MAKASSAR, UNHAS.TV - Ratusan peneliti, akademisi, mahasiswa, praktisi, dan pemangku kepentingan dari dalam maupun luar negeri berkumpul di Universitas Hasanuddin dalam ajang The 13th National and 9th International Symposium on Marine and Fisheries atau SYMARFISH 2026.
Forum ilmiah internasional itu berlangsung di Auditorium Prof Dr M Natsir Nessa, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Sabtu (20/6/2026).
Simposium ini menjadi ruang pertukaran gagasan dan kolaborasi riset untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi biru berkelanjutan.
Tahun ini, SYMARFISH mengusung tema “Science-Driven Innovation in the Blue Economy: Achieving Food Security and the SDGs.” Kegiatan dibuka oleh Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc.
Forum tersebut juga menghadirkan perwakilan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Ir Zainal Arifin MSc yang juga peneliti ahli utama atau profesor riset di Pusat Riset Oseanografi BRIN, sebagai pembicara utama.
Selain pembicara dari Indonesia, SYMARFISH 2026 menghadirkan pakar internasional dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Australia, dan Tiongkok.
Mereka memaparkan hasil riset serta inovasi terbaru yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
Beragam isu strategis dibahas dalam forum ini. Topiknya meliputi keanekaragaman hayati perairan, ekologi dan konservasi, oseanografi dan perubahan iklim, bioteknologi kelautan dan perikanan, sosial ekonomi dan kebijakan, hingga pengembangan teknologi serta sistem informasi kelautan.
Pembahasan tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi sains sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pembangunan sektor kelautan.
Perkuat Jejaring Antarlembaga
Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa, mengatakan SYMARFISH bukan hanya agenda akademik tahunan, melainkan juga ruang untuk memperkuat jejaring antarlembaga.
Menurut dia, sektor kelautan dan perikanan membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, industri, dan mitra internasional.
Ia menyebut Unhas memiliki posisi penting dalam pengembangan riset kelautan. Dengan pengalaman panjang di kawasan timur Indonesia, Unhas dinilai dapat menjadi simpul pengetahuan untuk menjawab persoalan sumber daya laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil.
“Ini adalah annual symposium yang selalu dilakukan di Unhas, untuk yang ke-13 kalinya, dan selalu dihadiri oleh seluruh stakeholders, sahabat-sahabat dari perguruan tinggi di Indonesia, lembaga seperti BRIN, serta berbagai lembaga internasional,” kata Jamaluddin.
Lebih jauh, Jamaluddin berharap hasil simposium tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Ia menilai rekomendasi dari forum ini harus dapat memberi kontribusi nyata bagi pembangunan sektor kelautan dan perikanan nasional.
Menurut dia, sektor tersebut dapat menjadi sumber kesejahteraan, kekuatan ekonomi, sekaligus penopang ketahanan Indonesia.
“Saya yakin hasil dari simposium ini mudah-mudahan bisa berkontribusi nyata bagi pembangunan sektor kelautan dan perikanan, termasuk memberi rekomendasi bagaimana membawa sektor ini menjadi sumber kesejahteraan dan kekuatan,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Zainal Arifin menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan riset kelautan dunia.
Dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia menyimpan keragaman ekosistem yang tidak banyak dimiliki negara lain. Kondisi itu, menurut dia, dapat menjadi laboratorium alam bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Zainal mengatakan sebagian besar pulau di Indonesia masuk kategori pulau kecil. Ekosistem tersebut menyimpan potensi riset yang luas, mulai dari rumput laut, lamun, terumbu karang, hingga dampak perubahan iklim terhadap kawasan pesisir.
Karena itu, riset kelautan perlu diarahkan lebih kuat pada pengelolaan pulau-pulau kecil. “Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, dan hampir 90 persen merupakan pulau kecil. Ini tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan riset dan inovasi, terutama pada ekosistem pulau kecil,” kata Zainal.
Menurut Zainal, riset tentang pulau kecil tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga bagi banyak negara kepulauan lain.
Tekanan Besar Wilayah Pesisir
Ia menilai perubahan iklim telah memberi tekanan besar terhadap wilayah pesisir dan pulau kecil. Karena itu, kolaborasi peneliti dan akademisi lintas negara menjadi semakin penting.
Ia juga mengapresiasi posisi Unhas dalam mendorong riset dan inovasi kelautan, khususnya di kawasan Indonesia timur.
Menurut dia, kepemimpinan kampus yang memberi perhatian pada isu kelautan akan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan nasional.
SYMARFISH 2026 menegaskan kembali peran perguruan tinggi sebagai pusat produksi pengetahuan dan rekomendasi kebijakan.
Dalam konteks ekonomi biru, riset tidak lagi cukup berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi perlu terhubung dengan kebutuhan masyarakat pesisir, industri, dan pemerintah.
Melalui forum ini, Unhas mendorong agar pengembangan sektor kelautan dan perikanan dijalankan berbasis sains. Pendekatan tersebut dinilai penting agar pemanfaatan sumber daya laut tetap menjaga keberlanjutan ekosistem, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Penyelenggaraan SYMARFISH 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Isu ketahanan pangan, mitigasi perubahan iklim, perlindungan ekosistem laut, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi agenda yang saling terkait.
Dengan kehadiran para pakar dari berbagai negara, forum ini diharapkan memperluas kerja sama riset global. Unhas menempatkan SYMARFISH sebagai ruang strategis untuk menyatukan gagasan, mempertemukan kepentingan akademik dan kebijakan, serta mendorong inovasi kelautan bagi masa depan Indonesia.
(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)
SIMPOSIUM INTERNASIONAL - Peserta dan pemateri The 13th National and 9th International Symposium on Marine and Fisheries atau SYMARFISH 2026 berfoto Bersama di Auditorium Prof Dr M Natsir Nessa, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Sabtu (20/6/2026). (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)








