News

RSUD Daya dan RSGM Unhas Gelar Operasi Celah Bibir dan Langit-Langit Gratis

MAKASSAR, UNHAS.TV — RSUD Daya Kota Makassar bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin (RSGM Unhas) akan menggelar Bakti Sosial Operasi Celah Bibir dan Langit-Langit Gratis pada 7–9 November 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Makassar ini merupakan bagian dari program “RS Daya Mengabdi”. RSUD Daya bekerja sama dengan RSGM Unhas serta didukung Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas), Yayasan Celebes Cleft Center (CCC), dan Smile Train Indonesia (STI).

Kolaborasi tersebut mempertemukan rumah sakit pemerintah daerah, rumah sakit pendidikan perguruan tinggi, institusi pendidikan kedokteran gigi, serta lembaga yang memiliki pengalaman dan komitmen dalam pelayanan pasien celah bibir dan langit-langit.

Melalui program “RS Daya Mengabdi”, momentum HUT Kota Makassar tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

RSUD Daya bersama RSGM Unhas berupaya menjangkau pasien yang selama ini belum mendapatkan kesempatan memperoleh penanganan karena keterbatasan ekonomi, akses pelayanan, maupun informasi.

Kolaborasi untuk Masyarakat

Keterlibatan RSGM Unhas menjadi salah satu kekuatan dalam kegiatan ini. Sebagai rumah sakit pendidikan yang memiliki pelayanan Bedah Mulut dan Maksilofasial serta didukung tenaga spesialis dan subspesialis, RSGM Unhas memberikan dukungan profesional dan keilmuan.

Dukungan itu diberikan melalui serangkaian kegiatan, mulai dari skrining dan seleksi pasien, perencanaan tindakan, pelaksanaan operasi sesuai indikasi, hingga evaluasi dan tindak lanjut pasien.

Dukungan FKG Unhas juga memperkuat kegiatan tersebut sebagai implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat serta integrasi antara pendidikan dan pelayanan.

Siapa Saja yang Bisa Mengikuti Operasi Gratis?

Program operasi gratis ini terbuka bagi masyarakat yang memiliki kelainan celah bibir dan/atau celah langit-langit, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan akses pelayanan operasi.

Pasien yang dapat mendaftar mencakup bayi berusia minimal tiga bulan yang mengalami celah bibir dan memenuhi persyaratan kesehatan untuk menjalani operasi. Anak maupun orang dewasa dengan celah bibir yang belum pernah mendapatkan tindakan operasi juga dapat mengikuti program tersebut.

Kesempatan yang sama diberikan kepada pasien dengan celah langit-langit yang memerlukan operasi sesuai usia, kondisi klinis dan indikasi medis, serta pasien dengan kombinasi celah bibir dan langit-langit yang membutuhkan penanganan sesuai tahapan perawatannya.

Program ini juga terbuka bagi pasien yang sebelumnya sudah pernah menjalani operasi celah bibir atau langit-langit tetapi hasilnya belum optimal, masih terdapat deformitas, gangguan fungsi, atau membutuhkan tindakan koreksi maupun operasi sekunder.

Pasien lama yang masih membutuhkan tindakan lanjutan juga dapat mendaftar untuk dievaluasi kembali oleh tim medis.

Seluruh calon pasien yang mendaftar terlebih dahulu akan menjalani skrining dan pemeriksaan. Penentuan jenis dan waktu operasi disesuaikan dengan usia, berat badan, status kesehatan umum, kondisi kelainan, riwayat operasi sebelumnya, serta pertimbangan keselamatan dan indikasi medis.

Dengan demikian, pendaftaran tidak secara otomatis berarti pasien langsung menjalani operasi. Keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama dalam menentukan tindakan medis.

Sudah Pernah Operasi, Tetap Bisa Mendaftar

Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa program ini bukan hanya diperuntukkan bagi bayi atau pasien yang belum pernah menjalani operasi.

Pasien yang sudah pernah menjalani operasi celah bibir maupun langit-langit tetapi merasa hasilnya belum optimal, masih memiliki kelainan bentuk, gangguan fungsi, jaringan parut atau deformitas tertentu, maupun kondisi lain yang membutuhkan koreksi, tetap dapat mendaftar untuk diperiksa kembali oleh tim medis.

Setelah evaluasi dilakukan, tim medis akan menentukan apakah pasien memerlukan operasi koreksi, operasi sekunder, tindakan lanjutan lainnya, atau belum memerlukan tindakan operasi.

Karena itu, anak, remaja maupun orang dewasa yang memiliki riwayat celah bibir dan langit-langit tetap dapat datang untuk mendapatkan evaluasi.

Tim penyelenggara juga menekankan pentingnya mencari dan menjangkau pasien secara aktif. Sebab, celah bibir dan langit-langit bukan hanya persoalan penampilan wajah.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan makan dan berbicara, kesehatan gigi dan mulut, pertumbuhan, serta perkembangan psikologis dan sosial pasien.

Perbedaan bentuk wajah juga dapat menyebabkan sebagian pasien merasa malu, minder, kehilangan kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan, bahkan menghadapi stigma dan isolasi sosial.

Di sisi lain, keterbatasan ekonomi, kurangnya informasi, jarak menuju fasilitas kesehatan, serta kekhawatiran terhadap tindakan operasi dapat menyebabkan pasien tidak datang mencari pertolongan.

Atas kondisi tersebut, penyelenggara menilai kegiatan bakti sosial tidak cukup hanya dengan menunggu pasien datang ke rumah sakit. Pasien perlu dicari, ditemukan, diberikan informasi yang memadai, didampingi, dan dimobilisasi agar memperoleh kesempatan menjalani pemeriksaan dan pengobatan.

Ajak Masyarakat Bersama-sama Menemukan Pasien

Menjelang pelaksanaan kegiatan pada 7–9 November 2026, RSUD Daya dan RSGM Unhas bersama FKG Unhas, Yayasan Celebes Cleft Center, dan Smile Train Indonesia mengajak berbagai pihak ikut membantu menemukan pasien.

Ajakan tersebut ditujukan kepada Puskesmas, rumah sakit, dokter, dokter gigi, bidan, perawat, pemerintah kecamatan dan kelurahan, kader kesehatan, organisasi profesi, organisasi sosial, serta seluruh masyarakat.

Masyarakat yang mengetahui adanya bayi, anak, remaja maupun orang dewasa dengan celah bibir dan langit-langit yang belum mendapatkan penanganan diharapkan menyampaikan informasi kegiatan tersebut kepada pasien dan keluarganya.

Demikian pula jika terdapat pasien yang sudah pernah menjalani operasi tetapi masih membutuhkan koreksi atau penanganan lanjutan, mereka dapat diarahkan untuk mendaftar dan menjalani evaluasi.

Penyelenggara berharap keterbatasan ekonomi, rasa malu, stigma, kurangnya informasi, ataupun jauhnya akses pelayanan tidak lagi menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan memperoleh pengobatan.

Bukan Sekadar Operasi

Operasi celah bibir dan langit-langit tidak semata-mata bertujuan memperbaiki bentuk wajah. Di balik setiap tindakan terdapat upaya memperbaiki fungsi, penampilan, komunikasi dan interaksi sosial, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri serta kualitas hidup pasien.

Karena itu, kegiatan ini membawa pesan agar masyarakat ikut menemukan dan mendampingi pasien yang membutuhkan pelayanan.

“Jangan biarkan pasien dengan celah bibir dan langit-langit bersembunyi karena rasa malu, keterbatasan ekonomi, atau kurangnya informasi. Mari kita temukan, kita dampingi, kita obati, dan kita kembalikan senyumnya.”