelum perjalanan itu berlanjut, Zurich sudah lebih dulu memberi pelajaran tentang bagaimana sebuah masyarakat modern mengelola dirinya secara senyap, rapi, dan nyaris tanpa suara.
Kota Finansial yang Tidak Perlu Pamer
Sebagai salah satu pusat keuangan dunia, Zurich adalah simpul dari aktivitas ekonomi bernilai tinggi. Namun kota ini tidak terasa ingin menunjukkan kekuasaannya. Tidak ada deretan gedung pencakar langit yang berlomba menantang langit, tidak pula gaya hidup yang sibuk memamerkan kemewahan.
Kekuatan Zurich justru hadir dalam kepercayaan diri yang tenang. Kota ini seolah berkata, sistem kami bekerja, dan itu sudah cukup. Kemajuan tidak diumumkan lewat simbol yang berisik, melainkan dirasakan melalui stabilitas yang membingkai hidup sehari-hari.
Dalam perjalanan dari bandara menuju pusat kota, satu hal segera terasa, transportasi publik di Zurich bukan sekadar sarana mobilitas, melainkan pernyataan etika publik.
Kereta datang tepat waktu, tram bergerak presisi, informasi mudah dipahami, dan orang-orang saling memberi ruang.
Di sini, waktu warga dihargai. Ketertiban tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari kebiasaan yang dibentuk oleh sistem yang konsisten. Infrastruktur tidak hanya dibangun untuk mengejar efisiensi ekonomi, tetapi juga untuk menjaga martabat ruang bersama.
Kepercayaan, Infrastruktur yang Tak Terlihat
Ada banyak detail kecil yang diam-diam berbicara tentang kualitas sosial Zurich, orang bekerja di ruang publik dengan laptop terbuka, sepeda diparkir tanpa pengamanan berlapis, serta sistem tiket yang bertumpu pada kejujuran. Semua itu menunjuk pada satu fondasi yang sama, yaitu kepercayaan.
Kepercayaan ini tentu bukan romantisme. Ia lahir dari pengalaman panjang warga berhadapan dengan negara, hukum yang konsisten, pelayanan yang dapat diprediksi, serta rasa keadilan yang sungguh-sungguh dirasakan.
Zurich menunjukkan bahwa pengawasan berlebihan sering kali bisa digantikan oleh kepercayaan yang dirawat.
Kota ini juga memperlihatkan relasi yang lebih seimbang antara manusia dan alam. Danau, sungai, dan ruang hijau tidak disisihkan oleh pembangunan. Kota tumbuh tanpa harus menaklukkan lingkungannya. Modernitas di sini tidak identik dengan pengorbanan ekologis yang brutal.
-300x169.webp)





-300x141.webp)

