UNHAS Press kembali menghadirkan karya akademik yang membahas isu strategis Indonesia. Kali ini, penerbit Universitas Hasanuddin tersebut menerbitkan buku Bangsa Maritim dan Negara Kepulauan: Identitas, Sejarah, dan Politik Kemaritiman Indonesia
Buku ini ditulis akademisi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Hasanuddin, Agussalim Burhanuddin.
Dalam buku setebal 349 halaman itu, Agussalim mengajak pembaca melihat laut bukan semata sebagai bentang geografis atau ruang ekonomi, melainkan sebagai bagian penting dari sejarah, kebudayaan, politik, dan pembentukan identitas Indonesia sebagai bangsa.
Dalam prakata buku, Agussalim mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap dunia maritim justru berangkat dari pengalaman yang paradoksal. Ia lahir dan tumbuh di Soppeng, sebuah daerah di pedalaman Sulawesi Selatan yang tidak memiliki garis pantai. Namun, setelah dewasa, ia menyadari betapa kuat laut hadir dalam kebudayaan yang membentuk dirinya.
“Tanah tempat saya berpijak memang kering dari laut, tetapi kebudayaan yang membentuk saya basah oleh pengaruhnya.”

Kesadaran tersebut kemudian berkembang selama bertahun-tahun ketika Agussalim mengajar kebijakan maritim dan studi diplomasi. Ia melihat adanya jarak antara pengetahuan teknis mengenai wilayah laut dengan kesadaran bahwa laut sesungguhnya merupakan bagian dari identitas bangsa.
Menurut Agussalim, banyak mahasiswa memahami garis batas wilayah dan ketentuan hukum laut, tetapi belum selalu melihat laut sebagai bagian dari sejarah dan identitas mereka.
Padahal, dalam perjalanan Nusantara, laut selama berabad-abad berfungsi sebagai ruang yang menghubungkan berbagai wilayah dan masyarakat.
“Buku ini saya tulis untuk menjembatani jurang itu,” tulis Agussalim dalam prakata. Ia ingin pembaca melihat laut bukan sekadar ruang geografis atau objek kebijakan, tetapi juga sebagai sejarah, kebudayaan, dan jiwa yang ikut membentuk Indonesia.
Atas dasar itu, buku ini merangkai berbagai dimensi kemaritiman yang kerap dibahas secara terpisah. Pembahasannya meliputi identitas budaya bahari, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam hukum internasional, sejarah pelayaran Nusantara, keamanan dan kedaulatan maritim, diplomasi, hingga ekonomi biru dan masa depan kelautan Indonesia.
Buku tersebut terdiri atas delapan bab. Pembaca diajak menelusuri konsep bangsa maritim dan negara kepulauan, sejarah kemaritiman Indonesia, kebudayaan maritim, keamanan dan kedaulatan laut, diplomasi maritim, ekonomi biru, hingga perubahan teknologi dan geopolitik yang akan memengaruhi masa depan Indonesia.
Salah satu bagian penting buku membahas perjalanan panjang Indonesia memperoleh pengakuan dunia sebagai negara kepulauan, terutama melalui Deklarasi Djuanda 1957 hingga UNCLOS 1982.
Perjuangan tersebut ditempatkan dalam lintasan sejarah yang lebih panjang, mulai dari tradisi pelayaran Austronesia dan kerajaan-kerajaan maritim Nusantara hingga perkembangan diplomasi maritim Indonesia modern.
Agussalim sengaja tidak menyusun karya tersebut sebagai buku ajar yang kaku. Buku ini ditujukan tidak hanya kepada mahasiswa, tetapi juga pembaca umum yang ingin memahami Indonesia dari perspektif kemaritiman. Ketelitian akademik tetap dipertahankan, tetapi gagasan disampaikan dengan bahasa yang diharapkan lebih dekat dan mengalir.
Buku ini juga dipersembahkan untuk mengenang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hasjim Djalal, dua tokoh yang memainkan peranan penting dalam perjuangan diplomatik sehingga Indonesia memperoleh pengakuan dunia sebagai negara kepulauan.
Pada bagian akhir prakata, Agussalim menegaskan bahwa buku tersebut tidak dimaksudkan menjadi kata terakhir mengenai kemaritiman Indonesia. Tema itu dinilainya terlalu luas dan kaya untuk dituntaskan dalam satu karya.
Ia berharap buku tersebut justru menjadi pembuka percakapan yang lebih panjang mengenai hubungan Indonesia dengan laut. “Jika buku ini berhasil membuat satu pembaca saja kembali memandang laut dengan cara yang berbeda,” tulisnya, maka usaha untuk menulis buku tersebut telah sepadan.
Diterbitkan Unhas Press
Buku Bangsa Maritim dan Negara Kepulauan diterbitkan Unhas Press dengan format 15,5 x 23 sentimeter dan ketebalan xxv + 349 halaman. Sampul buku menampilkan perahu-perahu sandeq yang mengarungi Selat Makassar dalam Festival Sandeq Race.

Unhas Press merupakan penerbit Universitas Hasanuddin yang tercatat sebagai anggota IKAPI Nomor 002/SSL/01 dan APPTI Nomor 005.026.1.03.2018. Kantornya berada di Gedung UPT Unhas Press, Kampus Unhas Tamalanrea, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10, Makassar.
Dosen, peneliti, mahasiswa, alumni, maupun masyarakat umum yang memiliki naskah dapat mengajukan karya untuk diterbitkan melalui Unhas Press. Naskah lengkap dapat disampaikan kepada pengelola untuk selanjutnya mengikuti tahapan penerbitan sesuai ketentuan yang berlaku.
Informasi mengenai pengajuan dan penerbitan naskah dapat diperoleh melalui unhaspress@unhas.ac.id atau unhaspress@gmail.com, serta nomor +62 8229 9555 591.
undefined




-300x225.webp)



