
EURO 2020 - Para pemain Inggris usai mengalahkan Denmark di Euro 2020 dan melaju ke final. (Tangkapan layar The Sun)
Southgate mengambil arah lain. Ia menata ulang ruang makan agar pemain tidak berkumpul berdasarkan klub asal. Tidak ada lagi meja Manchester United, Chelsea, atau Liverpool.
Pemain ditempatkan bercampur, sehingga percakapan lintas klub terjadi secara alami. Telepon genggam juga dilarang di restoran tim, sementara musik saat makan dibatasi. Tujuannya sederhana: pemain berbicara satu sama lain.
Ruang makan pun dibuat lebih hangat. Tim menghias restoran dengan bunga dan menata suasananya menyerupai restoran kelas atas. Pada beberapa malam, tema khusus dibuat, termasuk malam Italia dengan nuansa trattoria.
Ada pula “home comfort bar” berisi makanan ringan yang akrab bagi pemain Inggris, seperti biskuit, Jaffa Cakes, dan permen.
Hal-hal itu tampak kecil, tetapi dalam turnamen berdurasi berminggu-minggu, rasa nyaman dapat menjadi bagian dari ketahanan mental.
Southgate juga membuka ruang bagi hubungan emosional. Ia tidak menutupi masa lalunya sebagai pemain yang pernah gagal mengeksekusi penalti pada semifinal Euro 1996 melawan Jerman.
Keterbukaan itu, menurut De’ath, membuat pemain menghormatinya. Southgate memahami tekanan karena pernah menjadi bagian dari luka kolektif sepak bola Inggris.

Tim De’ath pernah bersama timnas Inggris selama 11 tahun dan juga bekerja di bawah Fabio Capello dan Roy Hodgson, yang menurutnya tidak seteliti Southgate. (tangkapan layar The Sun)
Hasil pendekatan tersebut terlihat dalam perjalanan Inggris. Southgate membawa tim ke semifinal Piala Dunia, perempat final Piala Dunia lainnya, serta dua final Euro.
Inggris memang belum mengangkat trofi besar sejak 1966, tetapi periode Southgate menandai perubahan penting: tim yang sebelumnya kerap dibebani ketakutan mulai tampil lebih stabil dan bersatu.
De’ath juga mengenang kedekatannya dengan sejumlah pemain lama. David Beckham, misalnya, disebut sangat memperhatikan makanan dan menyukai resep bakso yang dipelajari De’ath dari koki Sisilia. John Terry memiliki kebiasaan tertentu saat memesan steak.
Harry Kane, kata De’ath, biasa menyantap telur orak-arik sebelum pertandingan. Detail-detail seperti itu menjadi bagian dari pekerjaan dapur tim nasional yang jarang terlihat publik.
Kini Inggris memasuki babak baru bersama Thomas Tuchel. Menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Inggris direncanakan bermarkas di Inn at Meadowbrook, Kansas City.
De’ath berharap markas itu cukup memadai karena, bila melaju hingga akhir turnamen, pemain dapat tinggal hampir tujuh pekan di sana.
Bagi De’ath, pekerjaan Tuchel tidak hanya menyusun taktik dan memilih sebelas pemain utama. Pelatih baru juga perlu menjaga etos yang sudah dibangun Southgate: membuat pemain merasa aman, nyaman, dan terhubung satu sama lain.
Dalam turnamen besar, ruang makan, kamar tidur, dan percakapan informal kadang sama pentingnya dengan papan taktik.
Southgate telah pergi, tetapi resepnya belum tentu harus ikut ditinggalkan. Inggris masih mengejar trofi yang tak kunjung pulang sejak 1966.
Bagi Tuchel, warisan itu menjadi pekerjaan berat: meneruskan tim yang tidak hanya ingin menang, tetapi juga belajar percaya pada dirinya sendiri. (*)





-300x169.webp)


