Ekonomi

Sensus Ekonomi 2026 untuk Makassar Terdata, Makassar Tertata

Munafri pun telah memerintahkan semua pimpinan di jenjang Pemerintah Kota Makassar untuk aktif memberikan pendampingan kepada petugas lapangan. Seluruh kepala Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD), Direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), camat, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda diajak untuk ikut membantu pelaksanaan SE 2026 dan mendampingi petugas.

Pendampingan ini diperlukan demi meyakinkan masyarakat agar dapat memberikan data secara jujur dan benar serta tidak ragu karena kerahasiaan data yang diberikan telah dijamin oleh pemerintah.

Dukungan dalam bentuk lain dari Pemerintah Kota Makassar juga diberikan dengan menyediakan videotron di enam titik wilayah strategis sebagai media publikasi. 

Andi Pananrangi menyebut, dukungan total pemerintah ini sangat membantu kelancaran pelaksanaan SE 2026 di Kota Makassar. Hal itu ditandai dengan melonjaknya capaian pendataan. 

Kepala BPS Kota Makassar, Abdul Hafid, menyebutkan, pada pertengahan Juli 2026, pendataan telah menyentuh 41,8 persen dari target 161.550 ribu usaha dan 400 ribu keluarga. Per 29 Juli, pendataan meningkat drastis menjadi 66 persen. 

"Surat Edaran dari Pak Wali dan sosialisasi yang dilakukan Pak Wali melalui videotron itu sangat kami hargai," ucapnya.

Beberapa Mitra Statistik melaporkan, mereka mendapat pendampingan dari kelurahan ketika mendata di wilayah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Wilayah ini "sedikit bergejolak" sehubungan beberapa warga menolak pembangunan proyek persampahan di wilayah itu.

Mitra Statistik lainnya juga melaporkan mendapat pengawalan dari aparat TNI dan Polri ketika mendata di satu wilayah yang sering digerebek karena kasus narkotika. Tak ada hambatan berarti saat itu karena warga bisa memahami bahwa kedatangan aparat untuk mendampingi petugas sensus 

Ditraktir Makan



MITRA - Idawati dan Muhammad Nurkamil, dua Mittra Statistik yang bertugas selama Sensus Ekonomi 2026 di Kota Makassar. Foto: Unhas TV

Pendataan dari rumah ke rumah warga seringkali menerbitkan banyak pengalaman unik yang dialami Mitra Statistik SE 2026. Idawati, misalnya. Ia berkisah, ia sudah memperkenalkan dirinya kepada warga, namun yang muncul adalah ekspresi kebingungan.

"Saya sebut nama saya, saya jelaskan apa tujuan saya, tapi warga itu tidak menjawab. Wajahnya terlihat keheranan. Saya pikir, mungkin penjelasan saya masih belum cukup. Belakangan saya baru sadar setelah seorang warga memberitahu bahwa yang ditanya tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bahasa Makassar."

Idawati yang bertugas di wilayah Wesabbe, Kecamatan Tamalanrea, juga pernah harus mengulang kali kunjungannya karena yang hendak didata selalu tidak berada di tempat. Wilayah ini khas dengan rumah kos, warung makan, dan dekat dengan kampus Universitas Hasanuddin.

Tapi, pengalaman yang paling menarik adalah beberapa kali ditraktir makan. "Karena yang saya data adalah pemilik warung makan. Kebetulan orangnya ramah dan paham tujuan kedatangan saya," ujar Idawati yang akan meneruskan usaha bisnis jual beli melalui daring setelah tugasnya di SE 2026 selesai.

Kisah berbeda dituturkan oleh Muhammad Nurkamil. Pria 23 tahun ini adalah seorang tenaga lepas (freelancer) bidang arsitektur sebelum mengambil tugas sebagai Mitra Statistik. Penempatan tugasnya selama SE 2026 di wilayah Kecamatan Maccini, salah satu kecamatan paling heterogen di Kota Makassar.

Hambatan yang sering dialami adalah menghadapi warga kelas menengah ke atas yang sering tidak berada di kediaman saat sensus dilakukan. "Warganya bisa menerima memahami tujuan sensus, tapi waktunya yang susah dicari. Datang saat pagi, rumah terkunci. Datang siang hari, masih terkunci. Ternyata baru bisa dilakukan setelah sore," kata Nurkamil.

Kendati demikian, Idawati dan Muhammad Nurkamil, bangga bisa jadi bagian dari Sensus Ekonomi 2026. Bagi mereka, tenaga, waktu, dan pikiran yang dicurahkan selama Sensus 2026 adalah pengalaman paling mengesankan: banyak teman, banyak pengalaman, dan wawasan bertambah. 

"Selama bertugas di Sensus Ekonomi 2026, saya tambah paham bahwa data itu sangat penting karena menyangkut masa depan bangsa ini," ujar Nurkamil.(*)