LIVERPOOL, UNHAS.TV - Liverpool kembali kehilangan angka penting di Liga Inggris. Bermain di Anfield, mereka harus puas dengan hasil imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur, di Stadion Anfield, Minggu (15/3/2026) malam.
Gol striker Spur, Richarlison mampu menyamakan kedudukan pada masa tambahan waktu. Hasil itu memperpanjang pola yang kian mengkhawatirkan yakni kegagalan Liverpool menjaga keunggulan hingga peluit akhir.
Gol telat Tottenham membuat tekanan terhadap Pelatih Arne Slot dan skuadnya semakin besar. Liverpool gagal memanfaatkan peluang untuk kembali menembus empat besar Liga Inggris.
Sebaliknya, mereka kini tetap tertahan di luar zona Liga Champions, dengan ancaman yang makin nyata terhadap target finis di papan atas.
Liverpool sempat tampak akan mengakhiri laga dengan kemenangan. Dominik Szoboszlai membawa tuan rumah unggul lewat tendangan bebas pada awal pertandingan.
Gol itu melanjutkan catatan impresif gelandang asal Hungaria tersebut dalam situasi bola mati. Musim ini, ia sudah mencetak empat gol langsung dari tendangan bebas di Liga Inggris—jumlah terbanyak yang pernah dicatat pemain Liverpool dalam satu musim liga.
Dalam sejarah kompetisi itu, hanya dua pemain yang mencatat lebih banyak gol tendangan bebas langsung dalam semusim.
Pemain itu David Beckham pada 2000-2001 dan Laurent Robert pada 2001-2002, masing-masing lima gol. Namun catatan individu Szoboszlai pada akhirnya tak cukup untuk menyelamatkan Liverpool dari kekecewaan kolektif.
Setelah pertandingan, Szoboszlai berbicara terus terang. Ia mengaku frustrasi melihat timnya kembali kebobolan pada menit-menit terakhir. Menurut dia, persoalan itu sudah terlalu sering berulang musim ini dan tak bisa lagi dianggap kebetulan.
Ia mengatakan Liverpool harus segera “bangun”. Jika penampilan seperti ini terus berlanjut, kata dia, timnya mungkin harus puas hanya tampil di UEFA Conference League musim depan.
Pernyataan itu mencerminkan keresahan yang kini tumbuh di ruang ganti: target Liga Champions yang sebelumnya terasa wajar kini berubah menjadi pertarungan yang rapuh.
Szoboszlai menilai Liverpool bermain baik pada babak pertama. Mereka menguasai permainan dan tidak memberi banyak kesempatan kepada Tottenham, selain satu-dua peluang dari bola udara.
Tetapi setelah turun minum, intensitas itu menurun. Liverpool tak lagi melakukan hal-hal yang sama seperti pada paruh pertama, dan kendali pertandingan perlahan lepas.
Pelatih Arne Slot mengakui hal serupa. Menurut dia, Liverpool seharusnya bisa menambah gol sebelum Tottenham menyamakan kedudukan. Ia menyebut timnya memiliki sejumlah peluang yang lebih baik daripada gol tendangan bebas Szoboszlai, tetapi gagal dikonversi.
Pada fase akhir pertandingan, laga menjadi lebih seimbang dan Tottenham memperoleh beberapa peluang dari pola serangan yang mirip dengan proses gol mereka.
Bagi Slot, hasil itu jelas terasa seperti dua poin yang hilang. Bermain di kandang sendiri, unggul selama sebagian besar pertandingan, lalu kebobolan pada detik-detik akhir, adalah skenario yang paling merugikan bagi tim yang sedang memburu tempat di Eropa.
Data musim ini memperlihatkan masalah Liverpool bukan sekadar kesialan sesaat. Mereka telah kebobolan delapan gol liga pada menit ke-90 atau setelahnya—angka tertinggi dalam satu musim.
Di Stadion Anfield, Liverpool juga sudah kehilangan tujuh poin dari posisi unggul, menyamai catatan buruk mereka pada musim 2016-2017.
Rangkaian kelengahan itu kini menjadi persoalan yang lebih besar daripada sekadar hasil satu pertandingan.
Liverpool bukan hanya gagal mengunci kemenangan, tetapi juga gagal menunjukkan ketenangan dan konsentrasi yang biasanya membedakan tim papan atas dari tim yang sekadar bersaing.
Szoboszlai juga menanggapi reaksi suporter di Anfield. Ia mengatakan tidak mendengar jelas siulan kekecewaan, tetapi memahami perasaan publik tuan rumah.
Menurut dia, performa tim memang belum sesuai harapan. Namun ia meminta para pendukung tetap berdiri di belakang tim, seperti ketika Liverpool sukses musim lalu dan memastikan gelar lebih awal. Dalam masa sulit seperti sekarang, kata dia, skuad justru harus tetap bersatu dan berjuang bersama.
Slot, di sisi lain, tetap melihat satu sisi positif dari pertandingan itu, yakni kualitas Szoboszlai dalam eksekusi bola mati.
Ia memuji gol tendangan bebas pemainnya sebagai momen berkualitas tinggi, sekaligus mengingatkan bahwa Liverpool sebenarnya menciptakan peluang-peluang lain yang lebih terbuka.
Masalahnya, pujian individu tidak menghapus kegagalan kolektif. Dengan jadwal kompetisi yang makin menegang, Liverpool kini menghadapi ujian yang lebih mendasar. Bukan hanya bagaimana mencetak gol, melainkan bagaimana menjaga keunggulan, menahan tekanan, dan memulihkan keyakinan.
Jika tidak, peringatan Szoboszlai bisa berubah dari keluhan emosional menjadi kenyataan pahit di akhir musim. (*)
TENDANGAN BEBAS - Gelandang Liverpool Dominik Szoboszlai mencetak gol lewat tendangan bebas ke gawang Spurs, Minggu (15/3/2026) malam. (The Sun/Getty)








