Mahasiswa
Pendidikan

Sabun dari Pandan, Inovasi Mahasiswa Unhas Bantu Warga Pangkep Lebih Hemat dan Mandiri

PEMBUATAN SABUN - Mahasiswa KKN Tematik Gelombang 116 Unhas menggelar pelatihan pembuatan sabun bahan alami yang diolah bersama jeruk nipis menjadi sabun cuci piring di Desa Bawasalo, Pangkep, Senin (14/7/2026). (Dok KKN Unhas)

PANGKEP, UNHAS.TV - Daun pandan yang tumbuh di pekarangan warga Kelurahan Bawasalo, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), tak lagi sekadar menjadi pewangi makanan.

Pada Senin (14/7/2026), bahan alami itu diolah bersama jeruk nipis menjadi sabun cuci piring melalui pelatihan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Gelombang 116 Universitas Hasanuddin.

Pelatihan tersebut diikuti ibu-ibu rumah tangga setempat. Mahasiswa memperkenalkan pembuatan sabun menggunakan daun pandan, jeruk nipis, texapon, garam, dan air.

Kegiatan ini dirancang sebagai upaya meningkatkan keterampilan warga dalam menghasilkan produk pembersih yang mudah dibuat, ekonomis, dan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar rumah.

Dalam pelatihan itu, daun pandan digunakan sebagai pemberi aroma segar alami. Jeruk nipis dipakai untuk membantu mengurangi bau amis pada peralatan dapur. Adapun texapon, garam, dan air menjadi bahan utama pembentuk larutan sabun.

Kegiatan dimulai dengan penjelasan mengenai fungsi setiap bahan. Mahasiswa kemudian memperagakan proses pembuatan, dari menghaluskan daun pandan dan mengambil sarinya, mencampurkan seluruh bahan, hingga mengaduk larutan sampai homogen.

Setelah itu, sabun didiamkan selama satu malam agar memperoleh tekstur yang lebih baik sebelum digunakan.

Peserta tampak aktif mengikuti tiap tahapan. Mereka mengajukan pertanyaan mengenai komposisi bahan, teknik pencampuran, penyimpanan, serta cara penggunaan agar sabun tetap efektif.

Ketua RT setempat, Sarina, menilai pelatihan tersebut bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga. “Bagus sekali ini dipakai, apalagi kalau ada acara besar seperti pesta pernikahan.

Sabun ini bisa dibuat sendiri supaya lebih hemat dan lebih sehat. Apalagi daun pandan dan jeruk nipis di sekitar sini juga banyak,” kata dia.

Mahasiswa KKN-T Unhas berharap keterampilan tersebut dapat diterapkan warga secara mandiri. Selain mengurangi ketergantungan terhadap produk pembersih di pasaran, pembuatan sabun juga dinilai berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan.

Program ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa melalui penerapan pengetahuan yang sederhana dan praktis. Dari bahan yang mudah ditemukan, warga didorong menghasilkan produk rumah tangga yang memiliki kegunaan sekaligus nilai ekonomi.

Bagi warga Bawasalo, pelatihan ini membuka kemungkinan penghematan belanja harian sekaligus pemanfaatan hasil kebun yang selama ini belum diolah lebih jauh.

Mahasiswa juga mendorong peserta menjaga kebersihan alat, ketepatan takaran, dan penyimpanan produk agar kualitas sabun tetap terjaga ketika dibuat kembali di rumah atau diproduksi banyak sebagai produk usaha skala rumah tangga. (*)