MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang azan Magrib, suasana di sekitar Pintu 0 Universitas Hasanuddin (Unhas) berubah menjadi lautan manusia. Mahasiswa berkerumun di antara deretan lapak takjil yang memanjang di sepanjang Jalan Pendidikan hingga Jalan Sahabat, Kamis (26/2/2026) sore.
Aroma gorengan hangat bercampur manisnya es buah menyeruak di udara. Ramadan di kampus itu tak lengkap tanpa ritual berburu takjil jelang berbuka.
Lokasi di belakang Pintu 0 menjadi salah satu titik paling ramai. Letaknya yang dekat masjid dan berada di pembelokan jalan membuat kawasan ini mudah diakses.
Sejak pukul 16.30 Wita, mahasiswa mulai berdatangan. Mereka menyusuri lapak demi lapak, menimbang pilihan sebelum menentukan menu berbuka.
Tak hanya di Pintu 0, Jalan Sahabat juga dipadati pembeli. Deretan pedagang berjejer rapi di sisi jalan. Menu yang ditawarkan beragam dan ramah kantong mahasiswa.
Mulai dari risol, cilok, batagor, aneka gorengan, bakso bakar, hingga makanan berat seperti redbowl tersaji di etalase sederhana.
Reva Gischa Fernanda, mahasiswa yang ditemui di lokasi, mengaku hampir setiap hari membeli takjil di sekitar Pintu 0. “Di dekat masjid itu banyak sekali yang jual macam-macam. Biasanya saya beli di situ,” ujarnya.
Sementara itu, Warda Adila Humairah memilih kawasan Jalan Sahabat sebagai lokasi favoritnya karena masih berada di sekitar kampus dan mudah dijangkau selepas aktivitas perkuliahan.
Soal menu, keduanya kompak menyebut risol dan es buah sebagai pilihan utama. Menurut Reva, risol di kawasan tersebut memiliki rasa yang gurih dengan isian variatif.
“Risol paling enak, harus coba,” katanya. Ia juga merekomendasikan es buah yang disebutnya creamy dan memiliki banyak varian. Minuman dingin itu menjadi pelepas dahaga setelah seharian berpuasa.
Dari sisi anggaran, mahasiswa umumnya menyiapkan dana sekitar Rp20 ribu setiap hari untuk membeli takjil. Nominal itu dinilai cukup untuk mendapatkan beberapa jenis makanan dan minuman sekaligus.
“Budget-nya sekitar dua puluh ribuan,” ujar Warda. Dengan jumlah tersebut, mereka bisa membawa pulang dua hingga tiga jenis kudapan dan satu minuman segar.
Berburu takjil bukan sekadar soal makanan. Aktivitas ini juga menjadi ajang kebersamaan. Reva dan Warda mengaku lebih sering datang bersama teman-teman.
“Bareng teman biar ramai dan lebih seru,” kata Reva. Bagi mereka, berjalan menyusuri lapak sambil berbincang menjadi bagian dari pengalaman Ramadan di kampus.
Namun, Reva mengingatkan agar mahasiswa tetap bijak dalam berbelanja. Ia menyarankan membawa uang tunai secukupnya.
Kemudahan pembayaran digital seperti QRIS, menurut dia, kerap membuat pengeluaran tak terasa. “Kalau bawa uang pas, jadi tidak tergoda beli terlalu banyak,” ujarnya.
Keberadaan pedagang takjil di sekitar kampus tak hanya memudahkan mahasiswa mendapatkan hidangan berbuka. Lebih dari itu, suasana sore yang riuh, canda tawa mahasiswa, dan deretan lapak sederhana menghadirkan nuansa Ramadan yang khas.
Di antara hiruk-pikuk lalu lintas dan kesibukan akademik, momen berburu takjil menjadi ruang jeda—tempat rasa lapar bertemu kebersamaan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Mahasiswa Unhas Reva Gischa Fernanda & Warda Adila Humairah berburu takjil buka puasa. (Unhas TV/Venny Eeptiani)




-300x225.webp)


-300x169.webp)
