UNHAS.TV - Di balik tenangnya aliran Sungai Pute di Rammang-Rammang, ada kisah perjuangan seorang anak desa yang membuktikan bahwa pendidikan bisa mengubah jalan hidup.
Dialah Sunardi, sosok sederhana dari Desa Wisata Berua yang kini dikenal sebagai tenaga pendidik sekaligus pembawa perahu wisata kebanggaan kampungnya.
Desa Berua, yang terletak di kawasan karst Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, dikenal dengan bentang alamnya yang menawan.
Sungai yang membelah kampung menjadi nadi kehidupan warga. Bagi Sunardi, sungai ini bukan hanya jalur transportasi, tapi juga jalan menuju mimpi.
Sejak remaja, ia sudah terbiasa mengantarkan wisatawan dengan perahu miliknya. Para pelancong ingin menikmati keelokan tebing karst menjulang dan hutan nipah yang rimbun.
“Dulu, saya hanya berpikir bagaimana membantu orang tua mencari nafkah. Tapi lama-kelamaan saya sadar, perahu ini bisa jadi jalan menuju sekolah,” kenangnya.
Hasil dari membawa perahu menjadi penopang ekonomi keluarga, sekaligus biaya pendidikannya. Sambil mendayung, Sunardi menyimpan cita-cita besar: menuntaskan kuliah.
Dengan tekad kuat, ia menempuh pendidikan hingga berhasil menyandang gelar sarjana pendidikan. Capaian itu luar biasa, karena ia adalah satu-satunya dari kampungnya yang berhasil sampai ke bangku kuliah.
Antara Guru dan Pembawa Perahu
Kini, Sunardi telah menggapai cita-citanya sebagai tenaga pendidik di sekolah dasar. Meski begitu, ia tak pernah melupakan pekerjaan kesehariannya yang telah mengantarkannya meraih mimpi. “Kalau tidak ada perahu, mungkin saya tak bisa sekolah setinggi ini,” ucapnya lirih.
Di sela kesibukan mengajar, Sunardi tetap menjadi pemandu wisata di Sungai Rammang-Rammang. Ia percaya, menjaga perahu berarti menjaga ikatan dengan kampung halaman.
Bahkan, berkat kegigihannya, PLN menghadiahi Sunardi sebuah mesin perahu bertenaga listrik. Perahu itu kini setia menemaninya menelusuri sungai, lebih ramah lingkungan, dan menjadi simbol perubahan di desanya.
“Perahu listrik ini bukan hanya alat transportasi, tapi simbol masa depan. Bahwa kita bisa menjaga alam sekaligus mencari nafkah,” ujarnya.
Selain sebagai guru dan pemandu wisata, Sunardi tetap menjalankan perannya sebagai ayah. Setiap pagi, ia mengantarkan dua buah hatinya ke sekolah menggunakan perahu.
Pemandangan sederhana itu seakan melengkapi kisah perjalanannya: dari seorang pendayung tradisional menjadi guru yang menyalakan cahaya harapan bagi generasi baru di desanya.
Anak-anaknya pun kerap duduk tenang di kursi perahu hijau bertuliskan Electric Boat, sementara Sunardi mendayung atau menyalakan mesin listrik di buritan. Istrinya sesekali menemani, menjadikan perjalanan pagi di sungai kampung sebagai ritual penuh makna.
Simbol Harapan Desa Berua
Bagi warga Desa Berua, kisah Sunardi adalah teladan. Ia membuktikan bahwa mimpi bisa digapai meski berasal dari kampung kecil yang terpencil. Dari sungai yang sama, ia mendayung harapan—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anak didiknya.
Wisatawan yang singgah di Rammang-Rammang mungkin hanya melihat keindahan alam karst, tetapi bagi Sunardi, setiap tetes air sungai adalah saksi perjuangan. Ia mengajarkan bahwa pendidikan, kerja keras, dan cinta pada kampung halaman bisa berjalan beriringan.
Kini, setiap kali perahunya melaju di antara rimbun pohon nipah dan dinding karst, Sunardi bukan hanya mengantarkan penumpang menikmati keindahan alam.
Ia juga sedang mengantarkan pesan: bahwa mimpi tidak pernah berhenti mengalir, seperti sungai yang tak kenal lelah menuju laut.
(Andi Muhammad Syafrizal | Unhas.TV)