MAKASSAR, UNHAS.TV - Kenaikan harga bahan pokok mulai menekan pengeluaran mahasiswa di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Tamalanrea.
Bagi mahasiswa yang mengatur kebutuhan hariannya secara mandiri, lonjakan harga pangan dan sembako memaksa mereka menyusun ulang prioritas belanja, dari menekan biaya jajan hingga mengurangi porsi makan.
Dampak itu dirasakan langsung Ardil Samrusandi, mahasiswa profesi ners Universitas Hasanuddin. Ardil, yang juga bekerja sampingan sebagai barista itu, mengatakan kenaikan harga bahan pangan membuat pengeluarannya naik.
Sementara itu jumlah uang yang ia terima dari orang tua maupun dari penghasilan kerja sampingannya tetap seperti semula. Kondisi itu membuat ruang geraknya dalam mengatur keuangan makin sempit.
Menurut Ardil, situasinya cukup berat karena ia tinggal terpisah dari orang tua dan harus mengelola uang mingguan dengan nominal yang telah ditetapkan sejak awal.
Ketika harga kebutuhan naik, ia tidak punya banyak pilihan selain memangkas pengeluaran lain yang dianggap masih bisa ditekan.
“Ketika terjadi peningkatan tarif, itu otomatis yang saya kurangi mungkin dari segi pengeluaran saya, tapi untuk nominalnya memang masih tetap,” kata Ardil di Kampus Unhas Tamalanrea, Rabu (15/4/2026).
Penyesuaian yang ia lakukan bukan hanya pada pengeluaran tambahan, tetapi juga pada pola konsumsi harian. Ardil mengaku mulai mengurangi jajan dan menekan porsi makan.
Jika sebelumnya ia biasa makan satu piring penuh, kini ia memilih porsi yang lebih sedikit agar pengeluaran tetap terkendali.
Strategi itu, kata dia, menjadi jalan paling realistis di tengah harga kebutuhan yang terus bergerak naik. “Lebih ke penurunan jajan saja, dan juga dari segi porsi makan mungkin dikurangi,” ujarnya.
Kenaikan harga juga, menurut Ardil, terasa dalam pekerjaannya sebagai barista. Beberapa bahan, seperti susu UHT, menjadi lebih mahal dan kadang sulit diperoleh. Keadaan ini membuat biaya operasional di tempatnya bekerja ikut terdorong naik, meski ia tidak merinci besaran kenaikannya.
Keluhan serupa disampaikan Audry Aisyah Pratiwi, mahasiswa profesi ners Unhas. Meski tinggal bersama orang tua, Audry mengatakan kenaikan harga sembako tetap memengaruhi pengeluarannya.
Sebagai mahasiswa, ia tetap harus memenuhi beragam kebutuhan, mulai dari makan, perlengkapan kuliah, hingga kebutuhan pribadi lain yang tidak bisa ditunda.
Menurut Audry, tekanan ekonomi muncul karena kenaikan harga tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan keluarga. Dalam situasi seperti itu, mahasiswa dituntut lebih cermat membagi uang untuk kebutuhan primer, sekunder, dan akademik.
“Bahan pokok memang naik, apalagi sembako, berpengaruh sama pengeluaran karena kita mahasiswa banyak kebutuhan,” kata Audry.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Audry memilih membawa bekal dari rumah. Ia menilai cara itu lebih hemat dibanding membeli makanan di luar, terutama ketika kebutuhan kuliah juga terus bertambah.
Membawa bekal, menurut dia, menjadi salah satu langkah sederhana yang cukup efektif menekan pengeluaran harian.
Baik Ardil maupun Audry berharap kenaikan harga bahan pokok tidak berlangsung lama. Mereka menilai stabilisasi harga penting agar mahasiswa dapat menjalani perkuliahan tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan.
Di tengah tuntutan akademik yang tinggi, beban pengeluaran harian yang terus membengkak dikhawatirkan akan semakin menyulitkan mahasiswa dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan studi.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Audry Aisyah Pratiwi dan Ardil Samrusandi, mahasiswa profesi ners Unhas. (Unhas TV/Venny Septiani)






-300x167.webp)

